Bantuan Ottoman Kepada Kesultanan Aceh

Males juga melihat postingan seseorang yang menurut saya sangat keliru dari sisi sejarah. Orang tersebut menjabarkan sejarah Ottoman yang jelas-jelas keliru. Lalu kemudian menjelaskan bahwa Aceh pernah minta bantuan kepada Ottoman tetapi tidak digubirs Ottoman. Menurut dia, jika Ottoman saja tidak menggubris, kenapa kita harus menggubris Palestina? Ini saya kira jika bukan karena kekhilafan penulisnya, adalah kegiatan orang-orang anti hubungan Indonesia-Palestina. Wallohu A’lam.

Maka, saya kira ada baiknya membagi pengetahuan mengenai ekspedisi Kekaisaran Ottoman ke Aceh. Pada masa Sultan Alauddin Al-Qahhar, Portugis menancapkan kukunya di Melaka. Sultan Aceh melihat gelagat tidak baik pada diri orang Portugis ini, beliau mengirimkan duta  ke Ottoman. Surat beliau ditujukan kepada Khalifah Suleyman Al-Kanuni. Tetapi kemudian sampai pada masa Sultan Selim II.

Sultan II Selim Han; Sultan yang mengirimkan 21 kapal bantuan militer ke Aceh

Sebagian menyatakan bahwa sebelum Selim II, di masa Suleyman Al-Kanuni, Ottoman telah mengirim bantuan ke Aceh. Yang jelas, di masa Selim II, Sultan Ottoman mengirimkan bantuan berupa kapal beserta pasukan dan peralatan perang untuk membantu Aceh. Sebagian orang menyatakan, dalam surat beliau, Sultan Alauddin menyatakan bahwa Aceh menja vassal Ottoman.

Dalam surat beliau yang ditulis untuk menanggapi surat Sultan Alauddin, beliau menyatakan permohonan maaf karena bantuannya tertunda akibat terjadinya peristiwa besar di Ottoman, wafatnya Sultan Suleyman. Beliau juga menegaskan bahwa kewajiban Sultan sebagai Khalifah untuk melindungi setiap orang beriman. Maka dikirimkanlah kapal  dengan peralatan perang dan pasukan itu di bawah pimpinan Hizir Reis. Menurut beberapa orang, kapal itu berjumlah 20 hingga 21.

Kapal Ottoman di Samudera Hindia di Abad Ke-16

Sultan Selim II juga mengirimkan surat kepada Portugis untuk tidak mengganggu Aceh yang merupakan bagian dari Ottoman. Sejak saat itu, menurut sebagian orang, hubungan Aceh dan Ottoman terus terjadi baik di bidang perdagangan, juga kemiliteran. Beberapa orang menyebutkan pasukan Aceh yang dilatih perwira Ottoman. Juga persenjataan Ottoman yang dikirimkan ke Aceh masih ada hingga sekarang bekas-bekasnya. Bekas yang paling nyata dari hubungan itu adalah bendera Aceh yang serupa bendera Ottoman.

Masa berganti dan Aceh kembali dalam bahaya, di zaman Sultan Mahmud Syah, Sultan di masa akhir Kerajaan Aceh. Belanda saat itu sedang memperluas daerah jajahannya dan berencana menyerang Aceh. Sultan Acehpun mengirim utusan lagi ke Ottoman. Namun kali ini, Khalifah telah cukup kehilangan kekuasaan politiknya. Para menteri di Porte sekarang lebih berkuasa.

Sultan Ottoman sebagai khalifah hendak membantu Aceh, tetapi kemudian menurut menteri luar negerinya, mereka perlu mendiskusikan hal ini dengan Inggris dan beberapa negara besar lainnya. Saat itu, Ottoman memang sudah sudah memasuki masa keruntuhan. Peristiwa ini terjadi sekitar 30 tahun sebelum Ottoman runtuh. Inggris dan Perancis serta semua negara besar Eropa menegaskan saran mereka agar Ottoman tidak ikut campur. Maka Porte (Kantor Kementrian) memutuskan untuk tidak ikut campur.

