Pertanyaan Bodoh Berbuah Tidak Bodoh (I)

Dulusaya berfikiran NU dan Muhammadiyah berlawanan. Saya anggota Muhammadiyah tetapi saya juga menerima NU. Ayah saya aktivis NU (dulu) dan nenek saya seorang aktivis Aisyiyah. Tapi akhir-akhir ini saya mendengar cerita bahwa Muhammadiyah dan NU itu sama, didirikan dan dibesarkan oleh para kiyai. Para kiyai tersebut seguru dan tak jarang senanasab. Obrolan kecil saya dengan seorang anggota Aisyiyah yang paham seluk beluk perkembangan Islam di Yogyakarta dan sekitarnya semakin memperkuat kesan itu. Saya pikir tidak ada salahnya kisah kecil tersebut dibagi sekadar menbambah wawasan saja.

Ceritanya tentang Mbah Dalhar. Kita Googling Mbah Dalhar, pasti banyak blog dari rekan-rekan nahdhliyin tentang kemuliaan beliau rahimahulloh. Awalnya saat bertugas di Muntilan saya mengenal sosok Mbah Mad yang dihormati penduduk sak-Muntilan dan sekitarnya. Dari postingan rekan nahdliyin yang jadi teman FB, saya tahu ternyata ayah Mbah Mad yaitu Mbah Dalhar juga adalah kiyai yang dihormati. Saat berinteraksi dengan penduduk Giriloyo, Imogiri, saya kembali mendengar tentang Mbah Dalhar sebagai guru dari Kiyai Marzuqi yang menurut penduduk tersebut adalah seorang da’i yang dihormati di wilayah selatan Yogyakarta, yaitu di Bantul dan Gunung Kidul. “Wow, ternyata Mbah Dalhar ini hebat.” pikir saya saat itu. Lagi, saya mendengar karomah Mbah Dalhar dari seorang keluarga yang berasal dari Brosot, Purworejo, saat ruwahan di rumah Pak Lik. Ceritanya tentang Mbah Dalhar yang menyicipi akhirat (? wallohu a’lam). “Wow, ternyata pengaruh Mbah Dalhar ini memang luas di selatan Jawa Tengah” pikir saya waktu itu.

Kemudian saya menginsyafi derajat Mbah Dalhar yang mulia ini. Tetapi ada satu hal yang mengganggu saya. Saat melihat foto Mbah Dalhar dari FB teman nahdliyin dulu, saya baru saja menonton film Sang Pencerah. Di film tersebut terdapat adegan seorang kiyai dari Magelang menuduh Kiyai Dahlan dengan tuduhan kufur karena menggunakan peralatan dan tata cara orang kafir yaitu Kompeni. Seketika saya berfikiran, “Apakah kiyai yang ada dalam kisah tersebut adalah Mbah Dalhar?” Tetapi hati saya sangsi juga karena secara emosi saya telah menginsyafi juga kemuliaan derajat Mbah Dalhar. InsyaAlloh beliau adalah termasuk orang yang dimuliakan Alloh, tidaklah mungkin beliau kemudian melakukan takfir. Pertanyaan saya kemudian hanya tenggelam dalam pikiran bawah sadar.

Dalam suatu pertemuan dengan seorang anggota Aisyiyah yang banyak tahu tentang seluk beluk perkembangan Islam di Yogyakarta dan sekitarnya, saya mendengar beliau dengan fasih menyebutkan hubungan antar kiyai. Waktu itu, ceritanya tentang Pondok Pabelan dan hubungannya dengan beberapa pondok yang lain di Jawa. Beliaupun masih terhubung dengan beberapa kiyai atau nyai dari pondok-pondok tersebut yang saya lupa namanya selain Pabelan. Saya jadi berfikir, apakah ibu tersebut paham tentang Mbah Dalhar. Timbul kembali pertanyaan tentang kiyai dari Magelang yang melakukan takfir pada Kiyai Dahlan.

Saya mengemukakan pertanyaan saya. Jawaban ibu tersebut adalah beliau merasa tidak mungkin Mbah Dalhar yang ada dalam kisah tentang kiyai Magelang tersebut. Mbah Dalhar, menurut ibu tersebut, pengetahuan keagamaannya luas dan dalam. Pandangannya juga luas, artinya bisa menerima perbedaan. Sehingga tidak mungkin Kiyai Dalhar yang ada dalam kisah tersebut. Menurut ibu tersebut, kiyai dalam kisah tersebut adalah dari Magelang, dan saat itu di Magelang sendiri sudah banyak pondok pesantren.

Btw, setelah saya cek kembali, memang agaknya Mbah Dalhar generasinya setelah Kiyai Dahlan sehingga memang ternyata pertanyaan saya adalah pertanyaan yang bodoh dan tidak beralasanšŸ™‚ Tapi pertanyaan bodoh tersebut membawa hikmah saya mendengar sendiri kisah kedekatan hubungan antara Muhammadiyah dan NU.

Ibu anggota Aisyiyah tersebut melanjutkan ceritanya, beliau teringat saat lebaran, saat masih kecil dahulu beliau diajak kakak (atau budhe?) ke Pondok Mbah Dalhar. Saat datang ke pondok tersebut, Mbah Dalhar menghormati beliau berdua. Beliau berdua dipersilahkan ke suatu kamar dan dari balik tirai Mbah Dalhar berbincang sebentar dengan kakak (atau budhe?) ibu tersebut. Setelah itu, beliau berdua disajikan makan dan dipersilahkan makan. Ibu tersebut, yang masih kecil saat itu bertanya-tanya karena mereka ditempatkan di suatu ruang khusus sementara ibu kecil tersebut melihat banyak tetamu Mbah Dalhar yang disambut dan suguh di luar/pendopo (?).

Pikiran saya pertama adalah “Mbah Dalhar memang ulama’ yang wara sehingga menjaga adab dan berbincang dengan tamu perempuan dari balik hijab, subhanalloh” Kemudian saya jadi bertanya juga dalam hati, mengapa gerangan kakak (atau budhe?) ibu tersebut ditempatkan dalam ruangan khusus? Seperti Mbah Dalhar rahimahulloh menghormatinya?

Jawabannya insyaalloh di bagian kedua ya. Soalnya waktunya tidak mencukupi. Wallohu a’lam bishshawab.

Pertanyaan Bodoh Berbuah Tidak Bodoh (I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s