Catatan Dari Pendekar Tongkat Emas

Baru kemarin saya menonton film Pendekar Tongkat Emas. Sebenarnya saya berharap banyak dari film dengan anggaran 20 milyar (katanya) ini. “Saya tidak kecewa”, kata yang sering digunakan Pak Raden untuk mengomentari lukisan anak yang dianggapnya tidak bagus. Artinya saya sangat menghargai karya dari Ifa Isfansyah ini karena karyanya bagus dan usahnya besar, walaupun menurut saya masih kurang hasilnya. Ini pengalaman dari seorang penonton film dan bukan komentar dari seorang kritikus film.

Daftar pemeran di film ini menunjukkan pemeranan peran dalam film ini akan bagus dan memang saya melihatnya demikian. Para pemeran dapat memerankan perannya dengan baik. Karakter yang licik, yang ambisius, yang lugu, yang yakin, yang bijaksana, yang berkemampuan dalam sunyi, dll dapat ditampilkan dengan baik oleh para pemeran, tidak terlihat di buat-buat. Senyuman Tara terlihat licik, tampang Reza ambisius, Eva terlihat lugu dalam tulus, Arif terlihat yakin, Cempaka dan para Datuk terlihat bijak, dan Elang memang terlihat berkemampuan dalam sunyi (seperti Rangga dalam AADC🙂 ).

Alur cerita memang sederhana, tetapi tetap menampilkan kompleksitas. Bagi tipe penonton yang tidak fokus memperhatikan film sangat mungkin akan kaget dengan alur ceritanya. Namun jika sering menonton film atau serial laga dan fokus perhatian pada film tidak akan begitu kaget atau bahkan bisa mengira dengan jalan ceritanya. Karena selain alurnya yang logis, tidak ada loncatan cerita yang terlalu berjurang.

Latar pengambilan gambar bagus sekali. Hobbit, LOTR, dan The Last Samurai, mampu tertandingi. Alam Indonesia memang tak kalah hebat dari alam New Zealand atau Jepang. Tentu saja demikian karena mereka adalah satu alam. Pengambilan gambar yang meluas, memperlihatkan manusia yang kerdil di alam luas, pemandangan gunung yang bertaut dengan hutan lalu laut, dinding jurang yang berpola apik, dan berbagai gambaran alam lain, sangat memanjankan mata dengan keindahan. Bagi pencinta lukisan realis alam atau yang senang memandangi alam semesta tentu akan suka dengan gambar-gambar yang disajikan.

Budaya yang ditampilkan cukup mampu menampilkan sebuah dunia yang lain dari dunia kita, yaitu dunia persilatan. Tetapi bagi yang memiliki pengetahuan yang cukup, kombinasi alam dan budaya yang dipertontonkan akan mengingatkan dengan masyarakat Indonesia timur, mungkin daerah NTT atau NTB. Ingatan ini kadang mengacaukan fantasi tentang dunia persilatan.

Nilai plus lain dari segi tata artisitik, budaya yang ditampilkan terlihat natural dan bukan suatu buatan untuk kepentingan film. Saya membandingkan serial Borobudur dengan serial Kian Santang. Serial Borobudur itu baju, bangunan, alat makan, dan semua budaya ciptanya terlihat alami memang di zaman Dinasti Sailendra. Sedangkan budaya cipta dalam serial Kian Santang terlihat merupakan buatan sehingga pemirsa akan selalu merasa adegan yang ditampilkan adalah tayangan pemeranan/drama dan bukan gambaran masa lalu yang disuguhkan. Saya mengacungkan jempol pada penata seni, penata baju, penata set (rumah dan semua pernak-pernik kehidupan) dalam film Pendekar Tongkat Emas.

Beberapa adegan atau scene mengingatkan pada beberapa film lain yang pernah saya tonton. Bukan hanya mencontoh pola tetapi saya melihat kemiripan penghayatan dan rasa. Mencontoh scene dapat terlihat pada pengambilan gambar meluas dengan manusia kecil yang sering muncul pada film-film kolosal misal The Hobbit atau LOTR. Namun, kemiripan itu tidak begitu terasa. Adegan Cempaka gugur serta adegan Dara dan Elang berlatih sangat terasa mirip dan mengingatkan akan adegan dalam The Last Samurai.

Adengan Cempaka gugur mengingatkan pada adegan Katsumoto gugur. Adegan Elang dan Dara berlatih dalam siluet di depan mentari mengingatkan akan adegan Nathan Algren berlatih samurai. Saya tidak mengatakan mencontoh, tetapi saya merasakan ada kemiripan penghayatan akan kematian guru dalam sedih, kebanggaan, dan kebesaran, serta penghayatan akan semangat dan kekhusyukan tokoh utama dalam berlatih. Kemiripan ini semakin terasa dengan kemiripan music latar pada dua adegan tersebut sangat mirip dengan musik latar pada The Last Samurai, kususnya pada adegan Cempaka gugur yang saya rasa musiknya sangat mirip dengan music latar Katsumoto gugur.

Tidak hanya pada dua adegan tersebut, pada beberapa adegan lain, saya merasa lagu latar film Pendekar Tongkat Emas mirip sekali dengan lagu latar film The Last Samurai, khususnya Spectres in The Fog dN The Way of Sword. Hal lain yang saya rasakan saat mendengar musik latarnya adalah music latar yang cenderung bergaya film-film Hollywood. Walaupun demikian, saya tetap memberikan jempol karena music latarnya enak didengar, indah, pas, dan dirasakan dibuat dengan sungguh-sungguh. Musik latarnya, walaupun belum maksimal, telah berusaha juga mengarusutamakan unsur klasik Indonesia dengan tetabuhan dan music vokalnya.

Catatan untuk scene, ada satu bagian yang tidak logis, tentang pertarungan Elang dan Biru yang berloncatan dari Gelanggang ke bekas Padepokan Cempaka. Dara memang mengajak Gerhana untuk bertarung di bekas perguruan mereka, tetapi Elang dan Biru? Namun seluruh scene lain terlihat sambung dan bermakna.

Karya seni katanya perlu ada amanatnya. Amanat dari film ini adalah dunia persilatan tidak akan sunyi dari bahaya, demikian juga kehidupan. Dalam kehidupan kita tidak bisa bertumpu pada anak kandung. Anak ideologis yang ditempa secara benar adalah tumpuan pewarisan kehidupan. Tempaan yang terbaik justru adalah dari lingkungan dengan membiarkan bebas. Namun tidak semua emas yang dipungut dan ditempa akan menjadi penghias badan. Ada yang dapat juga mendatangkan bencana. Itulah kehidupan. Abadinya tidak kekal.
Karena saya suka mencari-cari perlambang, selama film berlangsung, terkadang berfikir tentang perlambang yang disajikan kepada penonton. Biru adalah lambang sebuah kekuasaan yang berkoalisi dengan Gerhana yang menutup bulan untuk menguasai dunia persilatan. Langkah mereka dihadang oleh Dara (h? yang artinya merah?) bersama dengan Elang. Dara ini dipungut oleh Cempaka perlambang nusantara kala lama dan diasuhnya seorang. Sementara Elang adalah anak Naga perlambang tiongkok bersama dengan Cempaka. Tapi paragraph terhakhir ini gawur. Saya bisa dituduh aslong atau fungsi pikir terganggu. Jadi tidak usah dihiraukan.

NB: Terimakasih kepada para sponsor🙂

Catatan Dari Pendekar Tongkat Emas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s