21 April, Hari Kartini

Ramai orang mengucapkan selamat Hari Kartini di dunia maya, ramai pula orang yang melempar isu di Hari Kartini ini. Salah satu isu yang dilempar adalah tentang Cut Nyak Dien dibandingkan dengan Kartini. Kartini dianggap terlalu lembut kepada penjajah, Cut Nyak lebih bermaruah agaknya. Kartini dicap disukai penjajah dan Cut Nyak dianggap tidak disukai penjajah.

Dalam ngantuk akibat tidur sejam dalam 3 hari 2 malam saya menganalisa saat sedang makan. Epifani muncul, angap saja saya plato. Mungkin Kartini dianggap lebih lembut dan lebih disukai penjajah karena dia tidak mengangkat sejata melawan penjajah, sedangkan Cut Nyak melakukan prang sabil pada para penjajah infidel!

Tapi mengangkat sejata dan tidak mengangkat sejata bukanlah sebuah ukuran untuk disukai dan tidak disukai penjajah ataupun lembut atau tidaknya seseorang kepada penjajah.

Kita ambil contoh Syekh Dachlan dan Haji Oemar Said Cokro. Syekh Dachlan tidak mengangkat senjata melawan penjajah, pun tidak mengangkat senjata melawan TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat), Haji OSC pun tidak mengangkat senjata. Tapi memang Haji Oemar Said lebih keras penggunaan bahasanya tinimbang Syech Dachlan. Tapi apakah bisa dikatakan bahwa Syech Dachlan dicintai penjajah dan Haji Oemar Said tidak? Apakah bisa dikatakan bahwa Syech Dachlan tidak melawan penjajah sementara Haji Oemar Said melawan?

Ini adalah masalah persepsi saja. Kita mempersepsi orang yang mengangkat senjata dalam berjuang itu adalah orang yang paling serius berjuang. Padahal keseriusan itu tidak harus dalam senjata. Orang berceramah menentang penjajahan seperti Soekarno dan Haji Oemar Said (agaknya beliau belum pernah terlibat dalam perjuangan bersenjata secara langsung) lebih disukai Kumpeni tinimbang Diponegoro Khalifah Jawi atau Syekh Tuanku Imam Bondjol? Apakah orang yang tidak melakukan demagog (ada yang tau artinya apa?) atau agitasi atau penghasutan menyerang Kumpeni seperti Syekh Dachlan lebih dicintai Ratu Wilhelhmina (saya tidak yakin benar mengejanya)?

Saya yakin tidak. Soekarno lebih dibenci Londho karena East Indies lepas dari Belanda karena (salah satunya, setelah Rahmat Alloh YMK dan keinginan luhur seluruh Bangsa Indonesia) lidahnya Soekarno ini. Kalau Syech Dachlan disenangi londho, tentu geraknya tidak akan dibatasi (cerita pembatasan gerak Kyai Dachlan oleh Gubernemen sangat panjang, tidak cukup jika dijadikan catatan kaki).

Setelah cerita ke sana dan ke mari kita kembali mendarat di tema kita. Kartini memang hanya berjuang di rumah, bukan dengan pedang tapi dengan tinta. Tidak memimpin satu kompi orang-orang melawan londho, tapi “hanya” memimpin kaum segelintir kaum perempuan. Tetapi tidak berarti ia anak emas Gubernemen. Ia sesungguhnya sedang melawan penjajahan (hal-nya bukan orangnya, jadi dia welkom saja dengan noni-noni belande). Penjajahan Kumpeni yang licik (pengetahuan) terhadap nusantara yang lugu, penjajahan kaum patriarki terhadap perempuan (yang tidak berdasar sama sekali). Ini menjadikan semangatnya itu sebagai teladan bagi perempuan Indonesia.

Maka adalah wajar jika diadakan Hari Kartini agar semangat anti penjajahan, keadilan gender, dan pemerataan pendidikan menjadi tidak padam dari hati anak-anak nusantara. Jangan kira kita telah maju jauh dalam keadilan gender dan pemerataan pendidikan. Masih saya dapati di lingkungan saya orang yang lebih gembira mendapat anak lelaki dan perempuan yang dinomorduakan pendidikannya tinimbang saudara lelakinya. Jadi relevan sekali peringatan anti penjajahan, keadilan gender, dan pemerataan pendidikan ini masih diadakan.

