Qila Qala; Katanya Katanya

Akhir-akhir ini kita banyak sekali mendengar berita kekerasan, terorisme, bentrok antar komunitas. Semua orang pada perihatin, pada bingung, orang Indonesia yang dulunya ramah-rama jadi pada beringas gini. Ada apa?

Bisa saja, kekerasan berupa terorisme dan bentrok tersebut terjadi karena adanya misinformasi tentang berbagai hal. Informasi yang salah dipercaya sebagai kebenaran dan menyulut emosi amarah. Komunitas marah, lalu kemudian terjadi kekerasan. Saya  pernah mendapati kasus demikian. Di sebuah komunitas diedarkan kabar bahwa sebuah rumah ibadah dirobohkan! (lengkap dengan tanda pentungnya). Berita demikian tentu menyulut emosi komunitas tersebut. Padahal setelah dikonfirmasi, berita sebenarnya tidak demikian, faktanya tidak ada bangunan ibadah yang dirobohkan.

Itu kasus nyata, di majalah ada,  saya juga pernah mengalami. Kasus lain, seorang terbunuh karena masalah pribadi, tetapi berita yang menyebar itu adalah memang akal-akalan komunitas lawan untuk melemahkan komunitas korban. Maka pecahlah serang-menyerang antar komunitas. Padahal terbunuhnya seseorang itu karena masalah pribadi dan bisa jadi si korban yang memulai dahulu perkelahian yang membunuhnya itu.

Dua contoh tersebut di atas menunjukkan betapa berita bohong itu merusak masyarakat, menyebabkan kekerasan, bertambahnya korban, dan hilangnya rasa percaya antar komunitas. Yang memprihatinkan, terkadang berita bohong tersebut timbul/muncul secara tidak sengaja (unconditional). Saat sedang membincangkan suatu berita, kita memasukkan pemikiran kita pada berita yang kita sampaikan, atau istilahnya menambahi secara tidak sengaja. Yang mendengar berita dari kita juga melakukan demikian. Yang mendengar kemudian juga tidak sengaja menambahi berita yang disampaikan. Terus menerus sehingga berita yang tersalurkan berbelok jauh dari faktanya. Kemudian berita yang telah menjadi berita bohong tersebut menyebar dan membangkitkan kebencian serta amarah.

Maka, agar kebencian tidak menyebar, marilah kita berhenti menyebarkan berita dengan ditambahi pemikiran kita. Rasulullahpun telah melarang hal demikian “qila wa qala itu adalah perkataan dusta”. Qila wa qala secara leterlek berarti “dikatakan dan berkata” bisa diartikan secara gampang sebagai “katanya, katanya”. Maksudnya adalah seseorang yang mendengar suatu berita “katanya” dari seseorang lalu ia sampaikan berita “katanya” kepada orang lain maka ia termasuk menyebar kedustaaan. Berita “katanya” adalah berita yang tanpa bukti dan hanya bersumber dari mulut saja.

Kenapa berita demikian termasuk berita dusta? Karena seperti yang saya katakan tadi, secara fitrahnya manusia cenderung menceritakan suatu berita berdasarkan pemahamannya atas cerita tersebut. Pemahaman tersebut pastilah tercampuri dengan pendapatnya tentang berita tersebut. Karena berdasarkan pemahaman, berita yang menyebar dari mulut ke mulut rentan sekali berbelok menjadi berita dusta jika tanpa bukti. Jika terdapat bukti nyata, maka pemahaman orang yang mendengar menjadi lebih dekat kepada kebenaran dan yang akan diceritakannya lebih dekat kepada fakta. Dengan kata lain, bukti diperlukan untuk menjadi pagar agar berita yang disampaikan tidak melenceng ke mana-mana.

Maka, sebagai orang yang percaya kepada Rasulullah, seyogyanya kita belajar hati-hati untuk menjadi jalur (menerima dan menyampaikan) berita.

Qila Qala; Katanya Katanya

2 pemikiran pada “Qila Qala; Katanya Katanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s