Kenapa Saya Merasa Musthafa Kemal Tidak Layak Dilaknati?

Dahulu saya benar-benar benci dengan orang yang bernama Musthafa Kemal. Saya, dari majalah yang saya baca, menyimpulakn bahwa dia adalah orang yang paling bersalah atas kejatuhan khilafah. Lalu saya mulai mengikuti majalah yang saya baca dengan menambahkan laknatulloh ‘alayhi, yang mendoakan agar Alloh menimpakan latnat kepadanya.

Tetapi saat membaca Sejarah Turki Modern yang diterbitkan Gramedia, saya mendapatkan sudut pandang baru. Bahwa peristiwa kejatuhan khilafah adalah peristiwa yang rumit dan Kemal Attaturk yang merupakan bagian dari peristiwa tesebut tidak  bisa disalahkan langsung sebagai biang kerok kejatuhan khilafah.

Dalam sudut pandang saya kini, yang mestinya introspeksi diri atas kejatuhan khilafah adalah kaum muslimin. Saat itu khilafah sedang menghadapi saat tergentingnya, Perang Dunia I. Khilafah memihak Kekuatan Sentral bersama Jerman. Inggris sudah mendarat di Mesir dan harusnya pasukan Khilafah siap menghadapi kekuatan imperialis ini di titik-titik sekitar semenanjung Sinai. Tetapi apa mau dikata, tentara di daerah tersebut harus menghadapi dua musuh, tentara Inggris dan “saudara” mereka sendiri, para pemimpin Arab.

Di saat-saat genting tersebut, pemimpin Arab malah memberontak. Pasukan khilafah tentu kocar-kacir diserang dari dua arah, Mesir dan Jazirah Arab. Akhirnya kemudian Palestina dikuasai oleh Inggris. Maka jangan salahkan Belfour atas terjadinya Israel Raya. Tapi introspeksi dirilah kita, siapa yang tergiur dengan tawaran kekuasaan lalu mengacaukan “saudara” sendiri? Pantas saja sekarang tetangga-tetangga Palestian seolah tidak perduli dengan kemalangan Palestina. Mungkin para pemimpin tersebut merasa malu atas masa lalunya menggadai tanah Palestina.

Saya jadi ingat kisah rencana pengiriman kapal perang ke Aceh dari Utsmani. Rencana ini yang harusnya bisa mensukseskan kampanye Aceh atas Portugis di Melaka menjadi berantakan karena terjadinya pemberontakan di Yaman dan Tunisia. Padahal jika Kapal tersebut jadi dikirmkan, mungkin Sultan Iskandar Muda bisa menaklukkan Portugis di Melaka.

Kembali ke masalah awal. Setelah kewalahan diserang dari dua arah, khilafah juga menghadapi pemberontakan dari wilayahnya di Eropa. Kewalahan tersebut tidak juga dibantu oleh usaha kaum muslimin di daerah jajahan Inggris untuk melakukan perlawanan. Sehingga Inggris dengan melenggang mengalahkan aliansi Jerman-Utsmani.

Oleh muslim Arab dikhianati, oleh muslim Albania dikhianati juga, oleh muslim di koloni-koloni Inggris juga tidak dibantu. Maka saya kira seorang yang berfikir untuk menyelamatkan bangsanya wajar tidak memperdulikan sebuah ikatan kekeluargaan sesama muslim atau lebih jelasnya tidak memperdulikan institusi khilafah lagi. Ia lebih perduli bagaimana menyelamatkan negaranya, bangsanya daripada bagaimana menyelamatkan khilafah. Toh “saudara-saudaranya” seiman juga tidak perduli dengan keberlangsungan khilafah.

Maka saat negaranya akan dibagi-bagi menjadi wilayah kekuasaan para pemenang perang, Attaturk mengambil langkah penyelamatan dengan menghapuskan khilafah, artinya menghapuskan negara Utsmani yang kalah perang dan membangkitkan Turkiye Cumhuriyeti atau Republik Turki. Saya kira, sebagai nasionalis, Attaturk berfikir bahwa ini adalah langkah terbaik menyelamatkan negaranya dari penjajahan. Perlu diketahui, Inggris dan sekutu telah mempersiapkan suatu draft perjanjian penyerahan banyak wilayah Utsmani kepada sekutu. Jika perjanjian tersebut disetujui, maka wilayah Utsmani hanya berupa Istanbul dan beberapa daerah di sekitarnya.

Attaturk sebagai seorang yang cinta negaranya tentu tidak mau hal ini terjadi. Maka ia melakukan manufer terebut. Maka saya nilai, wajar jika dalam sejarah kemudian Attaturk melahirkan sebuah peristiwa penghapusan khilafah demikian. Ini adalah respon seorang manusia biasa, yang artinya ia tidak perlu dilaknati walaupun mungkin itu salah.

Kalau ada orang muslim yang suka melaknati Attaturk harusnya bercermin dahulu, apakah mereka yang melaknati tersebut rela berkorban demi kaum muslimin lainnya? Apakah mereka rela mengorbankan golongan demi kepentingan umat? Misal meleburkan partainya dengan partai-partai Islam lainnya? Atau mengikuti perintah pimpinan umat yang pimpinan atau perintah tersebut tidak disukainya? Kalo tidak berani berbuat demikian, maka tidak usah menghujat Attaturk….Wallohu a’lam.

Kenapa Saya Merasa Musthafa Kemal Tidak Layak Dilaknati?

2 pemikiran pada “Kenapa Saya Merasa Musthafa Kemal Tidak Layak Dilaknati?

    1. cahyosetiadi berkata:

      hukume yo wallohu a’lam. opiniku itu bid’ah. tapi di sini yang penting adalah sesetan apakah Mustafa Kemal itu sehingga dilaknat-laknati? itu yang menjadi poinnya. Ia mungkin keliru, tetapi kaum muslimin juga bertanggung jawab atas kekalahan Ottoman yang berakhir pada penghapusannya…..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s