Meriam Aceh dan Ottoman setelah Penaklukkan Belanda atas Aceh; demikian judul ilustrasi tersebut. Sisa meriam Ottoman bisa dilihat hingga sekarang.

Tetapi Sultan merasa sebagai khalifah ia ada kewajiban untuk melindungi Aceh. Maka ia mengirimkan surat kepada Belanda mengingatkan bahwa mereka dulu pernah beraliansi dan ia mengatakan Aceh juga aliansinya (sejak Selim II mengirimkan pasukan ke Aceh) dan Sultan meminta Belanda untuk tidak menyerangnya. Tetapi Belanda menolak surat itu. Perlu dicatat, bahwa selama duta Aceh di Istanbul, para duta Eropa selalu menghalang-halangi tugasnya.

Yah menyedihkan memang, di kesempatan kedua ini, Ottoman tidak dapat mengirimkan pasukannya dikarenakan para menterinya lebih takut kepada Inggris dan para kolonialis Eropa yang tentu akan mendukung Belanda sebagai sesama rekan kolonialis penjajah. Tapi itulah sejarah, ada kegemilangan ada kesedihan. semoga selepas 2012 tidak ada lagi kesedihan.

Sumber: Ismail Hakkı GÖKSOY, Wikipedia, Osmanli700, dll.

Bantuan Ottoman Kepada Kesultanan Aceh

8 pemikiran pada “Bantuan Ottoman Kepada Kesultanan Aceh

  1. Ralat tahun, keruntuhan Majapahit tahun 1478, sehingga penobatan Raden Patah 25 tahun setelah keruntuhan Majapahit. Sunan Ampel wafat tahun 1481 digantikan Sunan Giri. Sunan Giri membangun Giri Kedaton pada 1486 dan diangkat secara resmi sebagai wali tahun 1487.

    Suka

  2. Setelah kematian Sultan Trenggono, terjadi perebutan tahta demak. Adiwijaya(Islam Abangan/Sekuler) yang akhirnya memenangkan perang melawan Harya Penangsang (Islam Putihan/fundamentalis) memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang. Hal ini dibaca pimpinan Giri Kedaton saat itu, Sunan Prapen sebagai pembangkangan terhadap Kitab Jayalengkara dan dimaksudkan untuk mengeliminasi pengaruh walisongo. Akhirnya timbul pemberontakan Bang Wetan (Aliansi Adipati Jawa Timur) yang masih setia pada walisongo. Sunan Prapen segera mengambil alih kepemimpinan walisongo dan mulai memfasilitasi dialog antara Bang Wetan dengan Pajang. Akhirnya disepakati pengakuan Bang Wetan atas kekuasaan Adiwijaya. Akan tetapi, kepemimpinan Ummat Islam Tanah Jawa yang tertinggi direstorasi dikembalikan kepada Walisongo yang kini dipimpin Sunan Prapen.

    Pada masa Sunan Prapen inilah, pamor sebagai wakil Khalifah Ottoman mencapai puncaknya. Bukan saja di Jawa, seluruh Sultan di wilayah Nusantara harus menerima pengesahan dari Sunan Prapen. Itu berarti posisi Giri Kedaton saat itu sama dengan posisi Syarif Makkah. Hal ini nyaris tidak pernah dipublikasikan dalam sejarah nasional, hanya Kesultanan Aceh saja yang menyatakan diri sebagai vassal Ottoman dan menerima bantuan militer langsung dari Istambul. Padahal kisah pengepungan Giri Kedaton oleh pasukan Girindrawardana yang akhirnya memunculkan legenda keris Kalamunyeng perlu dikaji lebih dalam. Disebutkan, pena (kalam) yang dilempar Sunan Giri berubah menjadi keris yang melayang membunuh seluruh prajurit Majapahit. Kisah tidak masuk akal ini sebenarnya adalah sanepan untuk menutupi kejadian yang sebenarnya. Bisa jadi, kisah yang sesungguhnya ialah, karena pengepungan itu, Sunan Giri menulis surat permintaan bantuan dari Ottoman dan kekalahan pasukan Majapahit adalah karena gempuran Angkatan Laut Ottoman mendobrak blokade darat dan laut Majapahit. Disebutkan pula mengenai pasukan tawon yang menyerang pasukan Majapahit hingga lari tunggang langgang kemungkinan adalah adanya berita yang merisaukan mendengung seperti suara tawon yang menyebutkan bahwa blokade laut mereka digempur ankatan laut Ottoman, sehinggan mereka terpaksa mundur. Wallahu a’lam.

