Menjual Tanah Air

“Pecinta harta, menjual tanah air, melupakan zaman perjuangan” (Sepenggal lagu Pecinta Dunia).
Pernahkah kita berfikir seandainya kita memiliki sebidang tanah yang kita manfaatkan sebagai kebun. Kemudian datang satu keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal (gelandangan) ke tanah tersebut dan mereka membangun rumah. Tidak lama berselang, mereka mengkalim tanah tersebut milik mereka dan serta merta menggambil hasil kebun kita atau mengganti tanaman yang kita tanam dengan tanaman mereka. Apakah dengan serta merta kita akan menyerahkan tanah kebun kita tersebut dengan pertimbangan kemanusiaan?
Saya tidak percaya akan ada orang yang langsung mengikhlaskan tanah tersebut. Reaksi awal pemiliik tanah (dalam bayangan saya) adalah rasa marah. Entah kemudian rasa marah tersebut dimanifestasikan dalam usaha damai semisal negosiasi/himbauan ataukah dimanifestasikan dalam usaha kekerasan semisal melakukan pengusiran paksa dengan meminta bantuan aparat terkait.
Saya peribadi tidak akan rela jika hak milik saya dirampas dengan zalim oleh orang. Saya ingat sekali saat mempelajari sejarah di bangku SD, saya sangat marah saat mengetahui bahwa hasil salah satu perundingan (saya lupa perundingan apa) RI-Belanda menghasilkan keputusan bahwa nusantara ini dibagi atas daerah RI dan daerah Belanda. Jawa Barat saat itu seingat saya masuk ke daerah Belanda.
Saya tidak habis pikir, waktu itu sebagai anak kecil, bagaimana mungkin Belanda yang datang lalu mengeksploitasi lalu menjajah tanah air kita kemudian mengambil sebagian tanah air kita? Saya percaya bahwa orang Parahyangan juga tidak suka dengan keputusan ini. Saya rasa mereka juga merasa tidak rela jika tanah air mereka diserahkan kepada Belanda yang waktu itu menjadi Penjajah.
Saat memperhatikan berita di tivi-tivi tentang Peta Jalan Damai Palestina-Israel yang kemudian membagi tanah Palestina (dengan tidak imbang, tidak 50-50) antara Palestina dan Israel saya teringat akan kasus pembagian Indonesia menjadi wilayah Belanda dan RI. Saya bertanya-tanya, mungkin saja orang-orang Palestina tersebut merasakan sakit saat mendengar berita kesepakatan damai tersebut. Lebih-lebih mereka terusir dari tanahnya secara paksa karena terteror oleh cara-cara brutal Israel. Saya rasa, kesepakatan membagi Palestina itu merupakan berita sedih bagi ribuan rakyat Palestina di pengungsian.
Saya tidak mengingkari bahwa orang Yahudi yang saat ini hidup di Israel memiliki hak hidup. Demikian pula orang-orang Belanda memiliki hak hidup di Indonesia. Tidak jarang mereka itu sudah generasi kedua, ketiga, bahkan keempat tinggal di Indonesia. Tetapi kemudian apakah karena alasan ini forefathers, leluhur kita, pendiri bangsa kita, menerima dengan senang hati kesepakatan untuk membagi Indonesia menjadi milik Belanda dan milik RI? Kan tidak.
Yang dilakukan para pendiri negara ini adalah memperjuangkan berdirinya Indonesia di atas tanahnya dengan utuh, dari Sabang sampai Merauke. Tentu untuk memenhui hak hidup orang-orang barat yang telah tinggal di indonesia selama beberapa generasi, para pemimpin bangsa tersebut menerapkan hukum-hukum yang melindungi mereka.
Saya kira, seyogyanya begitu pula di Palestina. Adalah wajar jika orang Palestina menuntut haknya secara utuh. Orang Yahudi yang tinggal di wilayah penjajahan tidak harus kehilangan hak hidupnya dengan adanya perlindungan hukum dari pemerintahan Negara Palestina nantinya. Saya kira orang Palestina bisa hidup berdampingan dengan orang berbagai latar. Hamas yang berlatar Islam bersedia mengangkat beberapa orang Nasrari sebagai anggota legislatifnya. Di kubu perlawanan juga terdapat ideologi sosialisme, komunisme, nasionalisme. Sehingga saya yakin di Negara Palestina nantinya pasti terbuka ruang untuk orang-orang dari berbagai latar, termasuk untuk orang Yahudi. Tentunya setelah mereka mengembalikan hak milik orang Palestina yang mereka jarah 60 tahun yang lalu.
Oleh karena itu, saya kira penyelesaian masalah Palestina dengan membagi tanah Palestina menjadi dua bagian (dengan tidak adil, tidak 50-50) bukanlah penyelesaian yang bijaksana. Kita sebagai bangsa yang pernah terjajah dan pernah mengalami peristiwa serupa harusnya bisa lebih faham akan hal ini. Penyelesaian yang benar adalah pembebasan tanah Palestina seluruhnya dengan memberikan hak hidup bagi orang Yahudi di tanah Palestina. Tetapi saya kira bisa jadi penyelesaian ini sulit. Karena kebanyakan Yahudi Fundamentalis di Israel adalah kelompok yang eksklusif dan tidak bisa menerima perbedaan. Menyekolahkan anak mereka di satu sekolah dengan kelompok Yahudi lain (sesama Yahudi) mereka enggan. Apalagi untuk duduk bersama dengan orang Arab.
Tetapi mudah-mudahan hal tersebut dapat berubah seiring waktu sehingga semua orang dapat bertindak dengan tuntunan hati nuraninya. Sehingga nantinya perdamaian di bumi para nabi dan rasul, Palestina, dapat terwujud. Dengan izin Alloh, insyaAlloh.

Menjual Tanah Air

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s