Antivaks dan Stop Antivaks

Setiap Senin di tempat kerja saya diadakan imuniasi bagi para bayi. Imunisasi ini menggunakan vaksin tentunya, karena tempat kerja saya adalah Rumah Sakit. Mendengar suara bayi-bayi menangis membuat hati luluh. Dua pemikiran muncul: 1) Teringat ponakan di rumah, namanya Iqbal (homesick). 2) Teringat tentang gerakan antivaks. Apa itu antivaks? Entahlah, saya memberikan nama itu untuk gerakan yang menentang pemberian vaksin bagi balita, dengan berbagai alasan. Mungkin salah satu alasannya adalah tidak tega melihat bayi mungil atau balita yang unnyu sudah harus disuntik dan menderita kesakitan hingga harus menangis. T_T hati ini terenyuh saat melihat bayi-bayi itu menangis atau balita yang takut dokter merengek minta pulang.

Baiklah, memang balita/bayi diberikan senjata oleh Alloh berupa tangisnya yang secara otomatis membangkitkan rasa kasihan/iba/terenyuh pada orang dewasa. Hal ini merupakan mekanisme pertahanan karunia Alloh. Dan imunisasi apalagi yang disuntikkan, memang sakit/menyakitkan bagi bayi. Tetapi tetap saja imunisasi itu diperlukan dalam menjaga manusia yang masih berupa bayi/balita tersebut dari terserang penyakit-penyakit mematikan.

Muncul penyamaan di pemikiran bahwa imunisasi itu ibarat kita mendidik agama (atau kalau orang sekuler lebih suka memakai kata moral; atau mungkin panduan hidup?) kepada anak-anak kita. Kita didik anak-anak kita agama/moral/panduan hidup agar tidak terjerumus ke dalam kekacauan hidup. Kita sudah mengalami itu, menyadari itu, lalu kita transfer ke anak-anak agar anak-anak tidak mengulangi “kesalahan yang sama”. Logikanya untuk apa menghabiskan waktu mengulangi “kesalahan yang sama” jika bisa terhindar dan menghabiskan waktu untuk mengalami pengalaman yang lain?

Demikian juga imunisasi. Imunisasi adalah pengalaman yang disuntikkan kepada tubuh anak manusia agar tubuh ini tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menghadapi kesalahan/penyakit yang sama dengan para pendahulunya, seperti penyakit campak, polio, dll. Orang dahulu sudah tau tidak enaknya polio, atau tidak enaknya terjadi wabah campak. Mereka menyuntikkan pengalaman itu ke dalam vaksin. Jadi kenapa kita harus mengulangi menghabiskan waktu untuk “penyakit yang sama” dengan leluhur sementara kita bisa terhindar atau menghabiskan sedikit waktu saja mengatasi penyakit tersebut?

Imunisasi memang sakit. Tapi tidak sesakit saat anak-anak itu terkena penyakit. Sakit, tapi tidak sesakit jika terkena polio, sakit tapi tidak sesakit saat terkena campak. Sama seperti pendidikan moral/agama/pandangan hidup pada anak-anak, juga menyakitkan anak-anak tersebut. Idnya harus terkekang dalam ruang bawah sadar, itu membutuhkan energi yang besar. Perhatikan anak-anak jika diberi nasihat pengalaman pribadi Anda. Ada kecenderungan menolak. Karena belajar itu memang proses yang tidak nyaman dan seringkali menyakitkan. Tetapi sebagai orang tua Anda akan berpikiran, “lebih baik sakit sedikit daripada Anak ini nanti salah langkah hidup dan sakit selama-lamanya”.

Pikiran memutuskan untuk menyatakan bahwa anak perlu diimunisasi. Pikiran menyatakan say yes to imunisasi🙂

Kemudian saya sadari ada argumen tetang kehalalan vaksin padapihak yang anti vaksin. Saya bertanya pada pikiran (mungkin termasuk gila ya, nanya sendiri jawab sendiri). Masih dalam tanda tanya, saya bertemu dengan Akun Facebook Stop Antivaks. Di sana saya tahu istilah Antivaks dan ternyata gerakan tersebut menggurita J Kalau tidak salah sama mengguritanya di USA dan penganut terbanyaknya pun hampir sama, dari kalangan konservatif (cenderung agamis) dan berita disebarkan dari mulut ke mulut (atau media social karena media masa dan pemerintah dianggap berkonspirasi atau dibayar pabrik obat). Dari akun Stop Antivaks ini saya belajar 3 hal: 1) kita perlu kroscheck tentang berita yang kita dengar tentang halal dan haram, tentang kandungan suatu obat, tentang segala hal. Sebagai muslim kita diminta fatabayyanuu, bertabayyun karena kita cenderung pada perbuatan fasiq. 2) untuk urusan halal haram serahkanlah pada para ulama. 3) tidak baik percaya teori konspirasi.

