Catatan Dari Ibu Kota

Saya tercenung sesaat melihat tingkah polah para pengguna jasa kreta api di Stasiun Jatinegara. Di dalam gerbong sebenarnya masih lowong, tetapi yang berada di dalam mengunci pintu sehingga para calon penumpang KA tidak bisa masuk. Kemudian setelah dipaksa baru pintu mau dibuka, itupun setengah hati hingga beberapa anak-anak terjepit. Mereka menjerit “tolong-tolong…”. La ilaha illa Alloh…

Saya teringat akan berita yang akhir-akhir ini mendominasi TV, berita tentang kekerasan. Kampung satu bertempur dengan kampung dua. Kelompok satu tawur dengan kelompok dua. Ini mencerminkan masyarakat kita yang sudah tidak memperdulikan satu sama lain.

Saya merasa diri saya sudah menjadi seperti itu, individualistis, tidak memperdulikan orang lain. Dulu, jika ada orang lain yang berdiri sementara saya duduk di dalam bis saya merasa tidak enak. Terkadang jika perasaan tidak enak itu menyiksa saya akan menyerahkan tempat duduk saya kepada orang itu. Tetapi sekarang, setelah tiga kali melakukan perjalanan usaha ma’isyah ke Ibu Kota, saya menjadi berubah.

Saya merasa cuek jika ada orang berdiri di angkutan umum sementara saya duduk. Dari perjalanan saya mencari penghidupan di Jakarta, orang-orang tidak perduli kepada saya apakah saya capek, kelelahan, ngantuk setengah mati. Yang diperdulikan orang lain ya cuma isterinya, anakanya, dan dirinya sendiri. Saya jadi berpikir, jika orang tidak perduli akan diri saya, untuk apa saya perduli orang lain.

Saat memperhatikan tingkah polah penumpang KA di Jatinegara, saya teringat pengalaman peribadi saya tadi. Mungkin pengalaman atau lebih tepatnya, kehidupan mereka lah yang telah mendidik mereka menjadi individualistis. Orang ya orang, saya ya saya.

Saya yang tiga kali  saja sudah terpengaruh, apalagi mereka yang telah bertahun-tahun di Ibu Kota. Saya jadi teringat teman saya yang mengeluh apakah akhlak bisa bertahan, saat itu ia baru beberapa bulan di Ibu Kota…

Saya kira memang benar apa yang saya baca di textbook, perilaku tergantung juga pada lingkungan. Jika memang demikian, kalau kita ingin sebuah perbaikan masyarakat agar menjadi lebih perduli, ada baiknya jika kita mulai dengan memperbaiki diri kita. Perlu muhasabah, apakah saya individualistis ataukah tidak?

Catatan Dari Ibu Kota

2 pemikiran pada “Catatan Dari Ibu Kota

  1. kalo boleh aku simpulkan (kalo boleh ya yok, hehe…) kalo mau ‘berdamai’ dengan lingkunagn, semuanya harus dimulai dari diri sendiri. walo lingkungan ‘keras’, cuek, kasar, tapi diri sendiri ga boleh ikut2an begitu.

    Suka

    1. cahyosetiadi berkata:

      Iya sih, kita memeng harus memulai dari diri sendiri. Tapi, mau-tidak mau lingkungan pasti akan berpengaruh pada kita…, sedikit banyaknya

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s