Kekaisaran Ottoman (part 3)

Agaknya Alloh SWT memerintahkan saya untuk menyelesaikan tulisan “iseng” mengenai Ottoman ini. Setiap saya mencoba ngegamemalam ini (01/08/2010) selalu gagal. Baiklah, kita lanjutkan kisah terdahulu.

Mehmed Sang Kaisar Roma

Fatih Sultan Mehmed Han (1444-1446 dan 1451-1481)

Setelah Sultan II Murad Han wafat, beliau digantikan anaknya, Mehmed (Arabnya adalah Muhammad). Sultan Mehmed kemudian melanjutkan penaklukkan buyutnya, Yildirim Bayezid yang tertunda. Seperti yang kita ingat, bahwa Beyazid Sang Petir pernah melakukan pengepungan atas Konstantinopel, tetapi kemudian gagal karena ada serangan dari Tamerlame. Selain itu, perperangan antara Ottoman dengan Byzantium masih berlanjut setelah taktik Byzantium membangkitkan Pemberontakan Musthafa Celebi gatot alias gagal total. Murad II belum berhasil menaklukkan Konstantinopel karena pemberontakan adiknya, Musthafa.

Maka, segera setelah beliau naik tahta, beliau berencana menaklukkan Konstantinopel, Pusat Kerajaan Byzantium. Mengenai penaklukkan Konstantinopel ini sebenarnya telah dinubuatkan (“diramalkan”) oleh Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alyhi wa sallam. Secara politik dan ekonomis Konstantinopel memang menguntungkan. Secara politis Mehmed akan menjadi penguasa tunggal di selat Dardanella, selain itu ini akan menegaskan kekuasaan Ottoman agar negara lain tidak mencoba mengacau keadaan dalam negeri Ottoman seperti yang telah dilakukan Byzantium dengan melanggar kesepakatan dan membantu bahkan memprovokasi Pemberontakan Musthafa Celebi atau Musthafa Sang Penipu. Maka Mehmed II memulai usaha penaklukkan Byzantium.

Saat itu, ibukota Ottoman telah dipindahkan ke Edirne. Maka dari sini usaha penaklukkan Konstantinopel dimulai. Mehmed II mulai membangun tembok-tembok tinggi di perbatasn Edirne. Ia juga memerintahkan insinyur terkemuka untuk membuat meriam yang sangat besar. Meriam ini menjadi salah satu bagian paling melegenda dari penaklukkan Konstantinopel, bahwa Sultan Memed II menggunakan meriam yang paling besar yang pernah ada di masa itu.

Mengetahui rencana Mehmed II, Kaisar Byznatium saat itu, Constantine XI, mulai memperkuat benteng-benteng kota yang sebelumnya memang kuat dan sangat sulit ditembus. Penguatan dinding-dinding kota tersebut menjadikan Konstantinopel semakin sulit ditaklukkan. Beliau juga menghubungi Roma untuk meminta bantua Pasukan Salib (Crusader) dari Paus. Namun pembicaraan bantuan berhenti karena adanya permintaan untuk menggabungkan Gereja Ortodox Konstantinopel dengan Gereja Katolik Roma.

Setelah persiapan selesai Mehmed bersama pasukannya bertolak dari Erdirne menuju Konstantinopel. Sebelumnya Mehmed mengirimkan surat kepada Constantine XI untuk menyerahkan kota secara damai. Namun Constantine XI menolak. Maka dimulailah pengepungan terhadap Konstantinopel. Namun kemudian Mehmed II menyadari bahwa pengepungan darat saja akan sia-sia karena armada laut dari beberapa negara lain masih membantu Byzantium. Menyadari hal ini, Mehmed II memerintahkan pembangunan armada laut.

Saat armada laut akan mendekati Konstantinopel terdapat suatu masalah, yaitu di laut sekitar Konstantinopel telah dipasangi rantai-rantai besi sehingga kapal tidak bisa memasuki perairan Konstantinopel. Namun Mehmed tidak kehilangan akal. Ia kemudian membawa kapal-kapal tersebut melalui jalur darat untuk mendekati Konstantinopel. Pemindahan kapal-kapal ini juga menjadi legenda dalam penaklukkan ini di samping artillery atau meriam besar.