Kita perlu korscek semua informasi yang kita terima. Kita perlu tanya kepada ahlinya jika kita tidak tahu. Dua hal ini diperintahkan dalam al-Quran. Nah, bagi para orang tua sebelum memutuskan imunisasi atau tidak WAJIB untuk mempelajari tentang imunisasi. Yang serius, jangan samben (Inilah beratnya jadi orang tua, karena itulah wajib bagi anak berbakti pada orang tua). Janganlah para orang tua memutskan tidak mengimunisasi anaknya (kalau mengimunisasi kan sudah mainstream dan anjuran pemerintah J) karena berdasar desas-desus semata. Sambil buka Facebook, twiter, iseng-iseng lihat tulisan online, lalu dengar-dengar ibu-ibu mengerumpi, kemudian percaya itu 100% akurat. Lalu memutskan tidak mengimunisasi anak dengan mengabaikan resiko anak terkena penyakit berbahaya.

Kalau bisa buka Science Direct, atau Proquest, atau yang gambar kuda itu (sok ilmiah). Maksudnya tanyalah kepada yang ahli, yang belajar tentang itu, misal farmasis, atau dokter, atau biokemisian, atau peneliti pengobatan. Cari sumber yang lebih nyata dari sekedar rumpian di dunia maya atau di dunia nyata. Atau kalau mau tau sudut pandang agamanya, tanyalah pada Kiyai, MUI, Ustadz, Majelis Tarjih. Atau kalau mau lengkap tanya ke dokter yang juga cukup tau agama. Kenapa harus ribet kalau tidak mau ngasi imunisasi pada Anak? Karena resikonya Anak, darah daging, jadi harus pasti informasi yang menjadi pijakan pengambilan keputusan. Kalau mau memberi tapi tidak yakin juga cari tahu sampai yakin, mau memberi atau tidak. Anak kok jadi korban rumpian.😀

Nah, kalau soal alasan kehalalan vaksin yang menjadi keberatan, minta fatwa  ke MUI, tidak yakin MUI minta fatwa Bahtsul Masail, atau Majelis Tarjih, atau Dewan Syariah, dll. Jangan dari desas-desus/rumpian/qila wa qala. Oia, saya pernah menulis di blog ini bahwa qila wa qala/rumpian./desas-desus itu adalah dosa besar. Kyai/Ulama itu menghabiskan banyak waktu untuk belajar agama, kalo kita hanya baca satu dua buku saja sebaiknya taqlid pada ulama yang kita percaya saja. Memang Imam Malik melarang taqlid “laysal muqallidul ulama” tapi itu untuk ulama. Ulama dilarang taqlid, umat yang tidak tahu boleh taqlid.

Dan ternyata MUI sudah memfatwakan halal beberapa vaksin, Majelis Tarjih, Bahtsul Masail, dan Dewan Syariah saya tidak tahu tapi kayaknya tidak ada perlawanan atas fatwa ini. Artinya tidak semua vaksin haram, jadi sebagai konsumen kita bisa memilih bukannya menggeneralisasi dan mengorbankan anak dengan generalisasi. Saya sudah tulis di blog ini bahwa generalisasi bisa menyebabkan mental terganggu.

Kalau kita mau meminta fatwa (tidak percaya ulama’ lain selain guruku), bisa. Tetapi poin 1 harus dilakukan. Jangan kita meminta fatwa dengan memberikan informasi rerumpian pada Kyai/Ulama’. Kalau ulama salah berfatwa karena rerumpian kita maka ia bebas dari tuduhan dan kita akan diajukan ke Mahkamah Akhirat untuk dimasukkan ke neraka.

Nah, dua kegiatan di atas bertanya dan meminta fatwa itu bisa terganggu jika kita iman kepada teori konspirasi. Jika kita iman kepada teori konspirasi, semua informasi yang mungkin benar tetapi bertentangan dengan pendirian kita akan kita tolak dengan tuduhan konspirasi. Tidak ada berita tentang keburukan imunisasi, dituduh media dibayar tukang obat. Pemerintah menganjutkan imunisasi, pemerintah dituduh dibayar tukang obat. Ulama memfatwakan halal beberapa vaksin imunisasi dituduh ulama’ suu’. Wallohul Musta’an. Teori konspirasi bisa diterima sebagai teori, cara menjelaskan sesuatu, tetapi itu bukan fakta kejadian melainkan dzan.

Dari semua pembacaan yang ada saya berkesimpulan bahwa imunisasi adalah hak anak sebagaimana ASI. Ia menjadi hak karena menghidarkan anak dari bahaya. Anak punya hak untuk terhindar dari bahaya. Karena ia hak, orang tua wajib memberikannya kecuali ada alasan yang menghalangi. Alasan yang menghalangi tersebut haruslah berdasarkan informasi yang adekuat.🙂 Wallohu a’lam.

Antivaks dan Stop Antivaks

2 pemikiran pada “Antivaks dan Stop Antivaks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s