    Perkembangan selanjutnya setelah berdirinya Kesultanan Mataram, Giri Kedaton diserang. Setelah Giri Kedaton runtuh, Sultan Agung dan para sultan nusantara lainnya menerima pengesahan gelar Sultan dari Syarif Makkah. Wallahu a’lam.

    Suka

  3. Jangan lupa, Ottoman juga punya wakil lho di Jawa, yaitu sang mufti Tanah Jawa Sunan Giri. Sejarahnya, Majelis Ulama yang jumlahnya sembilan orang dikirim oleh Sultan Mehmet Celebi I dipimpin Maulana Malik Ibrahim, setelah Malik Ibrahim meninggal Sunan Ampel mengumpulkan kembali para ulama yang terpisah dan membentuk Majelis Ulama generasi kedua. Pada masa Sunan Ampel, didirikan Masjid Agung di Demak sebagai markas besar Majelis Ulama. Saat itu bertepatan dengan invasi Girindhrawardana atas Ibukota Majapahit. Sunan Ampel mulai berpikir mendirikan negara baru untuk menggantikan Majapahit mengingat umat muslim menerima perlakuan yang baik dari rezim Majapahit. Dengan runtuhnya Majapahit, menyebabkan kekhawatiran tentang keselamatan ummat Islam.

    Tapi sebelum terlaksana, Sunan Ampel keburu wafat. Pimpinan Majelis Ulama dipegang Sunan Giri. Akhirnya dibentuklah pemerintahan kewalian Tanah Jawa yang dipimpin Sunan Giri tahun 1487. Pusat pemerintahan berada di Giri Kedaton, Gresik. Tentu ada pertanyaan, lhoh bukankah Sultan pertama Demak itu Raden Patah? Memang benar Sultan Pertama Demak itu Raden Patah, tapi penobatannya dilakukan pada tahun 1503 (hari jadi Kab. Demak), 16 tahun setelah keruntuhan Majapahit. Adapun kepemimpinan Sunan Giri, beliau menggunakan gelar Sunan (Yang Dipertuan) dan ada yang menyebutkan beliau bergelar Prabu Satmata (gelar Dewa Syiwa), Prabu Girinatha (Raja Gunung/gelar syiwa) dan Tetunggul Khalifatul Mukminin (Andalan Khalifah Mukmin). Sedangkan di kalangan rakyat, beliau disebut wali(dalam bahasa politik Islam artinya gubernur, wakil pemerintah Ottoman di Jawa; bukan wali mursyid sufi yang kebanyakan disangkakan orang) dan Mufti Tanah Jawi. Dalam memerintah beliau dibantu Majelis Ulama yag berjumlah delapan orang, ditambah Sunan Giri sendiri, akhirnya menjadi sembilan orang. sehingga disebut sebagai Dewan Walisongo (Dewan pemerintahan Wali yang terdiri dari 9 orang).

    Lima tahun sebelum wafat, Sunan Giri melihat perlunya Kadipaten Demak berubah menjadi Kesultanan. Akhirnya Sunan Giri menunjuk Raden Patah, Adipati Demak menjadi Sultan Pertama dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah. Sunan Giri menulis Kitab Undang-undang Jayalengkara yang berisi tentang struktur pemerintahan dan Hukum Islam. Dalam kitab tersebut disebutkan bahwa Sultan Demak harus patuh pada keputusan walisongo yang merupakan wakil Khilafah.