Dua legenda yang sering disebut-sebut dalam kisah penaklukkan Konstantinopel adalah meriam terbesar dan pemindahan kapal lewat jalur darat. Bahkan pemindahan kapal ini juga memunculkan mitor tersendiri. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa pemindahan kapal bukanlah dengan ditarik melalui jalur darat, melainkan dengan karamah Sultan Mehmed II. Wallohu a’lam, yang jelas sejarah di Turki membenarkan versi pemindahan kapal melalui jalur darat dengan ditarik oleh pasukan. Pemindahan melalui jalur darat ini berhasil mengantarkan 72 kapal perang mendekati Konstantinopel lewat laut. Bayangkan, di masa itu, 72 kapal perang diangkut dengan jalur darat!

Setelah dua kali usaha penggempuran (assault) terhadap Konstantinopel dan belum berhasil menaklukkan kota tersebut pasukan Mehmed II mulai kehilangan kepercayaan. Namun, Mehmed II menyemangati kembali pasukannya dan menyatakan bahwa akan diadakan penggempuran terakhir dan terbesar pada tanggal 29 Mei. Beliau menjanjikan bahwa penggempuran terakhir tersebut akan berhasil menaklukkan Konstantinopel. Dan janji beliau tersebut betul, gempuran (assault) besar terhadap Konstantinopel mengakhiri pengepungan (siege) dan berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan Mehmed II Han mendapat gelar Fatih yang dalam Bahasa Arab berarti Pemenang, Pembuka Jalan, atau Penakluk dan beliau dikenal dengan Fatih Sultan Mehmed Han atau secara singkat Fatih Sultan. Mehmed kemudian memindahkan ibukota kesultanannya dari Edirne ke Konstantinopel dan mengganti nama kota tersebut menjadi Istanbul, ibukota kesultanan yang keempat.

Setelah penaklukkan tersebut, karena berhasil meruntuhkan Byzantium dan mengambil alih ibu kota Romawi Timur, Fatih Mehmed mengkalim gelar Kayser-i Rûm(Caesar Romanus= Kaisar Romawi). Klaim ini wajar, karena Sultan telah menguasai hampir seluruh wilayah Byzantium dahulu. Namun kerajaan-kerajaan Eropa lainnya tidak mengakui hal tersebut sehingga Fatih Mehmed kemudian berusaha melakukan penaklukkan terhadap Roma, ibu kota Romawi Barat. Usaha penaklukkan ini hanya berjalan sampai Otranto, dekat Appulia. Namun, setelah wafatnya Fatih Sultan, usaha ini dihentikan dan pasukan Ottoman di Otranto ditarik mundur.

Peta Ottoman di masa Fetih Sultan. Hampir semua wilayah Byzantium "diwarisi" Ottoman.

Mehmed II mengijinkan orang-orang Yunani dan Yahudi untuk bermukim di tanah Ottoman. Setelah penaklukkan Konstantinopelpun, Fatih Mehmed tidak mengganggu institusi Greek Orthodox Patriarchate. Bahkan beliau mengizinkan Armenian Orthodox Patriarchate yang sebelumnya dilarang. Namun, Bulgarian Orthodox tetap berada di bawah kewenangan Greek Orthodox Patriarchate. Hal ini menunjukkan adanya toleransi beragama dalam Ottoman Empire, setidaknya pada masa Mehmed II. Toleransi juga ditujukan kepada Yahudi yang dipersilahkan untuk tinggal dan menetap di wilayah Ottoman khususnya Istanbul. Selain karena toleransi, kebijakan ini juga menguntungkan secara ekonomi karena banyak orang Yahudi dan Yunani yang berprofesi sebagai pedagang, juga banyak yang memiliki keahlian khusus (professional).

