Sukarno, Paskibraka, dan Pencitraan

Ehem. Setelah debat capres dan cawapres, saya membaca di laman akun media sosial seorang atau dua pendukung Jokowi-JK (setting pilpres 2014) tentang Prabowo Hatta yang jadi paskibraka. Saya tanya, kenapa paskibraka? Tidak ada jawaban. Bosan menunggu saya melakukan loncat penyimpulan, jumping conclusion, bahwa olok-olok (menurut saya itu olok-olok sama seperti tagline JKW4DKI) paskibraka itu muncul dari seragam kampanye Prabowo. Baju putih-putih dan peci.

Sejak awal Prabowo menggunakan baju putih-putih dan peci sebagai seragam kampanyenya, dengan lengan panjang dan lengan pendeknya, saya jadi teringat sebuah cerita di buku yang dikarang oleh ajudan terakhir Pak atau Bung Karno. Saya lupa siapa ajudan itu atau apa judul bukunya. Dituliskan, Bung Karno pernah mengatakan kepada ajudannya itu, bahwa ia menghindari menggunakan pakaian adat Jawa agar tidak menonjolkan satu suku dari Bangsa Indonesia. Bangsa yang terdiri dari berbagai suku ini, menurut Sukarno, perlu memunculkan identitas yang di atas identitas-identitas suku di dalamnya termasuk dalam berpakaian. Sukarno mencoba memunculkan identitas itu dengan mengenakan selalu baju kemeja putih khasnya. Waktu membaca itu saya tidak jelas, baju kemeja putih khas Bung Karno yang mana yang dimaksudkan. Karena dalam buku tersebut tidak disebutkan salah satu. Padahal ada beberapa kemeja putih yang sering dikenakan Bung Karno.

Bisa jadi kemeja yang dimaksud yang demikian,

Apakah Bung sedang berfikir, atau…

Atau demikian,

Atau demikian,

Mungkin lebih tepat yang ini karena ini sering dikenakan Bung Karno setelah menjadi Presiden RI. Selain kemeja putih, hal yang coba dimunculkan Bung Karno adalah peci hitam. Peci hitam juga disebutkan Bung Karno kepada ajudannya tersebut sebagai bagian dari identitas nasional yang coba dimunculkan beliau. Pemunculan peci hitam (songkok) sebagai identitas nasional juga diceritakan Bung Karno pada Cindy Adams di Penyambung Lidah Rakyat (Rijjal Mumazziq).

Nah, ketika melihat baju Prabowo Hatta itu saya teringat dengan cerita identitas nasional yang coba dimunculkan Bung Karno. Ingatan itu juga muncul dari pilihan tema di awal deklarasi, di rumah Polonia yang katanya bekas rumah Bung Karno, dengan selogan Prabowo Hatta seperti hendak membangkitkan Sukarno Hatta. Tetapi orang-orang yang mungkin belum pernah baca Penyambung Lidah Rakyat atau tulisan mantan ajudan Bung Karno tidak bisa terhubung dengan informasi itu sehingga muncul gambaran paskibraka. Tapi itu hanya lompatan penyimpulan saya. Sama seperti saat saya menyimpulkan Jokowi bukannya tidak ada kesamaan dengan Bung Karno.

Kesamaan itu adalah dibesarkan oleh pencitraan. Saya tidak mengatakan bahwa Prabowo tidak melakukan pencitraan. Pemilihan rumah, baju, dan tema lain dari Prabowo juga pencitraan, mencitrakan diri senada dengan Sukarno. Tetapi, yang lebih kencang didera isu pencitraan kan adalah Jokowi. Dan memang menurut saya, Jokowi dibesarkan oleh pencitraan (bukan berarti terus prestasinya nol besar loh ya….). Sukarno sebagai orang yang lebih dahulu masuk ke politik juga dibesarkan oleh pencitraan. Mungkin bahasanya kurang tepat. Lebih baik saya deskripsikan saja….

