Catatan Dari Pawai Ta’aruf Muktamar Muhammadiyah

Bulan Juli ini kota Jogjakarta sedang menghadapi perhelatan akbar, Muktamar Muhammadiyah 1 Abad. Berbagai acara dilaksanakan baik sebagai acara utama maupun sebagai acara pendukung. Salah satu acara pendukung muktamar kali ini adalah pawai ta’aruf. Intuisi saya mengatakan bahwa acara pawai ta’aruf ini adalah acara tetap dari muktamar ke muktamar, atau dengan kata lain adalah tradisi muktamar.
Hari itu, Kamis, 1 Juli 2010, saya mengantarkan teman saya Muhammad Dahlan mengantri tiket kereta di stasiun Tugu. Ternyata tiketnya sudah terjual habis. Satu hal yang menarik saya temukan di tempat pemesanan tiket tersebut. Saya melihat ada dua orang ibu-ibu tua yang dating jauh-jauh dari luar provinsi untuk menjadi penggembira muktamar. Sepengetahuan saya penggembira itu tidak diberi biaya, bahkan menggunakan biaya sendiri. Subhanalloh, hebat sekali dua ibu-ibu tua tersebut.
Di stasiun tersebut saya menemukan posko muktamar. Iseng saya mendatangi posko tersebut dan meminta jadwal acara-acara muktamar. Ternyata hari itu ada pawai ta’aruf. Memang sebelumnya saya sudah tahu ada acara pawai ta’aruf. Dari Adi TV saya tahu bahwa pawai akan dimulai pukul 13.30, tapi saya belum tahu rutenya. Dari jadwal yang saya dapat di posko penjemputan muktamar ternyata rute pawainya adalah dari Kridosono – Malioboro – Jl. A. Dahlan – Terminal Ngabean.
Jam 13.45 saya dan rekan, Muhammad Dahlan, sudah nongkrong di sebrang PP Muhammadiyah di Jl. A. Dahlan. Namun agaknya dari sisi tersebut kurang asik melihat pawainya, karena panggung kehormatan berada depan Gedung PP. Pastinya rombongan pawai akan menampilkan pertunjukkannya (display) dengan menghadap ke arah penggung kehormatan. Maka saya dari posisi ini akan mendapatkan bagian belakangnya.
Memikirkan itu, saya pindah ke bagian selatan jalan, di timur panggung kehormatan. Di panggung tersebut telah ada jajaran pimpinan Muhammadiyah. Tapi yang saya tahu tidak banyak, hanya Pak Yunahar Ilyas, Pak Dien Syamsuddin, dan Pak Haedar Nashir. Yang menarik, adalah Pak Dien di tengah, satu orang berselang di sebelah kanan Pak Dien adalah Pak Yun dan satu orang berselang di sebelah kiri Pak Dien adalah Pak Haedar. Pikiran saya “Apakah ini menunjukkan kelompok pemikiran di Muhammadiyah?”
Sebelumnya saya sudah meng-sms teman saya, Zulfi Muhammad Ifani, untuk menonton di sana. Tetapi saya tidak tahu ia jadi menonton atau tidak, katanya tidak ada yang akan diajak menonton. Kemudian pasukan pertama pawaipun muncul. Didahului oleh mobil komando, pasukan yang pertama muncul adalah pasukan Lombok Abang dari Puro Pakualaman.
Pasukan ini datang dengan “marching band” tradisionalnya. Saya jadi ingat kelompok Mehter Tahkimi, Ottoman Military Band yang sampai sekarang masih dipertahankan pemerintah Turki bahkan menjadi kelompok kesenian yang menarik. Coba lihat aksi Mehter Band ini di sini. Saya pikir, military band tradisional di kraton maupun di puro bisa dikembangkan menjadi kelompok kesenian handal seperti Mehter.
Setelah pasukan dari Pakualaman dan pasukan berbaju hijau yang katanya dulu adalah pasukan Demak, muncul pasukan Marching Band HW Wreda. HW adalah kepanduan Hizbul Wathan (Pembela Tanah Air). Jaman penjajahan dulu HW adalah penghasil pimpinan-pimpinan Muhammadiyah dan juga bangsa, salah satunya adalah Panglima Besar Soedirman. Zaman Soeharto, Pandu HW dibekukan karena zaman itu serba terpusat. Ketika zaman berganti menjadi Reformasi, tetua-tetua HW bersemangat untuk membangkitkan kembali kepanduan yang menjadi tempat penggemblengan calon pimpinan umat.
