Catatan Dari Rihlah Ziyarah

Ahad kemarin (11/7/2010), bagun-bagun aku segera solat, makan, lalu mandi.  Pagi itu sayabergegas karena katanya jam 05.00 WIB kami yang hendak ziarah harus sudah kumpul. Hari itu, saya akan ikut rombongan ziarah. Perjalanan (rihlah) ini diadakan oleh kelompok trah bapak, aku diajak oleh Bu Lik (bibi). Setelah menungguh lama, ternyata bis baru datang jam 06.45 an, dan beberapa saat setelah itu, kami berangkat.

Tujuan pertama dari perjalanan ini adalah Masjid Menara Kudus yang terkenal. Di barat masjid ini terdapat makam Sunan Kudus yang merupakan satu dari sembilan wali ternama di Jawa, Wali Songo. Saat saya sampi di Kudus jalanan macet. Saya berpikir apakah ini karena liburan atau karena banyaknya orang yang akan berziarah. Ternyata kemacetan disebabkan banyaknya orang berziarah. Memang di kalangan masyarakat berziarah ini seperti menjadi sebuah perjalanan spiritual, sehingga banyak yang senang melakukannya. Terutama orang yang dekat dengan agama dan berpandangan keagamaan nahdiyyah (NU).

Berdasarkan dari penuturan kusir andong yang saya tumpangi dari tempat parkir ke lokasi masjid, tidak selalu ramai seperti ini. Peziarah menjadi ramai saat bulan-bulan tertentu, semisal ruwah (bulan tanggalan jawa) sebelum puasa. Agaknya ini berhubungan dengan kepercayaan yang hidup di masyarakat mengenai bulan-bulan tertentu yang baik untuk berziarah.

Jarak dari tempat parkir ke lokasi masjid memang cukup jauh. Kata bibi saya dulunya tidak sejauh itu. Dari tempat parkir kita bisa naik adong, seperti yang saya lakukan, atau naik ojek atau naik angkot. Rata-rata harganya adalah 2500 rupiah per orang. Tetapi ojek harganya 5000 rupiah perorang. Seperti pada umumnya tempat wisata lainnya, sebelum menggunakan, baik makan atau naik kendaraan umum, tanya-tanya dulu tarifnya atau cari informasi dulu tentang tarifnya. Karena seringkali terdapat oknum yang tidak bertanggung jawab yang suka menembak (menaikkan harga) seenaknya. Oknum seperti ini harusnya diberantas kalau ingin dunia pariwisata maju.

Sebenarnya masjid berada di pinggir jalan, tetapi entah mengapa angkutan umum tidak masuk ke dalam dan menurunkan penumpang di tepi jalan besar. Dari jalan besar itu, kita masuk ke arah utara. Suasana kampung di sekitar masjid saya rasa seperti kampung Kauman di Yogyakarta. Setelah saya perhatikan ternyata memang nama kampung ini juga kampung Kauman. Kauman adalah nama identik dengan pemukiman muslim. Tetapi biasanya loksai kampung ini di sekitar kraton, walaupun tidak selalu. Tetapi bisa jadi memang dulu di sekitar ini ada kraton spiritual Sunan Kudus. Setahu saya beliau memang seorang jenderal (walau tidak pernah memimpin perang), beliau adalah seorang ahli strategi perperangan yang dipercaya Sultan Demak. Di daerah ini, banyak bangunan tua, seperti di Kauman Yogya. Slaah satunya adalah kantor Percetakan Menara Kudus. Dulu saya sering membaca buku terbitan percetakan dan penerbit ini. Tetapi sekarang agaknya penerbit ini sudah tidak aktif lagi.

Yang pertama terlihat adalah menara yang sangat terkenal, menara Masjid Menara. Saya tidak faham kenapa masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Menara Kudus, padahal di gerbang masjid jelas tertera tulisan Masjid al-Aqsha. Di sebuah majalah saya pernah membaca memang agaknya masjid ini dibangun berdasarkan Masjid al-Aqsha di Palestina. Jika kita perhatikan memang ada kemiripan antara bentuk depan masjid ini dengan bentuk Masjid al-Aqsha. Dari majalah tersebut juga saya dapat informasi bahwa Sunan Kudus memang berasal dari Palestina.

Keanehan masjid ini adalah di dalamnya terdapat gerbang yang mirip gerbang zaman Majapahit. Bentuk gerbang ini mirip dengan gaya menara dan gaya arsitektur pagar masjid serta makam di barat masjid ini. Bisa jadi ini adalah arsitektur aseli masjid ini. Sedangkan bangunan luarnya yang mirip dengan arsitektur Masjid al-Aqsha adalah bangunan baru. Kalo memang benar demikian, maka penjabaran majalah yang saya baca tadi salah. Saya tidak paham mana yang benar, untuk itu tentu diperlukan penelitian mendalam.

