Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Judul tersebut merupakan sebuah slogan yang menunjukkan tidak ada sesuatu yang sempurna. Dan ini betul secara syariat karena kesempurnaan itu hanyalah milik Alloh. Demikian pula halnya dengan organisasi, pastilah ada kekurangannya. Oleh karena itu, setiap organisasi dalam arti setiap anggota organisasi hendaklah terbuka terhadap kritik dan berusaha menerima kritik dengan melakukan perbaikan. Menerima kritik tentu bukanlah menelan kritik tersebut bulat-bulat tetapi menjadikan kritik tersebut sebagai masukan bagi muhasabah (introspeksi diri).

Namun, anggota organisasi terkadang sulit menerima kritik yang muncul, terlebih jika kritik tersebut berasal dari luar. Ini sah-sah dan wajar-wajar saja karena kita adalah manusia yang cenderung bersikap lebih awas dengan ancaman dari luar kelompok (out-group). Sikap awas, sebagaimana yang telah saya sampaikan, tentu perlu agar kita selektif dalam memenuhi kritikan.

Sebagai simpatisan (anggota yang tidak berkontribusi apa-apa terhadap) Muhammadiyah, saya sering panas mendengar kritik dari beberapa teman saya yang berbeda pemahaman keagamaan atau afiliasi. Seperti pagi itu, teman saya sebut saja A n W (perhatian, ini inisial dan bukan merek suatu rumah makan) yang berafiliasi dengan Salafi mengkritik acara Pembukaan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah. Menurutnya acara pembukaan muktamar adalah acara yang membuang-buang uang. Acara malam tasyakuran juga menurutnya adalah membuang-buang uang. Keduanya memperkirakan jikalau kiyai-kiyai pendiri Muhammadiyah masih hidup tentu akan marah besar kepada warga Muhammadiyah yang membuang-buang uang tersebut.

Wallohua’lam kenapa mereka berdua berkata demikian, mungkin dengan maksud baik amar ma’ruf nahi munkar. Tetapi saya pribadi kurang sependapat dengan keduanya. Dan ini bukanlah suatu defence ataupun ketidakrelaan saya persyarikatan saya dikritik. Tetapi jika kita lihat dalam realita, seremonial seperti ini tentunya akan ada di berbagai organisasi.

Saya ambil contoh HAMAS, yang terkenal sebagai organisasi sosial masyarakat di Palestina dan dikenal sebagai organisasi garis keras oleh orang awam di luar Arab. Awalnya saya kira, HAMAS tidak akan melakukan seremonial-seremonial semacam pembukaan atau perayaan (haflah). Tetapi ternyata di youtube.com saya menemukan video peryaan 20 tahun HAMAS. Dengan panggung yang besar, sound system yang megah, dengan konser nasyid, dan segala seremonial yang mungkin akan dipandang A n W sebagai hura-hura juga.

Atau kita ambil contoh PKS. Sebagai organisasi politik (Islam dalam masa lalu) yang artinya juga merupakan organisasi massa yang (dulu) berbasis Islam, PKS mengadakan seremoni munas-nya di hotel-hotel megah. Saya kurang tahu, tapi kalau tidak salah kemarin di Ritz Carlton. Kalau kita selintas berfikir, bukankah munas bisa dilakukan di gedung-gedung biasa, misalnya asrama haji, dll. Sayang A n W adalah Salafi yang agaknya kurang perduli dengan HAMAS dan PKS, kalau mereka tarbiyah, tentu saya bisa bersilat lidah dengan dua fakta ini….hehehe (peace ^^V).

Saadet Partisi, Partai Islam dari Turki di beberapa video yang saya lihat di youtube juga melakukan kegiatan seremonial yang mungkin akan dianggap hura-hura. Kalau mau jujur, tentunya sebagaimana yang telah saya katakan akan banyak organisasi Islam yang terkena tuduhan hura-hura ini karena kebanyakan organisasi Islam tersebut memiliki seremonial sendiri-sendiri. Menurut Kreitner dan Kinicki, seremoni akan selalu ada dalam tiap organisasi sebagai bagian budaya organisasi dan itu diperlukan untuk penguatan organisasi. Hatta di Salafi-pun sebenarnya ada perbuatan yang saya kira bisa saja kena tuduhan hura-hura atau sia-sia. Saya pernah menyaksikan video di Youtube yang memperlihatkan perlombaan hafalan al-Quran bagi anak-anak. Jika kita perhatikan tempat perlombaan tersebut juga sangat mewah, ruangannya juga dihias sangat mewah, persis sperti MTQ di Indonesia. Dulu, seorang ustadz pernah mengkritik MTQ, dia katakan “orang baca Quran dikasih hadiah tetapi orang melakukan isi Quran malah dipenjara”. Beberapa saat yang lalu HTI juga melakukan konfrensi khilafah di Gelora Bung Karno. Kalo orang di luar HTI dan enggak ngerti bisa aja menuduh perbuatan HTI ini sebagai pemborosan.