Dan sangat relevan (relevan mengingatkanku akan pelajaran matematika SMA) Kartini menjadi monumen pengingat bangsa tentang tiga semangat itu. Ia mewakili kita semua (ya memang tidak semua, tapi kaum priyayi. Namun bisa dianggap juga dia mewakili kelas menengah yang seharusnya menjadi agen asuransi bagi bangsa ini). Setiap kita bisa menemukan bahwa kita mampu mewujudkan anti penjajahan, keadilan gender, dan pemerataan pendidikan jika kita niat mewujudkannya.

Kartini menunjukkan kepada kita untuk melawan penjajahan tidak harus seorang jenderal, tidak harus latihan militer, tidak harus tokoh dengan banyak pengikut. Bahkan ibu rumah tanggapun (persepsi kita ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang kurang bonafid to? Sebenarnya tidak!) mampu melawan penjajahan, mampu mewujdukan keadilan gender, mampu mewujudkan pemerataan pendidikan, di lingkungan kita sendiri dulu paling tidak.

Intinya secara aktivitas perjuangan, memang pantaslah Kartini menjadi monumen perjuangan pengingat bangsa akan semangat anti penjajahan, keadilan gender, dan pemerataan pendidikan. Jadi, tanpa menafikan magnificentnya Cut Nyak Dien dalam perjuangan melawan penjajahan dan penegakan keadilan gender (yang sudah dianut masyarakat Islam bahkan sebelum perempuan barat mempunyai hak memilih) TIDAK PERLU membanding-bandingkan keduanya dan menanggap salah satu lebih baik dari yang lain. Mereka berdua lebih baik dari saya yang tidak tidur 2  malam saja sudah kelaparan. Mereka berdua insyaAlloh lebih baik dari saya di hadapan Alloh. Wallohua’lam dan Dialah Yang Berkehendak.

Tapi memang saya menilai Kartini lebih perlu dianggap sebagai monumen pemerataan pendidikan dan keadilan gender di saat kita hendak menurunkan nuansa budaya kekerasan dari masyarakat kita. Namun, Cut Nyak Dien sangat tepat dijadikan monumen penjebar semangat anti penjajah, anti komparador, pemikiran terbuka, dan keadilan gender dalam hak membela tanah air. Harusnya (Pikiran saya loh) Kodam di Aceh itu namanya Kodam Cut Nyak Dien J. Ini serius. Sebagai monumen abadi anti penjajah dan keadilan gender dalam bidang kemiliteran.

Suudzon saya, ketidakterimaan sebagai orang dengan Hari Kartini adalah didorong dari alam bawah sadar. Hal sejarah yang, yah memang ada penyimpangannya, dan karena faktor keagamaan. Cut Nyak yang prang sabil dianggap lebih mulia di sisi Alloh daripada Kartini yang kejawen katanya. Kalau ini alasan bawah sadarnya, marilah kita istighfar (meminta ampun) kepada Alloh.

Saya telah mendengar kisah-kisah tentang keislaman Ibu Kartini yang baik dan salah satu kisah diriwayatkan oleh Ust. Salim A. Fillah hafizhahulloh (saya yakin beliau orang yang tabayyun dan cerdas dalam menanggapi isu). Alhamdulillah, di Hari Kartini ini Republika kembali mengangkat cerita keislaman Ibu Kartini lihat di sini.

Salah satu kisah betapa islaminya Ibu Kartini ini, pada waktu itu mendengarkan pengajian  tafsir dari Kyai ahli tafsir ternama saat itu dari Semarang. Setelah pengajian, beliau secara halus meminta kepada Kyai agar Kyai bersedia menulis kitab tafsir dalam bahasa jawa dan usul beliau disepakati sang Kyai. Setelah itu Sang Kiyai menulis kitab tafsir berbahasa jawa dan baru sampai 13 juz. Kita itu diserahkan kepada Ibu Kartini sebagai hadiah pernikahan. Selain itu saya pernah mendengar Ibu Kartini menunjukkan kecintaannya kepada Islam dan Alloh dalam surat-surat yang dikirmnya kepada teman-temanya noni-noni belande. Wallohu a’lam.

Jika kisah-kisah yang pernah saya dengar tetang Kartini ini benar, berarti beliau adalah orang yang lebih alim dari saya, lebih ta’at tinimbang saya, lebih bersemangat dalam tholabul ilimi dari saya, dan mungkin lebih dicintai Alloh tinimbang saya. Jadi sebaiknya saya menghindari sentimen keagamaan mempengaruhi penilaian saya terhadap Kartini (nanti saya malu sendiri soalnya beliau lebih shalihah tinimbang saya). Wallohu Ahkamul Hakimin.

21 April, Hari Kartini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s