Setelah sholat dengan di jama’  taqdim qashar dzuhur dan ashar di masjid. Kelompok kami bertolak ke arah selatan masjid. Di sana terdapat pintu masuk ke makam Sunan Kudus. Jika kita perhatikan makam di sana, tidak ada yang melebihi satu jengkal tingginya. Saya jadi teringat larangan Nabi untuk meninggikan makam lebih dari satu jengkal. Memang ada beberapa makam yang tingginya lebih dari satu jengkal, tapi beberapa saja jumlahnya.

Kami diminta melepas sendal saat masuk ke wilayah makam, ini memang sesuai tuntunan Nabi untuk melepas sendal saat masuk wilayah makam. Jika Anda masuk, sebaiknya sendal Anda bawa bersama Anda, karena pintu masuk dan keluar tidak sama dan jika kunjungan sedang ramai Anda akan sulit untuk keluar dari pintu masuk. Jadi lebih baik sendalnya dibawa saja.

Saat memasuki pintu makam, entah gerbang pertama, gerbang kedua, orang-orang pada menyentuhkan tangannya ke bagian atas palang pintu. Saya tidak paham apa maksudnya. Dalam agamapun tidak pernah diperintahkan, yang jelas jika mereka mempercayai bahwa hal itu bisa membawa barakah, itu adalah kepercayaan yang keliru. Ini bisa juga menunjukkan bahwa masyarakat kita cenderung beragama dengan meniru, tidak mempelajari. Hal ini memang bisa terjadi pada masyarakat yang belum mencapai taraf kemajuan. Hal ini sesungguhnya tidak dikehendaki dalam Islam yang mengajarkan orang untuk mempelajari agama bukan meniru-niru tanpa kejelasan maksud.

Ternyata, saya tidak bisa melihat langsung makam Sunan, karena makam beliau diberu cungkup dan ditutupi tembok, seperti berada dalam sebuah rumah kecil. Sehingga para peziarah berkumpul di sekitar rumah tersebut untuk membaca doa-doa. Ada satu hal fatal yang sering dilakukan peziarah. Bahwa mereka tidak menghormati makam-makam lainnya di kompleks tersebut. Seringkali di kompleks makam terdapat makam-makam yang hanya tinggal nisan dan tidak jelas gundukannya. Parahnya makam-makam tersebut kemudian disemen atau dibatako sehingga tidak ada bedanya dengan lantai di sekeliling makam tersebut.

Para peziarah yang tidak tahu dengan santainya menginjak dan bahkan menduduki makam-makam tersebut. Ini tentu perbuatan yang tidak sopan dan sangat dilarang oleh Rasulullah. Saya kira sebaiknya penjaga makam yang mendapat uang banyak dari shadawah peziarah, menyisihkan uang tersebut untuk membuat tanda bagi makam-makam tersebut agar para peziarah yang datang tidak menginjak, melangkah, dan menududuki makam-makam tadi.

Bagi Anda yang berziarah, perhatikan langkah Anda dan posisi duduk Anda, agar tidak melangkah dan menginjak makam-makam yang sudah rata dengan tanah. Anda bisa memperhatikan posisi antara dua nisan. Dari posisi nisan tersebut sebenarnya bisa terlihat bahwa itu adalah sebuah makam. Tetapi jika tidak meperhatikan memang biasanya kita akan dengan santainya menginjak-nginjak makam-makam tersebut. Padahal itu adahal hal terlarang.

Di sekitar makam kami melakukan tahlil berjama’ah. Lucunya tiap rombongan yang datang membawa pemandu do’a sendiri-sendiri dan melakukan zikir sendiri-sendiri. Sehingga terkadang terjadi lomba zikir keras-kerasan suara zikir antar kelompok peziarah. Ini tentunya memprihatinkan. Juga merupakan cermin umat Islam yang mudah sekali terpisah-pisah. Saat melakukan sholat di masjid tadi juga demikian. Setiap rombongan dipimipin oleh ketua rombongannya sendiri. Ini benar-benar cerminan umat yang sulit sekali untuk dipersatukan. Padahal kalo beberapa kelompok menjadi satu dan sholat atau zikir bersama tidak ada salah dan ruginya, bahkan tentunya akan mendapat keuatamaan karena telah menjunjung persatuan umat.

Saran saya kepada penjaga makam, hendaknya disediakan seorang pemimpin doa dengan pengeras suara di makam. Dan para peziarah diwajibkan ikut dengan pempimpin doa tersebut. Sehingga lebih terlihat bersamaan dan tidak semerawut.

Ada satu hal menarik yang saya lihat di Kudus ini. Selepas berdoa beberapa orang meletakkan sesuatu ke dalam makam. Kertas, entah itu surat, entah doa, entah uang. Ini tentu tidak ada tuntutannya di dalam Islam. Dan jika peziarah tersebut melakukan ini karena mengharap ahli kubur akan membantunya, tentu ini adalah syirik. Wallohu a’lam. Tapi yang jelas perbuatan tersebut, jika yang dilepar ke dalam adalah kertas biasa, tentu merupakan perbuatan menyampah. Padahal kita sudah dipesan, buanglah sampah pada tempatnya.