Seperti namanya, Marching Band HW Wreda, marching band ini terdiri dari orang-orang tua HW. Yang saya kagum, walaupun telah berjalan jauh dari Kridosono hingga Jalan A. Dahlan ini, mengangkat beban berat alat-alat marching band, orang-orang tua tersebut masih terlihat bersemangat. Bahkan yang saya perhatikan kelmpok Marching Band HW Wreda ini lebih bersemangat dari kelompok marching band yang anak-anak dan remaja.
Selain kelompok tersebut ada juga kelompok-kelompok lain yaitu Marching Band HW yang terdiri dari 1000 pasukan. Kelompok ini terdiri dari orang tua, orang dewasa, remaja, dan anak-anak HW. Ada juga perwakilan dari sekolah-sekolah dan daerah-daerah.
Ada kontingen dari Bali, dari Jawa Timur, dari Jawa Barat, dll. Berbagai kesenian ditampilkan termasuk marching band. Ya, Muhammadiyah, terutama sekolah-sekolahnya memang identik dengan marching band. Hampir setiap sekolah Muhammdiyah memiliki ekstrakulikuler marching band. Agaknya ini adalah warisan dari HW tempoe doeloe.
Beberapa saat kemudian saya bertemu dengan Zulfi Muhammad Ifani dan Miftah. Dan barisan Pawai Ta’aruf masih panjang. Tidak semua menampilkan marching band atau drum band, tetapi ada juga yang menampilkan kesenian daerah, seperti Tumbuk Lesung, dan musik Bali.
Saat pawai memasuki kelompok-kelompok terakhir, yaitu SMA-SMP Muhammdiyah yang berada di Yogyakarta, kesenian yang ditampilkan menjadi bebeda. Banyak sekali yang menampilkan band-nya. Saya memandangnya sebagai gambaran transformasi kesenian dalam Muhammdiyah. Dulu, marching band menjadi ciri sekolah Muhammdiyah. Sekarang, setidaknya di sekolah menengah Muhammadiyah di Yogyakarta, ciri itu berganti dengan band.
Memang di zaman sekarang, anak-anak muda sedang gandrung dengan dunia music khususnya band. Saya pikir, transformasi ini atau mungkin penambahan ciri seni di sekolah Muhammdiyah dengan hadirnya band-band ini jika disikapi dengan baik bisa menjadi jalan dakwah Muhammdiyah. Anak-anak muda bisa diajak untuk berbuat baik dengan perantara komunitas-komunitas band tersebut. Mereka bisa diajak untuk ikut dalam langkah persyarikatan, atau setidaknya mereka bisa diajak untuk menjadi insan sehat jasmani dan rohani.
Saat menyaksikan beberapa kelompok yang tampil dalam pawai, saya merasa pawai ini kurang esensi, karena walaupun menampilkan marching band atau grup band, jarang yang menyanyikan lagu-lagu Muhammdiyah atau setidaknya Mars Muktamar. Malahan pada menyanyikan atau menampilkan lagu-lagu umum. Padahal ini adalah pawai untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah, setidaknya saya pikir lebih baik jika yang ditampilkan adalah lagu yang bernuansa tersebut.
Tapi tak mengapalah. Mungkin ke depannya akan lebih baik. Yang jelas, saya melihat pawai ini sebagai unjuk awal kemampuan Muhammadiyah. Saya merasa saat menonton pawai tersebut umat Muhammadiyah bisa berkata “Hakadza Quwwatu Muhammadiyah” atau “This is Muhammadiyah”. Inilah kekuatan Muhammadiyah.

Catatan Dari Pawai Ta’aruf Muktamar Muhammadiyah

3 pemikiran pada “Catatan Dari Pawai Ta’aruf Muktamar Muhammadiyah

  1. husin abdul berkata:

    sayang sekali, kayaknya saya terlambat menemukan blok ini…tapi walau demikian sayapun tak lupa menyampaikan ucapan selamat bermuktamar. semoga muhammadiyah tetap jaya di bawah naungan Yang Maha Besar Ilahi Rabbi…dan untuk seluruh anggota Hizbul Wathan yang telah memeriahkan acara ini tertitip salam simpatik dari Palopo. Fastabiqul Khairat……!!!

    Suka

  2. Sayang saya tidak ikut meramaikan meskipun hanya sebagai penggembira.
    Menyoal lagu2 yang ditampilkan dipawai, barangkali lagu-lagu mars muhammadiyah, mars IPM, mars IMM (ada nggak ya) diaransemen dengan improvisasi yang bagus insya Alloh hasilnya menarik. Mars IPM kan lumayan ngebeat, khas lagur remaja.

    Selamat bermuktamar yang seabad buat MUHAMMADIYAH. Semoga ke depan semakin maju dalam berorganisasi dan beramal.
    🙂 Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s