Kekaisaran Ottoman (part) 4

Djem atau lebih dikenal sebagai Cem Sultan, pengeran yang wafat di luar negeri

Sebagaimana dalam tulisan kemarin, Djem atau Cem Sultan terlah berebut tahta dengan Beyazid. Penguasaan Djem atas Inegol memantik pertempuran antara dua saudara. Beyazid mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Ayas Pasha. Namun Djem berhasil mengalahkan pasukan Beyazid. Kemudian beliau mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan Anatolia. Merasa posisinya cukup menguntungkan, Djem mengirimkan tawaran kepada Beyazid untuk membagi kekaisaran menjadi dua, Rumelia (Eropa) untuk Beyazid dan Anadolu (Anatolia, Asia Kecil) untuk Djem.

Beyazid yang tidak ingin jerih payah leluhurnya hancur menolak tawaran ini. Beliau lalu memimpin pasukan menuju Djem melalui Bursa. Di Yenisehir kedua pasukan bertemu lalu terjadilah pertempuran sengit dengan kemenangan di pihak Beyazid. Djem kemduain melarikan diri ke Kairo. Ia masih terus berusaha merebut tahta sejak saat itu, seperti Musthafa Celebi Sang Pengklaim (the pretender, sebelumnya saya terjemahkan sebagai penipu namun terjemahan tersebut adalah salah), tetapi tidak berhasil.

Ia pernah menyerbu Anatolia kembali dan telah mengepung Konya tetapi dipaksa mundur oleh Beyazid. Djem kemudian berusaha kembali ke Kairo namun gagal karena jalanan dijaga oleh prajurit Beyazid. Lalu ia mencoba lewat laut dengan melewati Rhodes yang saat itu dikuasai Knight of St.John. Tetapi ia justru menjadi tawanan di sana.. Sebagian menyatakan beliau di sana karena undangan Grand Master Knight of St. John. Wallohu A’lam mana yang betul. Yang jelas sejak itu hingga wafatnya Djem tidak pernah melihat lagi tanah airnya. Artinya, Sultan de jurre dan de facto setelah Mehmed Kaisar Romawi adalah Beyezid yang dikenal dengan gelar Sultan II Beyezid Han.

Beyezid : Sultan Turun Tahta

Sultan II Beyazid Han (1481-1512)

Beyazid adalah seorang yang dermawan, beliau senang memberi sedekah kepada orang miskin. Disebutkan bahwa beliau menguasai dua bahasa, Turki dan Persia. Beliau juga menguasi dialek Uighur dan Cagatay, dua wilayah Turki (juga dua entitas kekuasaan/kerajaan di luar Ottoman). Beliau adalah juga pencinta syair dan sering mengundang penyair ke tempat beliau.

Setelah memenangkan pertarungan menuju tahta, Beyazid melakukan perluasan wilayah di Rumeila (Eropa). Beliau menaklukkan Herzegovina, berperang dengan Venice yang terus menjadi duri dalam daging bagi Ottoman, juga bias memaksa Moldavia untuk membayar upeti kepada Ottoman.

Konflik dengan Venice yang maju dalam bidang kelautan menjadikan Ottoman memperbaiki angkatan lautnya. Di beberapa masa mendatang, angaktan laut Ottoman akan menjadi yang terhebat di Laut Tengah.. Pada masa Beyazid inilah pelaut terkenal Ottoman, Kemal Reis melakukan misi ke Spanyol yang sedang terbakar inqusisi. Misi pelayaran ini ditujukan untuk menyelamatkan Arab dan Yahudi Sephradic. Ini memperlihatkan toleransi yang dikembangkan Ottoman.

Beliau juga memerintahkan agar semua gubernurnya memperlakukan pengungsi dari Spanyol tersebut dengan baik. Pengungsi dari Spanyol itu sendiri sesungguhnya memperkaya wilayah Ottoman. Banyak di antara mereka yang ahli dagang, ilmuwan, dan seniman.

Selain ke daerah Rumelia, di daerah Anadolu atau di wilayah Asianya, Ottoman juga mulai terlibat konflik dengan Safavid Persia yang mulai membesarkan pengaruh politik. Safavid mendukung pemberontakan Shiah Kizil Bash. Pemberontakan ini sendiri sangat mengguncang Ottoman. Hal ini menjadikan para pangeran (shezade) melihat ayah mereka sudah tidak mampu mengontrol wilayah dan mereka kemudian mulai bersiap menaiki tahta.

