Perilaku Para Pemimpin

Para pemimpin, apakah presiden, imam suatu komunitas, perdana menteri, ataupun sultan sesungguhnya adalah manusia biasa. Tetapi mereka tentu memiliki suatu kelebihan dibandingkan dengan manusia-manusia lainnya sehingga ia bisa menjadi pemimpin bagi manusia lain tersebut. Tiba-tiba saya teringat dengan kisah beberapa pemimpin yang pernah saya dengar, atau lihat, tentunya tidak secara langsung, tetapi melalui perantara lainnya (sumber sekunder).

Persiden Susilo B. Yudhoyono (SBY).

Kemarin malam (12/06/2010) saat sedang melihat-lihat twitter, saya menumukan tweet menarik dari Dino P. Djalal, juru bicara presiden. Tweetnya bercerita bahwa saat pembukaan sebuah acara kesenian di Bali yang dihadiri SBY tiba-tiba turun hujan (entah rintik-rintik entah deras). Sebagian penonton menyingkir pulang. Namun SBY tidak bergeming dari tempat duduknya dan tetap menyaksikan saajian acara pembukaan tersebut. Padahal tidak ada atap, sehingga SBY ikut kehujanan. Karena SBY tidak beranjak, maka para pendamping dan sebagian penonton lain tidak beranjak pula.

Sebenarnya Pak Dino telah melampirkan foto kejadian tersebut, tetapi sayangnya tidak jelas, jadi tidak saya lampirkan di sini.

Basbakan (PM) Recep T. Erdogan

PM Turki yang satu ini mungkin terkenal galak dengan Israel. Tetapi ada satu poto yang menurut saya menunjukkan kualitas aklak (kebiasaannya). Baisanya dalam sesi poto kenegaraan, disediakan tempat untuk para pemimpin negara dengan menaruh gambar bendera Negara tersebut di lantai. Tetapi salah satu poto menunjukkan Erdogan memindahkan gambar benderanya dari lantai agar tidak menginjaknya.

Yavuz Sultan Selim

Sultan Ottoman ini terkenal kejam, menurut suatu artikel di web Maarif Institute, ia membunuh sodara dan ponakannya untuk menghapuskan ancaman terhadap tahtanya. Tetapi, suatu cerita dari Sultan Mehmet Vehidettin (sultan terakhir Ottoman) yang diceritakan dalam Osmanli700.gen.tr, mungkin bisa memberi gambaran berbeda.

Ceritanya, penaklukan Persia yang begitu lama mebuat para tentara Sultan lelah dan berputus asa. Sehingga salah seorang tentara sultan hendak membunuh Sang Yavuz. Saat sultan meninjau tentaranya, sang tentarapun bersiap melancarkan aksinya. Namun entah kenapa saat Selim berlalu di hadapannya, sang tentara melihat seolah-olah Selim sepeti singa yang tidak terkalahkan (mungkin karena kharismanya). Sang tentara lalu memohon ampun pada sang sultan dan mengaku semua yang ia rencanakan. Ia mengira akan dihukum mati sultan, namun ternyata sultan mengampuninya.

Sultan Selim mengatakan “Kamu dibebaskan, pergilah bertempur kembali. Kita membutuhkan tentara sepertimu yang sangat berani bahkan untuk berasaha membunuh kami para sultan.”

Mencontoh dari kisah tersebut, Memet Vehitettin yang telah diasingkan oleh Attaturk Mustafa Kamal, tidak menaruh dendam pada Attaturk. Bahkan ia menyatakan seandainya ia bisa berkuasa kembali, ia akan menempatkan Attaturk sebagai salah satu pemimpin tentaranya.

Itulah segelintir perilaku pemimpin politik, yang menurut saya menarik. Orang yang tidak suka dengan para pemimpin tersebut mungkin akan menyatakan, itu hanya pemanis bibir, tapi saya pikir bisa jadi itu benar, dan jika benar berasal dari akhlaknya, maka cukup keren untuk diangkat.

Perilaku Para Pemimpin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s