Kata-kata Singkat

Katanya, pada mulanya adalah kata. Maksudnya pada mulanya adalah titah “Jadilah!”. Jadi, yang pertama adalah kata. Ini adalah tanda bahwa kata itu hal yang penting. Manusia berkata-kata dengan bahasa isyarat lalu menjadi simbol dan itu menjadikan peradaban. Hewan berkata-kata, srigala berkata-kata, “What the fox say?” sampai menjadi lagu.

Saat capres-capresan, tentang capresan lagi, kata-kata menjadi berhamburan, karena orang pada mengumbar yang baik dan yang buruk. Bertemu dengan kata-kata seorang teman yang menelaah tentang kata-kata dalam debat lalu memutuskan bahwa nomor 2 lebih layak dipilih. Lalu ada juga kata-kata Eep Saefulloh Fatah yang menjadi precipitating event terhadap sindroma mengumbar kata-kata saya. Dan kritik atas kata-kata teman yang memutuskan memilih nomor 2 atas telaah kata-kata menjadi tidak tertahankan untuk keluar.

Saat membaca kata-kata teman yang menelaah kata-kata tersebut saya langsung menolak dan mencermati tiap katanya. Kenapa? Karena walaupun belum menentukan filihan saya cenderung ada simpati pada Prabowo. Kenapa? Karena lawannya santun. Ehem. Misalnya saja saat seorang pendukung 2 yang menshare bagaimana Pak Jokowi marah dalam deklarasi, mengatakan bohong semua, lalu Pak Jokowi adalah orang jujur dan yang di sisi lain adalah tikus yang cerdas, dst. Cluenya ada pada kata yang cerdas, dst tersebut, jelas maksudnya siapa, seperti Ardhi Massardi saat membawa kerbau bertuliskan SBY. Jadi, tulisan itu santun memuji Pak Jokowi tetapi kemudian mata satunya lagi menusuk secara halus ke lawan. Seperi zulfaqar pedang Ali yang bermata dua. Padahal katanya santun dan tidak menuduh, tetapi…. Jadi mengingatkan saya tentang politik santun yang sudah ditunjukkan seorang politisi negeri ini. Ngeri rasanya. (Ini saya sedang melakukan santun ber-zulfaqar).

Balik lagi ke kritik. Saya menjadi awas tentang analisa teman atas kata-kata orang yang saya cukup simpati. Karena saya simpati, saya menjadi awas. Ini cluenya. Saat ada orang yang menjelekkan orang yang kita senangi kita akan menjadi lebih awas. Bahkan jika kata-kata itu bersifat umum atau tidak menyerang orang yang kita sayangi. Kenapa? Karena ada segitiga yang saya lupa namanya. Prinsipnya adalah the enemy of my friend is my enemy. Jika saya suka A lalu ada kabar dari lawan A yang isinya netral saya akan tetap waspada karena lawan A sudah menjadi enemy sehingga kehadirannya saja sudah dirasakan sebagai stimulus berbahaya. Saat menghadapi bahaya kita menjadi lebih awas. Sedangkan kabar dari A saya tidak akan telaah karena kehadiran A dirasakan tidak sebagai bahaya tetapi stimulus normal bahkan disukai. Sehingga kata-katanya tidak terawasi. Maka, jika kita sudah mendukung salah satu capres saya pikir akan sulit untuk menelaah kata-katanya dan menelaah kata-kata lawannya. Selain karena segitiga yang saya tidak paham namanya tadi juga karena secara teori manusia itu sulit imparsial, adil aja sulit apalagi imparsial.

Makanya, disebutkan, “hati-hati dengan perasangka sebagiannya adalah dosa”….intermezzo.

Nah, terus saat Bang Eep Saefulloh Fatah bebicara, karena beliau di pihak Pak Jokowi, saya menjadi lebih awas dan saya menelaah kata-katanya di twitter. Tidak usah saya tampilkan sumbernya karena saya memang tidak berniap promosi apa-apa, tidak ingin orang percaya pada yang saya tulis, tidak ingin membuktikan kepada siapa-siapa, hanya berniat menulis saja. Kata-kata Bang Eep Saefulloh Fatah di twitternya adalah “11. Kenapa sy habiskan waktu utk ngetweet ini? Karena di antara Anda ada yg mnuduh sy berbohong. Mohon diingat, sklpn Anda selalu gunakan…” dan lanjutannya “12….kebohongan sbg cara kampanye Anda, insya Allah sy tak akan menirunya. Mari berkampanye dengan beradab. Jangan lecehkan diri sendiri.”