Firman Perlindungan Mehmed II terhadap Fransicans di Bosnia

Setelah penaklukkan Bosnia akibat Rajanya yang menolak membayar tribute rutin, di tahun yang sama dengan tahun penaklukkan, Mehmed II mengeluarkan firman (titah) yang di dalamnya menyatakan perlindungan terhadap Komunitas Fransiscans Bosnia, greja mereka, dan segala kepemilikan mereka. Dalam Firman tersebut beliau juga bersumpah antas nama Alloh akan menjalankan Firman ini dengan tetap. Hal ini menunjukkan beliau adalah seorang yang toleran terhadap agama lain. Katanya, naskah asli firman ini masih disimpan di biara Fransiscan di Fojnica.

Tidak salah jika Mehmed II dijuluki Fatih, ia tidak hanya berhasil menaklukkan Konstantinopel, tetapi juga Morea, Bosnia, Albania. Mehmed II juga menaklukkan Trabzon dan mengakhiri Kerajaan Trebizon. Beliau juga mampu mengalahkan Uzun Hasan dari Kerajaan Ak Konyulu dalam Pertempuran Otlukbeli.

Konflik dengan Ak Konyulu bermula dari konflik yang terjadi di Karaman. Saat itu terjadi perselisihan antar pangeran memperbutkan tahta. Salah seorang pangeran, Ishak Bey, meminta bantuan Ak Konyulu dan seorang lagi, Pir Ahmed, meminta bantuan Ottoman. Ottoman menyepakati membantu Pir Ahmed dan berhasil mendudukkannya ke atas tahta. Tetapi kemudian Pir Ahmed menjalin perjanjian dengan Venice yang saat itu sedang bermusuhan dengan Ottoman (setelah Perang Salib kedua negara masih dalam keadaan perang). Hal ini menjadikan permusuhan antara Karaman dan Ottoman. Segera Mehmed II menaklukkan Karaman. Pir Ahmed kemudian meminta perlindungan Ak Konyulu yang kemudian melindunginya. Inilah yang semakin merusak hubungan kedua negara yang sudah tidak akur sehingga terjadi Pertempuran Otlukbeli dengan kemenangan di Ottoman.

Fatih Mehmed memiliki panglima terkemuka yaitu Gedik Ahmet Pasha yang berhasil menaklukkan Otranto di wilayah Italia sekarang dan Caffa/Crimea di utara Laut Hitam (Karadeniz) dan menjadikan Crimea sebagai vassal Ottoman. Caffa adalah salah satu daerah kekuasaan Genoa. Secara militer, jika daerah ini tidak dikuasai, kapal-kapal Genoa dapat dengan mudah mencapai Istanbul dari Caffa. Sehingga ditaklukkanlah daerah ini.

Imperial Hall di Istana Topkapi (Topkapi Sarayi). Istana ini dibangun oleh Fatih Sultan Mehmed Han.

Dalam bidang kebudayaan, Fatih Mehmed adalah Sultan yang memulai pembangunan Istana Topkapi. Keindahan dan kemegahan istana ini masih bisa kita lihat sampai sekarang. Selain itu beliau juga mendirikan Univeristas Fatih (Fatih Kulliyesi), 300 masjid, 57 sekolah, 59 tempat pemandian umum, 29 pasar, dll. Beliau juga memperbaruhi adminsitrasi dan sultan pertama yang menetapkan hukum tertulis (kanun).

Mehmed II juga meningkatkan kemampuan angkatan laut Ottoman. Hal ini dalam rangka mengimbangi kemampuan Venice dan Genoa yang saat itu menjadi musuh Ottoman. Kedua negara tersebut memang ahli dalam bidang kelautan. Untuk memperkuat angkatan laut, dibangunlah galangan kapal di daerah sekitar Istanbul.