Selepas ziarah dan tahlil di makam, kamipun keluar. Dari masjid ke arah selatan lalu ke arah timur. Di sana ada terminal kecil tempat nongkrong para tukang ojek, tukang becak, dan angkot. Dari tingkah tukang ojek dan angkot, saya lihat sangat tidak sabaran dan cenderung mengagresi para peziarah. Ini sangat keterlaluan mengingat ini adalah kota Sunan Kudus yang sangat menghargai orang lain. Bahkan sangkin menghargai orang lain, Sunan dikisahkan melarang umat Muslim menyembelih sapi untuk menjaga perasaan umat Hindu. Bahkan beberapa bagian masjidnya mirip sekali dengan bagian-bagian candi. Saya kira sebaiknya tukang ojek dan angkotnya lebih berbenah diri agar pariwisata makin maju. Karena malas dengan tingkah tukang ojek dan supir angkot, saya dan bibi akhirnya naik becak.

Dari Kudus, kami beranjak ke Kadilangu, makam Sunan Kalijaga. Suasana di sana ramai juga, hanya saja agaknya parkiranya tidak seluas Kudus sehingga bis peziarah sampai meluber ke jalan-jalan. Di makan Sunan Kalijaga ini kami juga melakukan tahlil, dan terjadi juga sedikit perlombaan dengan kelompok lain.🙂

Di sini, kita juga tidak bisa melihat langsung makam Sunan. Makamnya berada dalam suatu ruangan yang dikelilingin pendopo. Di pendopo inilah para peziarah melakukan tahlil. Di pintu masuk akhir ke makam, terdapat kaligrafi “iiyaka na’nudu wa iyyaka nasta’in” (Hanya kepada Engkaulah Ya Alloh kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah Ya Alloh kami memohon pertolongan). Ayat ini seolah hendak mengingatkan para peziarah untuk tidak terlibat ke aksi syirik. Ziarah boleh, tetapi syirik adalah haram murakkab, haram kuadrat….

Di sini sama saja dengan di Kudus, para peziarah tetap saja  menyentuh palang pintu atas, entah apa maksudnya….

Akhirnya perjalanan sampai juga ke Masjid Agung Demak. Di sini parkiranya sangat dekat dengan lokasi ziarah. Ini tentu memudahkan para peziarah. Terimakasih kepada pemerintah kota Demak atas ini. Tapi ada hal-hal yang harus dibenahi dari pariwisata Demak. Yaitu bidang kuliner. Masa, harga bakso dan mi ayam melejit hingga 8000 rupiah per porsi? Ada yang mematok harga 4000, tetapi porsinya jadi setengah porsi biasa? Ini tentunya harus dibenahi agar pariwisata Demak bisa lebih maju.

Di Demak memang tidak ada makam Wali Songo, tetapi di sini terdapat makam Wali Negeri Muslim Jawa, yaitu Raden Fattah, yang biasa dikenal sebagai Raden Patah. Juga terdapat dua makam sultan setelah beliau. Berbeda dengan dua makam Sunan sebelumnya yang kami kunjungi. Makam beliau tidak dicungkup dan tidak berada dalam sebuah ruangan. Di sini kami juga bertahlil dan berlomba tahlil dengan kelompok di sebelah kami🙂

Hati-hati saat memasuki kompleks, karena setelah melewati tanda “batas sahnya jum’at” itu artinya Anda sudah masuk wilayah makam. Jika Anda melewati tanda itu, di kiri Anda terdapat makam berwarna putih. Sedangkan di kiri Anda terdapat beberapa soko/tiang masjid para sunan yang asli. Karena terpesona dengan peninggalan bersejarah tersebut, saya menjadi lalai bahwa sesungguhnya saya telah masuk lingkungan makam dan tidak melepas sendal. Padahal seyogyanya kita melepas terompah/alas kaki saat memasuki lingkungan makam. Jika melepas sandal, jangan ditinggalkan di pintu masuk karena pintu masuk dan keluar makam berbeda.

Berbeda dari dua makam sebelumnya, saat menghadap makam yang ini ada sedikit perasaan terharu karena saya bisa melihat langsung makamnya. Ini adalah makam seorang pahlawan umat, yang telah berjuang mensejahterakan umat. Semoga amal beliau, Raden Patah, dan juga dua sunan lainnya, Sunan Kudus dan Kalijaga diterima di sisi Alloh… dan semoga perjuangan beliau tidak sia-sia, umat bisa menjadi lebih cerdas… Wallohua’lam.

Catatan Dari Rihlah Ziyarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s