Alasan Palsu

Alasan Palsu bukanlah tentang lagu terbaru Mbak Ayu Ting-Ting setelah Alamat Palsu, tetapi ini berhubungan dengan salah satu kutipan firman Alloh,

mereka menipu diri sendiri.

Bisakah manusia menipu diri sendiri. Saya secara empiris menyatakan bisa. Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba menipu diri. Terkadang saya sendiri baru sadar bahwa saya menipu diri sendiri beberapa saat setelah penipuan diri itu berlangsung, artinya penipuan diri sendiri telah berlangsung secara tidak sadaršŸ˜¦.

Bentuk penipuan diri yang sering saya lakukan adalah memberikan alasan-alasan kebenaran terhadap perbuatan-perbuatan salah saya. Banyak sekali contohnya. Tapi Alloh telah menutupi aib tersebut dari orang-orang sehingga saya sendiri tidak boleh membukanya. Pada intinya, beberapa kali terjadi saya menemukan perbuatan yang jelek atau perbuatan yang samar dengan alasan yang jelek, lalu saya memberikan pembenaran-pembenaran untuk perbuatan tersebut.

Saya berikan contoh dari dunia fiksi saja. Di film (movie bukan animasi) Death Note vol.2, ada seorang tokoh redaktur di TV Sakura. Saat menyiarkan pesan dari Kira ke-2 yang meresahkan masyarakat, ia beralasan hal itu demi keselamatan kru TV Sakura. Tetapi alasan sebenarnya dari penyiaran tersebut adalah untuk menaikkan rating. Itu contoh penipuan publik karena sang redaktur berbohong kepada pemirsa TV tetapi jujur kepada kru TV tentang alasan penyiaran.

Tapi dalam kehidupan sehari-hari kita, atau mungkin saya saja, sering mengungkapkan alasan palsu kepada semua orang bahkan kepada diri saya sendiri. Kemudian menyimpan alasan asli yang buruk ke dalam brankas bawah sadar. Sehingga kita seolah-olah yakin bahwa alasan benar yang dibuat-buat itu adalah alasan sebenarnya/asli dari perbuatan jelek atau samar yang kita lakukan. Agar apa? agar hati saya tenang. Agar saya selamat. Agar saya tidak kehilangan muka di hadapan diri saya sendiri.

Nah, saya telah mengaku. Bagaimana dengan kita? Berapa kali kita melakukan penipuan diri sejenis yang saya lakukan itu? Kita melakukan perbuatan jelek atau perbuatan samar dengan alasan jelek, tapi kemudian kita poles alasan itu agar menjadi alasan yang acceptable.

Misal saja reprorter kita menemukan berita sensasional yang sensitif. Sebagai redaktur kita memutuskan berita itu harus tampil dengan alasan sebenarnya agar rating naik. Tetapi dalam setiap kesempatan kita sampaikan kepada orang-orang bahwa alasan kita adalah agar berita sampai ke masyarakat. Kepada diri sendiripun kita meyakinkan bahwa alasan penampilan berita itu adalah demi kemaslahatan masyarakat. Ini masih mending.

Ada yang sudah lupa kepada diri mereka, sehingga mereka seperti kesurupan. Misal berita sensitif itu ditambahi bumbu-bumbu yang tidak perlu. Saat membumbui tersebut redaktur tidak mengatakan bahwa mereka membumbui, tetapi hanya membuat kalimat menjual. Padahal perubahan kalimat selalu membawa perubahan pengertian. Mengapa dikatakan kesurupan, karena orang kesurupan itu sudah tidak tahu apa yang mereka lakukan, jadi sama saja.

Ini bukan berarti setiap reporter dan redaktur selalu melakukan yang demikian. Saya memberi contoh ini karena saya pernah menemui yang demikian. Kita semua, saya rasa, pernah berpeluang melakukan penipuan diri. Pengurus lembaga amal, bisa jadi menggunakan uang amal dengan sebuah alasan buatan yang baik. Pegawai bisa jadi menerima rasuah dengan alasan itu hanya hadiah. Pemimpin keagamaan bisa saja memanfaatkan agama untuk mencapai kepentingannya tetapi beralasan bahwa itu adalah untuk kepentingan umat. Dan lain-lain, dan lain-lain, syaithan itu ada diantara kita dan di kitašŸ™‚

Oia, sudah saya katakan belum ya? bahwa penipuan diri ini tidak hanya dilakukan secara dibuat-buat dengan sadar tetapi bisa dilakukan secara tidak sadar? Ya, jadi kita melakukan hal samar/syubhat kemudian memberi alasan baik terhadap perbuatan tersebut dan alasan asli tersimpan di alam bawah sadar kita. Kita secara sadar meyakini bahwa alasan baik itu adalah alasan sebenarnya dari perbuatan kita.

Penipuan diri dengan tidak sadar ini terjadi bisa karena salah satu di antara dua hal: (1) Kebiasan, (2) Mekanisme pertahanan diri (berdasarkan psikoanalisa).

Pertama jika kita biasa menyimpan alasan benar yang buruk sendiri dan tidak mengungkapkannya kepada orang lain, bahkan kepada Alloh (dalam pengakuan dosa), maka sampai pada masa tertentu itu akan menjadi kebiasaan kita.Ā Kegiatan ini menjadi reflek. Dan setiap kita melakukan hal samar karena alasa selfish atau jelek secara otomatis kita menelurkan alasan yang baik dan alasan selfish atau jelek tersebut tidak terkemukakan ke alam sadar kita.

Kedua mekanisme pertahanan menuntut kita untuk menghindari bentrokan atara komponen jiwa. Id kita yang selfish dan tidak perduli hala/haram akan selalu bentrok dengan superego yang selalu berdasarkan moral. Ego dengan supervisi superego akan mensensor segala kehendak Id yang haram dan amoral. Terkadang Id melakukan manuver dengan menyelimuti alasan perbuatan amoralnya dengan alasan moral sehingga bisa melewati sensor Ego lalu mewujud ke alam sadar. Contoh yang sering kita lihat adalah kekerasan mengatasnamakan agama atau nasionalismešŸ˜¦. Menghina bangsa lain itu salah, kemudian muncul alasan “gapapa kalo demi membela bangsa sendiri”.

Nah, sudah berapa kali kita menipu diri sendiri hari ini? cara ringan muhasabah/evaluasinya adalah dengan berfikir sebelum kita share, atau memposting sesuatu, atau komentar di sosial media. Apa alasan sebenar kita membagi sesuatu itu, apakah karena ingin berbagi, ingin curhat, ingin pameran, ingin dakwah, ingin terkenal….šŸ™‚ Wallohu ‘alam

Alasan Palsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s