Semua pencapaian tersebut didapat tidak lain karena memang Mehmed II adalah Sultan yang pandai lagi berani. Selama masa 30 tahun kepemimpinannya, sudah 25 kali beliau mempimpin penaklukkan. Artinya hampir setiap tahun belaiu memimpin satu perperangan. Selain itu, saat menaklukkan Konstantinopel, usia beliau baru 21 tahun, saat itu beliau telah menguasai 7 bahasa. Hal ini berkat pendidikan dari guru beliau, Cendikiawan Aksemseddin. Beliau juga sangat tertarik pada ilmu pengetahuan, misalnya beliau mengundang Alu Kuscu, Ahli Astronomi, ke observatorium di Istambul.

Setelah segala pencapaian yang luar biasa tersebut, Sultan Mehmed II wafat secara misterius. Ada yang mengatakan beliau diracun secara pelahan oleh dokternya yang masih keturunan Venice. Ada juga yang bilang beliau diracun atas perintah Beyazid II putera beliaul. Wallohu A’lam mana yang benar. Yang jelas, wafatnya beliau sempat dirahasiakan oleh wazir beliau, Karamanli Mehmet Pasha.  Hal ini untuk mencegah chaos timbul setelah kewafatan Sultan. Sebelum Sultan baru dilantik, wafatnya Sultan dirahasiakan. Karamanli melihat ba Djem Zizim (Cem Sultan) yang saat itu menjabat gubernur Karaman dan Konya paling berpeluang untuk menjadi Sultan setelah beliau. Selain Djem, calon pewaris tahta yang lain adalah Beyazid, gubernur Sivas, Tokat, dan Amasya.

Memang Karamanli Mehmet mengirimkan surat tetang berita wafatnya Sultan secara bersamaan ke Djem dan Beyazid. Secara matematis, Djem harusnya sampai lebih dahulu daripada kakaknya, Beyazid, karena posisi Djem saat itu lebih dekat ke Istnabul daripada posisi Beyazid. Oleh karena itu menurut Karamanli, Djem yang lebih berpeluang. Namun di Anatolia, kurir menuju Djem tertahan dan Djem akhirnya terlambat mengetahui berita wafatnya Sultan.

Di Istanbul sendiri, Jenissari kemudian mengetahui wafatnya Sultan. Mereka menganggap kegiatan Karamali menyembunyikan wafatnya Sultan ini adalah langkah  untuk mengangkat Djem. Mereka menyangka Karamanli adalah antek Djem. Kecurigaan timbul karena saat itu mereka tidak boleh masuk kota Istanbul. Padahal, Jenissari di saat itu lebih mendukung Beyazid. Akhirnya mereka memerangi wazir Karamanli dan berhasil membunuhnya. Ishak Pasha, mantan wazir utama,  melihat hal ini sebagai bahaya. Maka, sembari menunggu Sultan baru datang, yang kemungkinan besar itu adalah Beyazid karena Beyazid telah menerima berita wafatnya Sultan, Ishak Pasha mengangkat Korkut anak Beyazid sebagai pengurus tahta sebelum Beyazid sampai ke Istanbul. Pada 21 Mei 1481 Beyazid ditahbiskan menjadi Sultan

Sementara Djem yang terlambat mengetahui berita wafatnya sang ayah, pada 27 Mei 1481 tiba di Inegol dengan 4000 pasukan. Tibanya Djem di Inegol ini dilihat sebagai usaha pembangkangan oleh Beyazid. Menurut nya Djem telah meng-assault Inegol. Maka Beyazid mengirimkan tentaranya di bawah pimpinan Ayas Pasha untuk memerangi Djem. Lalu dimulailah perang saudara antara Beyazid dan Djem atau yang lebih dikenal sebagai Cem Sultan.

Lalu, apakah kerja keras para leluhur kedua pangeran tersebut akan sia-sia karena kerajaan mereka menjadi hancur? Siapakah di antara mereka berdua yang akan menduduki tahta? Ataukah ada orang lain yang akan menduduki tahta? InsyaAlloh dilanjutkan di waktu mendatang….

Sumber: Osmanli700, Wikipedia, The Ottomans, CroatianHistory, TravelPod, dll.

Kekaisaran Ottoman (part 3)

2 pemikiran pada “Kekaisaran Ottoman (part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s