My Play is Fair Play

Itu adalah slogan yang digaung-gaungkan di dunia sepakbola, Indonesia maupun dunia. Tetapi saat melihat beberapa pertandingan saya merasa slogan itu hanya menjadi ucapan belaka tanpa manifestasi atau perwujudan nyata. Bahkan di tingkat sekaliber Piala Dunia atau World Cup, permainan tidak fair terjadi. Padahal saat itu para kesebelasan tesebut sedang membela nama baik negaranya.
Di pertandingan Inggris lawan Jerman misalnya, saya masih ingat bahwa sang kiper Jerman tidak mau mengakui bahwa bola tersebut telah melewati gari atau mistar gawang. Saya yaking sang kiper megetahui hal tersebut dari posisi relatif bola saat ditangkapnya terhadap mistar gawang. Tetapi ia hanya diam saja saat wasit tidak mengesahkan gol tersebut.
Saya pikir, jika si kiper yang saya tidak tahu namanya ini bersikap kesatria atau mematuhi azaz chivalry leluhrunya, tentu dia akan memperingatkan wasit bahwa bola tersebut sudah berada di dalam gawang. Tetapi pada kenyataannya tidak. Ini menunjukkan masih kurangnya semangat fair play di pertandingan sepak bola.
Contoh kasus Jerman-Inggris terebut hanya contoh yang saya angkat. Saya tidak bermaksud memojokkan pendukung salah satu kesebelasan ataupun membela kesebelasan lainnya. Kalimat ini penting saya kemukakan agar tidak ada kesalahpahaman dari pendukung salah satu kesebelasan yang telah disebut. Karena saya seringkali melihat, kefanatikan dukungan menjadikan mata para pendukung tersebut “buta” atau setidaknya mengacuhkan ketidak-fair-an yang dilakukan kesebelasan yang didukungnya.
Peristiwa yang saya alami dengan salah seorang teman saya menyadarkan saya akan hal tersebut. Saya melihat bahwa saat mendukung tim A yang melawan tim B, teman saya yang mendukung tim A seolah mengacuhkan ketidak-fair-an yang dilakukan tim A. Teman saya tersebut tidak begitu antusias untuk membicarakan pelanggaran tersebut. Sementara saya yang mendukung tim B, sangat antusias membicarakan pelanggaran tim A tersebut.
Sementara itu, saat tim C melawan tim D, tim C melakukan permainan yang tidak fair dan teman saya tersebut mendukung tim D, ia sangat antusias untuk membicarakan ketidak-fair-an permainan tim C. Sementara saya yang tidak mendukung siapa-siapa juga tidak antusias untuk membicarakan ketidak-fair-an permainan tim C.
Saya merasa kita, para supporter, menjadi lebih sensitif terhadap masalah fair-tidaknya sebuah pertandingan dari sudut pandang merugikan tim yang kita dukung atau tidak. Ini mengingatkan perkataan salah seorang kakak angkatan saya di kampus, kita menilai keadilan dari sudut pandang kita, katanya. Kalau tidak merugikan kita kita katakana adil, tetapi kalau merugikan pasti akan kita katakana tidak adil.
Saya merasa perilaku yang demikian, peduli terhadap fair-tidaknya pertandingan dari sudut pandang merugikan diri sendiri atau tidak, adalah hal yang kurang baik. Jika kita seperti ini terus, saya rasa permaian yang fair akan terus menjadi slogan semata tanpa pernah benar-benar mewujud ke dalam pertandingan. Wallohu a’lam.

My Play is Fair Play

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s