    Setelah Sunan Giri wafat, pamor sebagai wakil Ottoman diambil alih Demak. pada 1512 Armada Demak pimpinan Pati Unus menyerbu Malaka. Akan tetapi gagal. Setelah menjadi Sultan pada 1521, Pati Unus kembali mempersiapkan Armada, kali ini dengan bantuan kapal dari Gowa dan Ottoman. Perang sengit kedua di Malaka ini jarang sekali direkam sejarah. Kebanyakan sejarah lebih suka menyebutkan bahwa kematian Pati Unus secara “wajar”. Akan tetapi yang sesungguhnya, Pati Unus Syahid saat penyerbuan tahun 1521 ini. Mungkin saking dahsyatnya pertempuran tersebut, sejarawan sekuler tidak pernah menyebut-nybut penyerbuan yang kedua ini.

    Suka

    1. cahyosetiadi berkata:

      wa’alaykumussalam, silahkan. tapi saya kira lebih lengkap lagi bisa dilihat di link2 sumber yang saya cantumkan di tuliasan di atas. semoga sukses dengan JIBnya🙂

      Suka

  4. arif berkata:

    ya. Utsmani sangat berbeda dan unik dari kerajaan atau kesultanan lain.
    Utsmani mencapai kebesaran dengan sedikit demi sedikit dalam masa beberapa generasi dan memiliki pembinaan yang mengesankan pada calon sultan sehingga kita lihat siapapun yang menjadi sultan akan mampu menjaga kebesaran Utsmani (hingga masa Murad IV).
    Kembali pada aceh, aceh langsung meminta bantuan kepada sultan Utsmani (lewat petisi alauddin riayat shah) dan tidak melalui syarif makkah, berbeda dengan kerajaan lain semisal mataram, makasar, Banten yang memperoleh pengakuan lewat syarif makkah, karena itu aceh memperoleh hak langsung dari sultan utsmani untuk memakai bendera dan perlindungan utsmani, sedang demak, banten, dll tidak.hal sama yang diajukan aljazair lewat permohonan khairuddin barbarosa..pengajuan bantuan langsung pada sultan utsmani.karena perlindungan itu aceh dapat memperpanjang kmerdekaanya lebih dari 300 tahun

    Suka

  5. Ariff berkata:

    Bantuan Ottoman sebenarnya tidak besar pada aceh, awalnya memang 20 kapal, tetapi ketika sampai yaman, syiah zaidiyah yaman berontak sehinggha 19 kapal dikerahkan sebagai batuan bagi prajurit daratan (AD Ottoman)dalam memadamkan pemberontakan yaman.
    yang satu kapal meneruskan ke aceh, isinya senjata dan 500 tentara, tapi ini bukan tentara biasa tapi pelatih militer. dengan 500 pelatih, insinyur dan teknisi plus senjata maka aceh bisa merakit meriam. membangun AL, membuat mesiu, peledak dan sekaligus menaikkan keahlian militernya.
    jadi batuan lebih utk meng upgrade militer aceh sehingga bisa menyamai portugis yang dengan sendirinya mampu melawan portugis..
    Batuan yaman didahulukan berkait keamanan tanah suci, kalo yaman diduduki portugis maka setahap lagi sudah bisa menjangkau 2 tanah suci..artnya wibawa utsmani akan sangat jelek jika sampai itu terjadi

    Suka

    1. cahyosetiadi berkata:

      wah, Rif, kamu tertarik denga kajian Ottoman ya? Sip deh (ada konco). Menurut saya, itu kan satu ekspedisi di zaman Selim II. Sebenarnya masih perlu dilihat lagi, apakah hanya satu ekspedisi ini ataukah ada kiriman ekspedisi lain, di masa Sebelum Selim II seperti yang tersirat dalam surat dari Kerajaan Aceh kepada Suleyman Han… Juga bisa jadi, bantuan tidak langsung lewat khalifah, bisa jadi lewat gubernur, misal Syarif Mekkah, atau Gubernur Yaman. Wallohu A’lam.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s