Capres-Capresan

Saya tidak memberi judul Copras-Capres karena itu adalah kata-kata Pak Jokowi sehingga mengatakan itu akan mengaitkan pikiran dengan Jokowi dan artinya saya mengkampanyekan Pak Jokowi. Saya tidak benci ataupun antipati terhadap Pak Jokowi, tetapi saya tidak setuju dengan sikapnya yang maju padahal sudah bilang akan memimpin Jakarta 5 tahun ke depan. Selain itu, saya netral saja terhadap Pak Jokowi (JKW) ini. Kemudian masuk Surya Paloh ke dalam koalisi. Saya dari awal tidak suka dengan Surya Paloh. Pertama, tahun 2004 itu Metro TV sudah diperingatkan KPI karena memajang pidato Surya Paloh 5 menit lebih dari politisi lain. Eh, kok pada Munas (?) Golkar di Batam, Metro TV berteriak-teriak bahwa TV One sudah digunakan sebagai alat politik karena saat itu Metro TV tidak bisa masuk ke area Munas. Padahal, yang jadi alat politik dahulu siapa? Alat teriak alat adalah alat sealat-alatnya. :p Kedua, saat mendirikan Nasdem saya dengar sendiri bahwa Surya Paloh menyatakan ormasnya tidak akan menjadi partai dan kita tahu akhirnya. Maka, saya menjadi antipati pada Surya Paloh. Masuknya Surya Paloh dalam koalisi Jokowi menjadikan saya mulai tidak suka.

Kemudian masuk suara JK. Saat sebelum pileg tapi JKW sudah ditetapkan sebagai capres PDIP, sudah berhembus kabar JK akan akan menjadi cawapres JKW. Saya sekeitka teringat twit dari @triomacan2000 tentang majunya JKW ke DKI atas sokongan JK. Saya merasa bahwa JK yang akan jadi cawapres untuk JKW. Namun terjadi dinamika dan akhirnya JK yang menjadi cawapres. Pada pemilu 2009 saya memilih JK dan di awal saat ada isu JK akan menjadi cawapres JKW, saya sudah berkomentar “wah, berarti saya mesti milih JKW nih :(” Kenapa kecewa? Karena saya kurang suka saja. Kalau ada Anies Baswedan (Ba Suweidan) atau Mahfud MD atau Dahlan Iskan maju, tentu akan saya pilih pikir saya saat itu. Saat itu harapan untuk tiga orang itu masih ada karena Demokrat belum terlihat kalah dan suara partai-partai Islam belum jelas ke mana.

Saat Demokrat 10 % itu saya masih berharap Demokrat akan memajukan Dahlan Iskan. Saya merasakan saat Dahlan jadi dirut PLN, mati lampu turun. Juga kiprahnya di BUMN bagus, misal membangkitkan pabrik gula, itu impian saya🙂. Ternyata terlalu takut mengambil langkah😦 payah benar dah!

Kekecewaan itu juga muncul karena pikiran saya sudah diliputi berita tentang JK yang membawa JKW ke JKT menurut @triomacan2000. Berarti itu….ehem, ada hal yang official dalam hidup dan ada yang tidak official begitu kata dosenku, Prof. Bo.

Ternyata, Anies dan Dahlan bergabung ke JKW. Mahfud bergabung ke Prabowo, skornya menjadi 2:1 dan saya merasa harus memilih JKW. 3:1 bahkan, karena JKW punya @Pak_JK juga, tapi saya sebut 2:1 karena saat melihat Anies bergabung itu saya teringat Hamid Awalludin. Jadi jubir lalu ke Rusia with love…, coba Anies dapat posisi ketua kampanyenya akan lebih santun😦 its impossible🙂 Saya cukup kecewa sehari setelah JKW menyatakan tidak akan menyerang melainkan adu visi misi, ternyata beliau terbang ke lumpur. Ini serangan yang menohok…😦 Saya jadi teringat seorang tokoh bangsa ini yang santun tetapi ada udang di balik kelambu.