Mari kita telaah. “Kenapa sy habiskan waktu utk ngetweet ini?” kata lanjutannya adalah alasan kenapa Bang Eep mencoba menjelaskan tentang #KertasItu. “Karena di antara Anda ada yang mnuduh sy berbohong.” Jadi, kata-kata di tweet 11 dan 12 ditujukan kepada yang menuduh Bang Eep berbohong tentang doa Nabi Musa dari ibunda Pak Jokowi. Berarti saya juga termasuk. Karena saya juga menuduh (dalam hati) setelah lihat gambar di twit Bang Eep dan gambar dari rekaman acara debat, bahwa Bang Eep tidak jujur saat mentweet bahwa “kertas yang nongol” adalah kertas doa titipan Ibu Pak Jokowi. Tapi ada bertentangan juga dalam pikiran saya karena setahu saya Bang Eep orang baik (walaupun saya kecewa degan perceraiannya,😦 ). Saya saat itu haya menghela nafas dan mengatakan dalam hati mungkin ada hidup yang tidak ofisial.😦

Kata selanjutnya ini yang buat saya tersinggung. “Mohon diingat, sklpn Anda selalu gunakan…” kata ini jelas ditujukan kepada orang yang menuduh Bang Eep berbohong termasuk saya🙂. Jadi, menurut Bang Eep, saya selalu menggunakan. menggunakan apa? lanjutannya “kebohongan adalah kampanye Anda”. Menurut Bang Eep, saya selalu bohong dalam kampanye saya. Di sini saya tersinggung karena saya termasuk orang yang dituduh berbohong? Saya kampanye Raja Abdullah bin Abdul Aziz tetapi tidak berbohong. Terusannya, “insya Allah sy tak akan menirunya.” menunjukkan bahwa adalah Bang Eep adalah orang bersih. Ini seperti kampanye di kaskus tadi, pedang zilfaqar bermata dua, menusuk lawan meninggikan diri. Lalu ajakan kampanye beradab. Ini seperti klaim bahwa pihak lawan tidak beradab. Seperti klaim bahwa yang mulai pakai baju putih-putih adalah pihaknya dan yang lain adalah pengekor. Ini klaim.

Tapi dugaan pedang zulfaqar itu bisa ditolak, karena memang konteks twit ini adalah pembelaan diri. Jadi, dituduh sehingga perlu membuktikan bahwa dirinya adalah bersih. Sebenarnya juga kalau kita lihat konteksnya dengan kata-kata Eep di twitter sendiri setelah 12 tweetnya tentang #KertasItu. Jadi, kita bisa melihat konteks kata-kata tweet 11 dan 12 itu ditujukan kepada yang menuduh Eep lewat tweet di twitter. Jadi saya tidak termasuk yang disuruh mengingat dan Bang Eep juga tidak menjadi orang yang gebyah uyah menuduh orang lain sebagai kampanye bohong. 

Jadi sebenarnya melihat konteks itu penting. Ini yang disayangkan, seringkali orang memotong kata-kata orang lain lalu diambil sebagai pendukung pendapatnya. Misalnya saja pada kampanye pendukung Pak Jokowi bahwa “Habibie sebut hanya Jokowi yang pantas menjadi presiden” dalam Mata Najwa. Setelah kita nonton (saya nonton lagi biar tidak salah kutip😦 ) ternyata yang dimaksud adalah Habibie ditanya Najwa Shihab tentang presiden pilihannya, Habibie mengatakan kriteria. Sayangnya di situ tidak ditunjukkan foto Anies dan Mahfud😦 padahal Anies hadir…. Jadi Habibie bukan menyebut “cuma”. Tapi Habibie menyampaikan kriteria, dari orang-orang yang disodorkan Najwa hanya Pak Jokowi yang masuk. Namun, yang perlu diperhatikan urusan umur itu ada alasan juga. Tapi ya, karena sudah mau kampanye, ada oknum, saya tidak menyatakan ini Pak Jokowi tapi oknum, yang memelintir kata-kata.

Jadi konteks itu penting, mengingatkan juga untuk kita, janganlah orang yang melakukan klarifikasi dikatakan sebagai orang yang membuat-buat tuduhan. Bisa jadi orang itu curiga lalu mengklarifikasi. Kalau tidak diklarifikasi, kan malah akan terus dituduh berbohong. Atau ada pemahaman terpendam bahwa ada kehidupan tidak ofisial.

Kata-kata Singkat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s