Terdapat tiga pangeran (sehzade) yang memiliki hak atas tahta. Ahmet gubernur Amasya, Korkut yang menjadi gubernur Manisa, dan Selim yang menjadi gubernur Trabizon. Ahmet saat itu berhasil mengalahkan pasukan Safavid dan tentara Karaman. Dengan kemenangan gemilang, Ahmet pulang ke Istanbul. Namun dalam perjalanannya, Selim mengobarkan pemberontakan di sekitar Istanbull. Pemberontakan tersebut berhasil dikalahkan Beyazid II. Sesampainya di Istanbul, Ahmet dilarang masuk kota oleh ayahnya karena beliau curiga Ahmet akan mengkudetanya. Mungkin saat itu Ahmet bersama pasukan yang besar.

Beberapa pejabat hendak menaikkan Ahmet ke tahta, tetapi gagal karena Jenissari tidak mendukung. Faksi lain kemudian mencoba menaikkan Korkut ke tahta tetapi lagi-lagi gagal karena Jenissari tidak mendukung. Agaknya Jenissari lebih mendukung Selim. Akhirnya Sultan II Beyazid Han memutuskan turun tahta untuk mencegah kekacauan semakin menjadi-jadi. Beliau menyerahkan tahta kepada Selim.

Beyazid II kemudian memutuskan untuk keluar dari Istanbul dan kembali ke tempat kelahirannya, Didymoteicho. Tetapi sebelum sampai ke tempat tersebut, beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya, sekitar satu tahun setelah beliau lengser keprabon. Dan dimulailah masa Selim I. Apakah pilihan Jenissari atas Selim tepat dan membawa kegemilangan bagi Ottoman, insyaAlloh akan kita lanjutkan..

Selim Yang Sangar

Yavuz Sultan Selim Han (1512-1520)

Selim memliki penampilan yang sangar. Ia memelihara kumis tetapi tidak seperti leluhurnya, ia memotong jenggotnya. Penampilannya juga unik karena ia memakai anting-anting. Dari penampilannya memang ia pantas digelari Yang Sangat (Yavuz, The Grim). Tetapi di balik kesangarannya Selim adalah seorang yang menyukai ilmu. Tidak hanya okol tetapi akalnya juga isi.

Beliau dididik oleh cendikiawan ternama saat itu, Mevlana Abdulhalim. Beliau menyukai ilmu pemerintahan, teologi, dan sains. Beliau juga pandai berkuda, bergulat, dan memanah. Ini menunjukkan ia seimbang antara ketertarikan akan militeris dan keilmuan serta seni. Bahkan beliau menulis syair. Ini karakter yang bagus memang untuk menjadi Sultan.

Beliau juga tidak menyukai kemewahan dan menyenangi kesimpelan sehingga uang perbendaharaan kekaisaran bias dihemat. Pada masanya gudang perbendaharaan pernah sangat dipenuhi harta lalu beliau berikrar “Jika ada anak cucuku yang bias memenuhi gudang ini lebih dari yang aku lakukan, ia boleh mengganti gembok gudang ini dari dengan gembok baru miliknya, tetapi jika tidak mereka harus tetap menggunakan gembok milikku ini” Tetapi tidak ada sultan setelah beliau yang sanggup menyaingi jumlah uang yang beliau kumpulkan di perbendaharaan kerajaan. Sehingga para sultan bergantian menggunakan gembok Selim.

Walaupun terlihat sempurna, ada satu peristiwa yang memang kurang baik. Selim menghabisi seluruh saudara dan ponakan laki-lakinya agar tidak ada ancaman munculnya pengklaim tahta (the pretender) seperti yang muncul di zaman kakeknya, kakek buyutnya, bahkan yang terjadi antara dia dan Ahmet. Mungkin saat itu Selim berfikiran untuk mencapai kestabilan negara. Seperti represi di zaman Pak Harto untuk stabilitasi negera. Memang tujuannya baik, tetapi mungkin caranya kurang pas untuk ditiru.

Kepribadian Selim memang dikatakan energik. Sidang kerajaan (royal court) pada masanya sangat dinamis, penuh dengan reward tetapi punishment-nya juga ngeri. Bisa hingga hokum penggal. Dikisahkan Selim beberapa kali memenggal kepada wasir utamanya. Ini menjadikan sebagian orang menganggapnya berkarakter temperamental. Wajarlah jika beliau dijuluki Yavus (Yang Hebar, Yang Sangar). Maka gelarnya adalah Yavuz Sultan Selim epribadiannya memang sangar dan hebat. Tapi bagaimana dengan pencapaiannya?