Apakah ini akan jadi babak II penyingkiran? Entahlah….(repressi). Anyway, skor 2:1 ini menjadikan saya condong ke salah satu pasangan :p

Nah, kok Pak HZ masuk ke Prabowo-Hatta.., saya sebagai orang yang tinggal di Yogyakarta merasakan aksi Bapak ini, penertiban Klithikan, pemindahan pasar sapi entah ke mana (?) tapi tidak rusuh, transjogja yang adem🙂, dan perpus kota yang oke punya. Dua yang terakhir itu saya rasakan manfaatnya hingga sekarang. Waktu kakak saya ngurus izin penelitian juga dipermudah, itu hasil satu atap zaman pak HZ. Masuknya Pak HZ ini menjadikan pilihan saya menjadi imbang lagi, 2:2. Saya mau memilih siapa belum tahu, Mau memilih isteri juga belum ada calonnya… Saya maksudnya, bukan Prabowo.

Prabowo ini sebenarnya saya juga tidak suka-suka amat. Pasalnya sepulangnya dari Jordan ke Indonesia kok mau langsung jadi presiden ikut konvensi Golkar. Sampai sekarang saya mengingat itu dan itu kelemahannya. Bagaimana soal Trisakti? Saya tidak menyalahkan pimpinan atas perilaku anak buah kecuali ada perintah yang terbukti secara hukum (ini kasusnya tidak saya ikuti).

Jadi, saya sebenarnya tidak suka pada kedua capres, tapi cawapresnya saya lebih suka JK. Hatta saya tidak tahu apa kehebatannya dalam kementrian ekonomi. Tetapi saat menjadi Hatta jadi menteri perhubungan setahu saya mulai ada program dobel track kereta. Lalu stasiun di Jakarta diperbaiki. Itu seingat saya mulainya jaman Hatta.

Tetapi yang jelas dalam capres-capresan ini yang sangat memprihatinkan adalah keberpihakan media masa. Saya didoktrinasi bahwa media adalah pilar kelima demokrasi, 4 pilar lain kalau tidak salah adalah eksekutif, yudikatif, legislatif, dan satu lagi saya lupa. Sebagai pilar kelima harusnya media bisa netral. Tetapi sebagaimana dalam postulat atau teori atau pemikiran saya, manusia itu tidak mungkin imparsial, pasti berpihak. Wartawan manusia sehingga berpihaklah dia. Apalagi kalau bosnya berpihak😦 Maka penuhlah media masa dengan berita pelintiran, berita bohong, berita sebagian demi untuk dalam rangka mensukseskan salah satu capres.

Ini sesungguhnya adalah keadaan terburuk media masa dari pengamatan saya selama beberapa tahun ini. Beberapa tahun terakhir, media sudah berpihak, yah pada idealisme misal pengarusutamaan toleransi, dll. Dengan alasan itu ada pemelintiran berita. Tetapi sekarang ini, keberpihakan itu pada politik praktis. Ini adalah gerbang. Pada masa setelah capres-capresan ini kita akan melihat media-media menyebarkan berita bohong demi kepentingan. Seperti pada kasus Roma. Jenderal mulai meracuni para raja dan menggantikannya, maka generasi berikutnya demikian terus menerus sampai akhirnya mereka semua bosan dan Roma telah lemah. Ottoman, Sadrazam berkomplot dengan Ibu Suri untuk membunuh Sultan dan mengangkat sehzade lemah untuk jadi boneka dan terus begitu sampai akhirnya Ottoman sudah di ujung tanduk. Kita juga begitu, berita bohong sejak ini akan banyak tersebar dan tidak akan berhenti sampai akhirnya…. wallohulmusta’an (Alloh saja tempat memohon pertolongan).

Ada juga yang lebih buruk lagi. Menjual Tuhannya pada capres. Ini keterlaluan lagi. Ada orang yang beragama, artinya ber-Tuhan tetapi menjual Tuhannya pada capres yang jadi presiden aja belum tentu😦 Saya tidak akan menunjuk orang lain karena mungkin yang menjual Tuhan itu saya sendiri. Seorang Yahudi atheis (?) mengatakan bahwa nafsu (id) dapat menipu moral (superego) sehingga orang melampiaskan nafsu seolah melakukan derma. Dalam capres-capresan ini mungkin juga bisa terjadi seperti itu…

Capres-Capresan

Satu pemikiran pada “Capres-Capresan

  1. Ora Mikir, Ora Popo, O Raimu… hahaha, ingat lho Hatta Rajasa sewaktu Menko Ekuin juga senantiasa “ngotot” renegosiasi kontrak karya, istilah “hattanomics” juga merupakan sindiran para investor akan aksi Hatta Rajasa yang ingin mandiri dalam bidang energi. Jadi Hatta Rajasa tentu aksi nyata…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s