Kembali ke pembahasan, para pembela HAMAS, HTI, Saadet Partisi, Salafi ataupun PKS tentu akan mempunyai alasan mengapa seremonial-seremonial sedemikian perlu terjadi. Dan bisa jadi alasan-alasan tersebut benar, dalam arti bukan dibuat-buat sebagai pembenaran tetapi merupakan suatu alasan benar bagi pelaksanaan seremoni tersebut. Bisa saja alasan HAMAS melakukan konser dalam peringatan 20 tahunnya tersebut adalah dalam rangka syiar dan konsolidasi anggota. Bisa jadi juga alasan PKS melakukan Munas di Ritz-Carlton karena pertimbangan-pertimbangan tertentu, alasan keperluan politik atau yang lain. HTI dan Saadet Partisi melakukan acara besar-beserana juga bisa jadi karena alasan syiar. Demikian pula para masyaikh melangsungkan MTQ karena ada alasan tersendiri.

Saya rasa mengenai Pembukaan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah, tentu juga ada alasan kenapa pimpinan Muhammadiyah tetap menyelenggarakan rangkaian acara yang dalam pandangan beberapa orang terkesan hura-hura. Pembukaan Muktamar sesungguhnya merupakan sarana syiar dan penguatan identitas keorganisasian anggota. Pada pembukaan tersebut, anggota Muhammadiyah yang bukan merupakan muktamirin (peserta muktamar) diajak untuk ikut merasakan nuansa muktamar, ikut bergembira dengan adanya muktamar, dan merupakan sarana silaturrahmi antara anggota-anggota Muhammadiyah dari seluruh pelosok nusantara.

Salah seorang teman saya yang mengantar penggembira dari NTT menyatakan bahwa penggembira tersebut terkagum-kagum dengan acara pembukaan muktamar dan malam tasyakuran. Ini memperlihatkan bahwa rangkaian seremonial muktamar seperti pembukaan, pawai ta’aruf, dll, merupakan suatu suntikan semangat, bahwa para anggota dan simpatisan Muhammadiyah tidaklah sendirian. Penggembira yang datang dari daerah minoritas dapat melihat bahwa mereka tidak sendiri, ada jutaan (22 juta) teman mereka seorganisasi, yaitu di Muhammadiyah.

Selain sebagai sarana silaturrahmi, seremonial muktamar juga bisa menjadi sarana pembuka wawasan para penggembira. Misalnya saya peribadi mendapatkan pengalaman berharga saat melihat pawai ta’aruf. Saya melihat kontingen dari Bali dan beberapa kontigen lainnya menampilkan kesenian daerah mereka. Ini memberikan insight bagi saya, “ooo, ternyata di Bali dan beberapa daerah lain, kesenian bisa digunakan sebagai syiar.” Juga saat melihat kontingen dari beberapa daerah minoritas muslim tetapi kontingennya bersemangat, saya juga merasa senang dan terbuka pemahaman bahwa di daerah-daerah tersebut banyak juga terdapat muslim-muslim yang siap berkontribusi bagi kemaslahatan bersama.

Sehingga bagi saya, tidak ada masalah dengan diadakannya pembukaan muktamar yang meriah karena toh Muhammadiyah tetap berkontribusi bagi kehidupan sosial masyarakat, dengan pemberdayaan umat, penyediaan fasilitas pendidikan, penyediaan fasilitas kesehatan, dan fasilitas sosial. Artinya, Muhammadiyah tidak melakukan hedonisme dengan hanya hura-hura dan melupakan khittahnya. Demikian juga dengan seremonial lainnya, semisal pawai ta’aruf dan malam tasyakuran. Pada keduanya tentu terdapat manfaat sebagaimana yang saya ceritakan dalam catatan sebelumnya dan sebelumnya lagi.

Artinya, saya pikir tidak bermasalah diadakannya seremonial muktamar karena seremonial tersebut bermanfaat. Walaupun demikian, tentunya seremonial-seremonial tersebut memiliki kekurangan, karena tidak ada gading yang tidak retak. Dan kekurangan inilah yang harus diperbaiki ke depannya. Sayapun memberikan kritik terhadap acara pembukaan muktamar di tulisan saya ini.

Yang perlu saya tegaskan, sebagai orang di luar sebuah organisasi adalah wajar jika kita merasa janggal dengan perilaku organisasi tersebut. Tidak salah juga kita melakukan kritik jika kita merasa ada yang salah dengan perilaku organisasi tersebut, terlebih organisasi Islam, tanggung jawab tawashaw (saling menasehati) justru menjadi lebih melekat. Namun, alangkah baiknya jika cara penyampaiannya diperhalus dan disamarkan atau didahului dengan sikap mencari kebenaran (tabayun). Ini tentu lebih baik karena Alloh telah memerintahkan dakwah itu dengan cara yang baik.

Catatan: Maaf jika menyebut merek afiliasi di sini. Sungguh saya tidak bermaksud offens ataupun kasar.

Tak Ada Gading Yang Tak Retak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s