Agaknya pencapainnya juga hebat, seperti yang terlihat dalam kisah gembok perbendahaaraan kerajaan. Dalam penaklukan, Selim mengarahkan lebih dahulu perhatiannya ke Savafid Persia yang sedang berkembang di bawah Shah Ismail. Hal ini mengingat kekacauan yang diakibatkan pemberontakan Kizil Bash yang didukung Safavid. Ottoman belum sempat membalas ini di masa Beyazid II.  Maka Selim segera berangkat bersama pasukannya menyerang Safavid. Tentara dua kerajaan bertemu di Caldiran dan terjadilah pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Caldiran.

Monumen di lokasi Pertempuran Chaldiran

Selim memenangkan perang dan Shah Ismail melarikan diri. Selim terus berjalan menuju Tabriz, pusat kekuasaan. Beliau mengekspor para seniman dan ilmuwan dari kota ini ke Istabul. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap seni. Hasil dari kampanye ini adalah memulihkan kekuasaan Ottoman di senatero Anatolia.

Selim meneruskan penaklukkannya ke arah Mameluk di Turki. Ada yang menyatakan penyerangan ini didasarkan impian Selim untuk menyatukan seluruh Turki Islam ke dalam kekuasaan Ottoman., termasuk Mameluk yang juga bersuku bangsa Turki ini. Secara politik penaklukkan ke Mameluk akan mengamankan perbatasan Anatolia Ottoman yang sering terancam kekuatan baik Mameluk maupun Safavid, dua kekuatan besar di samping Ottoman di wilayah timur tengah saat itu.

Kemenangannya di Pertempuran Marj Dabiq menjadikan Ottoman berkuasa atas wilayah Syiria. Sultan Mamaluk, Al-Ashraf Qansuh al-Ghawri, wafat dalam pertempuran ini dalam berbagai versi. Setelah memenagkan pertempuran ini, Selim melanjutkan penaklukkannya ke Kairo yang saat itu diperintah al-Ashraf Turman Bey II, wakil Sultan terdahulu yang telah dinobatkan sebagai Sultan baru Mameluk. Dalam Pertempuran Ridaniyah, Turman Bey II berhasil dikalahkan dan Ottomanpun berkuasan atas seluruh Mesir.

Selim juga memperluas kekuasaan Ottoman ke daerah Nejed, tempat dua situs suci muslim, Makkah dan Madinah. Setelah kedua tempat ini ditaklukkan, Selim menggunakan gelar Khadimul Haramayn (Pelayan Dua Kota Suci). Gelar ini masih digunakan para sultan Saudi sekarang.

Setelah Makkah dan Madinah (Nejed) dikusai, Selim meminta Al-Mutawakil III untuk menyerahkan gelar Khalifah kepadanya secara resmi. Al-Mutawakil III adalah keturunan terakhir Kekhalifahan Abbasiyah (Abbasids) yang berdiam di Kairo. Memang sejak Baghdad jatuh, para Khalifah keturunan Abbasiyyah bermukim di Kairo. Jadi, secra resmi gelar Khalifah, Amirul Mukminin masih dipegang oleh Al-Mutawakil III.

Wilayah Ottoman di masa Selim I, tiga kali lipat dari yang sebelumnya

Gelar  tersebut kemudian diserahkan kepada Selim. Kelengkapan kebesaran Khalifah, yaitu pedang Nabi Muhammad, selendang Nabi Muhammad, dan cap kemudian diserahkan. Mengenai selendang tersebut, saya pernah membaca di Tarikh al-Khulafa bahwa mantel khalifah yang diwariskan dari khalifah ke khalifah memang adalah mantel Nabi Muhammad. Warna mantel tersebut adalah hijau. Mantel tersebut menjadi perangkat kebesaran Khalifah dai Dinasi Abbasiyah (Abbasid) dikarenakan dulu mantel tersebut dihadiahkan Nabi Muhammad SAW kepada Abbas RA, leluhur para sultan Abbasiyah. Benda-benda tersebut masih bisa Anda lihat di Istana Topkapi, Istanbul.

Penganugerahan gelar Khalifah dilaksanakan di Masjid Ayasofya Istanbul. Al-Mutawakil III sendiri yang mengalungkan selendang Khalifah kepada Selim. Setelah mendapatkan gelar Khalifah, Selim menggunakan gelar baru, Malik ul-Barreyn, wa Khakan ul-Bahrayn, wa Kasir ul-Jayshayn, wa Khadim ul-Haramayn, Raja dua daratan (Eropa dan Asia), Khakan dua lautan (Laut Tengah dan Laut Hitam), Penakluk dua pasukan (Safavid dan Mameluk), dan Pelayan dua tanah suci (Mekkah dan Madinah). Gelar yang besar ini memang pantas untuk pencapaiannya yang luar biasa. Di masanya, wilayah Ottoman meluas tiga kali lipat.

