Catatan Dari Pembukaan Muktamar Muhammadiyah

Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat dari rumah kos teman saya menuju Stadion Mandala Krida Yogyakarta. Niat hati hendak mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar Muhammadiyah. Namun ternyata sampai di sana, sekitar jam 06.00 WIB, tempat untuk penggembira sudah penuh. Bahkan kemudian dari teman saya, Ari, saya mengetahui bahwa penggembira telah berdatangan sejak sehabis subuh. Memang warga Muhammadiyah terlihat antusias sekali untuk mengikuti acara ini. Maklum, acara ini hanya terjadi sekali seabad.
Akhirnya saya dan teman saya, Muhammad Dahlan, hanya bisa menonton acara tersebut dari luar lapangan. Dari layar lebar yang dipasang di halaman parkir Mandala Krida. Saa awal-awal memang cukup terlihat jelas apa yang ditampilkan layar, namun saat menjelang jam 08.00 WIB menjadi tidak jelas apa yang ditampilkan di layar. Saya pikir daripada melihat hal yang tidak jelas, lebih baik saya pulang ke kos untuk melihat siaran langsungnya.
Ada satu hal yang menurut saya harus lebih diperhatikan oleh panitia pembukaan muktamar-muktamar yang berikutnya. Dari pengalaman pertama saya menghadiri pembukaan muktamar, agaknya harus diperkirakan atau bahkan dipastikan, berapa penggembira maupun undangan yang bisa menghadiri perhelatan tersebut. Jumlah tersebut harus berkesesuaian dengan jumlah tempat keberlangsungan acara. Misal jika stadion tempat pembukaan hanya cukup menampung 100.000 orang, maka jumlah undangan dan penggembira diatur agar mencukupi. Dikonfirmasi terlebih dahulu berapa jumlah undangan yang bisa datang, lalu sisanya dialokasikan untuk penggembira.
Jumlah penggembira yang datang bisa diatur dengan berkordinasi bersama wilayah-wilayah seluruh Indonesia. Misal, dari 100.000 tempat di stadion, yang diperuntukkan bagi penggembira hanya 90.000, jumlah ini dibagikan ke wilayah-wilayah. PWM DIY bisa menghadirkan berapa orang, PWM Jabar bisa menghadirkan berapa orang, dst. Kemudian ke wilayah-wilayah tersebut disebarkan tanda masuk resmi penggembira.
Ini tentu akan lebih efektif daripada membiarkan wilayah untuk mengirim penggembira sejumlah yang tidak tentu. Bagi panitia akan lebih menggampangkan pengaturan, bagi penggembira akan lebih puas karena datang jauh-jauh bisa mengikuti acara yang dimaksudkan, dan  bagi pemerintah daerah yang menjadi tuan rumah akan bisa memperkirakan persiapan apa saja yang diperlukan berkait akomodasi dan transportasi.
Kalau saya lihat dari pembukaan muktamar yang kemarin ini, agaknya ada miss dalam hal ketersediaan tempat dengan jumlah penggembira. Saat pembukaan belum dimulai saja, tempat untuk penggembira telah penuh. Padahal dari pandangan mata saya agaknya tidak semua undangan dari World Peace Forum bisa menghadiri pembukaan muktamar, ini terlihat dari tidak penuhnya 3 bis yang mengangkut mereka ke lokasi pembukaan.
Memang di luar lapangan telah disediakan layar besar untuk melihat siarang langsungnya. Tetapi layar tersebut tidak seimbang dengan jumlah penggembira di luar lapangan yang saya perkirakan sekitar 40.000 orang. Selain besarnya layar yang tidak mencukupi, pengaturan tempatnya yang tidak proporsional menjadikan cahaya dari layar kalah oleh cahaya dari matahari sehingga jika saya memandang layar saya tidak bisa melihat apa-apa yang ditamplilkan. Kasihan penggembira yang datang jauh-jauh hendak menyaksikan perhelatan pembukaan muktamar malahan tidak bisa melihat keberlangsungan acara. Saya lihat di antara mereka ada yang sudah sepuh, ada yang lumpuh, ada yang memakai krat (alat bantu jalan) tetapi tidak bisa masuk dan di luar juga mereka tidak bisa melihat apa-apa.
Sebagai seorang kader persyarikatan yang militan, tentu hal begini tidak menjadi masalah. Tetapi sebagai manusia yang memiliki keinginan, tentulah ada rasa kecewa karena keinginan tidak terpenuhi. Bisa jadi berakibat “ngambeknya” penggembira seperti yang saya tulis di tulisan saya yang lain. Maka, saya harap hal-hal demikian tidak perlu terjadi di kesempatan berikutnya. Jika panitia yang meleset memperkirakan keadaan lapangan, harapannya besok-besok panitia yang mengurusi akan lebih cermat. Tetapi bisa juga kekeliruan bersumber dari penggembira sendiri, maka para penggembira hendaknya lebih manut diatur panitia demi kenyamaan bersama. Wallohu A’lam.

Catatan Dari Pembukaan Muktamar Muhammadiyah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s