Sepemahaman saya tentang sejarah Bung Karno. Bung Karno muda sudah terjun ke politik dan jiwanya yang merdeka melakukan pembelaan atas Indonesia merdeka. Lalu Bung dibuang ke Ende, lalu ke Bengkulu. Terutama di Bengkulu Bung hidup lama, tetapi kisahnya hanya dua tiga halaman saja di buku Penjambung Lidah Rakjat😦 Saya berburuk sangka, ada sesuatu yang tidak pas di sana dengan konsep diri Bung sebagai jiwa merdeka Bapak Bangsa.

Anyway, lalu Jepang datang. Jepang ini datang dengan mendekati pribumi, kalangan Islam dan umum, dengan MIAI dan PUTERA. Bung sebagai ketua PUTERA berkeleling Nusantara memobilisasi rakyat untuk melakukan kerja mendukung Jepang, yang sering disebut sebagai Romusa. Ada fotonya, ini mulai masuk pencitraan🙂 ini…

Perhatikanlah fotonya, yang diminta bekerja jadi latar dan bukan di depan orang yang meminta, menurut analisis saya (yang suka lompat penyimpulan) itu adalah foto moda pencitraan. Nah, dengan berkeliling nusantara, berpidato di hadapan rakyat untuk menggerakkan mereka melakukan romusha. Menurut analisis saya yang juga lompatan penyimpulan, inilah momentum Bung menjadi terkenal seantero Indonesia dan mewakili bangsa di nusantara ini yaitu Bangsa Indonesia. Sebelumnya Bung Karno sudah terkenal sebagai tokoh pergerakan nasional, namun sama saja seperti Hatta, Sjahrir, Moh. Yamin, dll. Dengan keliling nusantara itulah Bung dikenal rakyat.

Hal ini saya lihat ada di Jokowi. Pencitraan itu yang melambungkan Jokowi melebihi tokoh yang sebenarnya setara dengan beliau, misal saja Pak HZ, atau Bu Risma. Pencitraan Jokowi melambungkan dia dan menjadikannya dikenal rakyat. Ini sama sekali saya tidak merendahkan Jokowi, saya juga tidak merendahkan Sukarno. FYI, saya adalah penggemar Sukarno sejak kecil, posternya aseli dari tahun 60an terpampang di kamar saya sebagai warisan yang diamankan nenek saya dari mahasiswa yang menyerbu rumahnya karena kakek adalah PNI di tahun 65-an dan di usia belasan saya sudah membaca tidak tamat Penjambung Lidah Rakjat.

Jadi, sama sekali saya tidak merendahkan Sukarno dengan pencitraan ini. Menurut saya, Sukarno walaupun melambung dengan pencitraan, memang memiliki jiwa merdeka, niat merdeka, bekerja untuk kemerdekaan bangsa, dan juga memiliki jiwa kepemimpinan. Maka, setelah dipilih menjadi presiden,  beliau mampu bersikap mengarahkan bangsa. Walaupun di akhir masa pemerintahannya ekonomi memburuk. Seorang dari tahun 65an berkata kepada saya, “Kita disuruh makan revolusi”, karena tidak ada beras.

Jokowi di awali dengan memimpin Solo. Setelah jadi Gubernur DKI juga terlihat mampu bertindak, kartu yang dijanjikan jadi, berbagai program juga dijalankan. Artinya, pencitraan itu ada, tapi kerja juga ada.

Anyway, tulisan yang tanpa makna dan penuh peloncatan simpulan ini akan ditutup dengan cerita yang saya mengenai kenapa Sukarno tidak bisa mengambil langkah terhadap PKI. Sukarno menyatakan bahwa mereka juga adalah anak-anaknya. Selain itu Sukarno tidak bisa menumpahkan darah anak bangsa. Lalu beliaupun dilengserkan. Sukarno mengajarkan bahwa tidak baik anak bangsa itu saling gontok-gontokkan. Apalagi hanya karena kursi presiden. Sukarno menyatakan sendiri bahwa kekuasaan presiden itu bukan tidak ada batasnya, ia dibatasi kehendak rakyat dan utamanya kehendak Tuhan YME. Maksud saya, janganlah karena pilpres ini kita menjadi tukang plintir kata-kata atau tukang fitnah untuk mendukung salah satu capres, karena ya itu, ada batasnya. Wallohu a’lam.

Sukarno, Paskibraka, dan Pencitraan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s