Setelah hingar-bingar tersebut, Selim kembali mempersiapkan tentara. Katanya, tentara tersebut untuk penyernagan Hungaria. Tetapi sebelum itu Selim wafat. Secara umum beliau wafat akibat sakit. Tetapi ada juga yang mengatakan beliau diracun. Sekitar 8 tahun masa pemerintahan Selim disebut dalam sejarah sebagai masa gelmilang Ottoman. Walaupun tidak mencapai puncaknya, pencapaian Selim dalam waktu singkat layak dipuji.

Sumber: Osmanli700, TheOttomans, Wikipedia, dll

Kekaisaran Ottoman (part) 4

11 pemikiran pada “Kekaisaran Ottoman (part) 4

    1. cahyosetiadi berkata:

      wah, baru kebalas sekarang, sudah tidak oke ya sarannya. tapi tetap disampaikan🙂 coba dibaca sejarahnya seperti cerita. Mmm, coba tonton Muhtesem Yuzyil biar bisa kebayang bagaimana konteksnya🙂

      Suka

  1. arif berkata:

    hukum suksesi utsmani, sewaktu sultaan (ayah) hidup maka seluruh putra dewasa pria duduk di kursi gubernur.ketika ayah meninggal maka seluruh putra bertempur dan bersaing untuk tahta hingga satu muncul penuh kemenangan (untuk menjadi sultan)

    Suka

    1. cahyosetiadi berkata:

      Benar sekali, maka di tiap pergantian Sultan kita lihat ada masa perperangan sebentar. Tapi sepengetahuan saya, setelah (kalau tidak salah) Kanuni Sultan Suleyman, hukum itu dihapus dan diganti diengan hukum pewarisan, tahta jatuh ke anak pertama, itu setahu saya. Coba dicek lagi di web-web referensi di tulisan saya.
      Menurut saya, setelah hukum tersebut diganti, para Sultan jadi pada lemah dan Wazirlah yang menjadi kuat. Wallohu a’lam

      Suka

      1. arif berkata:

        Benar, tetapi ada beberapa sultan yang berbuat itu setelah masa sulaiman qanuni..semisal murad III yang mengeksekusi 5 saudaranya, Mehmed III mengeksekusi 19 saudaranya, Murad 4 mengeksekusi 4 saudaranya hingga yang terakhir berbuat adalah mahmud II.
        yang pertama memulai adalah Mehmed I dalam masa interegnum (setelah beyazid I ditawan timurlenk) dan diakhiri Mahmud II

        Suka

      2. arif berkata:

        benar sistem itu menjadikan sultan lemah. karena dengan menjadi gubernur maka para shehzade (pangeran)belajar untuk memerintah, menjadi gubernur adalah latihan menjadi sultan, sultan yang tidak tega membunuh saudaranya menciptakan kafes (penjara mewah)untuk saudaranya..seperti Ahmed I, utsman II,dsbh, tujuannya agar para saudara tidak mampu membuat perencanaan kudeta atau pemberontakan..
        ya. sultan lulusan kafes terbiasa hidup mewah seluruh keinginan dipenuhi (kecuali kebebasan)dan tidak berpengalaman memerintah sehingga pengaturan negara diambil alih shadr azm (PM).berbeda dengan sultan lulusan gubernur yang sangat ahli dan kompeten (lihat Murad I, Murad II, Beyazid I,beyazid II,mehmed II, Selim the Grim atau sulaiman Qanuni)

        Suka

  2. arif berkata:

    salim the grim. the great khan
    jika beliau memerintah seperti pemerintahan leluhurnya mehmed, beyazid, murad (30 th pasti ottoman jadi lebih dahsyat)

    Suka

    1. cahyosetiadi berkata:

      Salim the grim menurut saya telah memerintah dengan dahsyatnya, sebanding dengan Fatih Sultan. Selim berhasil mengalahkan musuh lama Ottoman, yaitu Mameluk dan Safavid, meluaskan tanah Ottoman menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, dan yang tidak pernah dicapai Sultan sebelum dan sesudahnya, memenuhi pundi-pundi bendahara istana hingga penuh sesak.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s