Program-Program Pembangunan Psikososial

Tidak diragukan bahwa terdapat hubungan antara faktor sosial dan ekonomis dengan kesehatan mental (Anthony, 2005). Menurut Patel, Swartz, & Cohen (2005) faktor-faktor sosial ekonomi tersebut, di antaranya kemiskinan, kekurangan pendidikan, kekurangan lapangan kerja, dll. menjadi faktor resiko dari kesehatan mental. Artinya, orang yang mengalami keadaan sosial dan ekonomi yang buruk beresiko mengalami ketidaksehatan mental. Dalam bagan yang digambarkan di A Public Health Approach to Mental Health (WHO, 2001), hubungan antara faktor ekonomi khususnya kemiskinan dengan kesehatan mental adalah seperti lingkaran setan yang berketerusan.

Melihat fakta ini, tidak salah jika kita katakana bahwa program-program penanggulangan masalah-masalah sosial dan ekonomi sesungguhnya merupakan program-program prevensi dan promosi kesehatan mental masyarakat. Program-program pembangunan sosial dan ekonomi pula yang disarankan Patel, dkk. (2005) menjadi program prevensi dan promosi kesehatan mental di negara-negara berkembang. Karena memang keadaan ekonomi dan sosial di negara-negara berkembang banyak yang masih bermasalah. Ini terlihat dari human development index (HDI) negara-negara tersebut. Dalam penghitungan HDI oleh WHO pada 2005 tercatat enam negara dari Asia Selatan dan Tenggara yang tercatat memiliki HDI dalam kapasitas terendah (Patel, dkk., 2005).

Program prevensi dan promosi yang ditawarkan Patel, dkk. (2005) adalah program pembangunan manusia (human development programme). Program tersebut adalah advokasi, pemberdayaan, dan suport sosial. Advokasi misalnya melakukan advokasi pemberantasan obat terlarang, atau advokasi meningkatkan aspek spiritual. Pemberdayaan meliputi pemberdayaan ekonomi masyarakat, pemberdayaan perempuan, pecegahan kekerasan di masyarakat, serta pembangunan yang berkeadilan. Dukungan sosial (social support) berupa bantuan kesehatan mental kepada ibu; pendidikan pengasuhan yang benar kepada para ibu; pendidikan life-skill dan promosi kesehatan mental kepada remaja.

Dalam realitanya, program-program tersebut memang dilakukan (dan memang dibutuhkan) di lapangan. Misalnya di daerah konflik Gaza, Palestina. Di sana, UNRWA, lembaga pengungsian PBB melakukan program pendidikan bagi ibu-ibu untuk menghadapi anak-anak yang mengalami distress, pendidikan kepada anak-anak mengenai life-skill dasar, misal komunikasi. Dan berbagai program lainnya yang bertujuan untuk membantu penduduk Gaza yang berada di tengah konflik untuk menyesuaikan diri (UNRWA, tanpa tahun).

Lembaga-lembaga lain, baik LSM, seperti International Organization for Migration (IOM), CBM, Oxfam, Islamic Relief, Qatar Charity, Small Kindness; bentukan pemeritah seperti Canadian International Development Agency (CIDA), telah melakukan berbagai usaha pemberdayaan masyarakat dan pemberdayaan manusia. Program-program tersebut pada dasarnya menjadi program promosi dan prevensi kesehatan mental masyarakat.

IOM di Indonesia telah melakukan berbagai program. Salah satunya adalah IOM membantu RS. Polri untuk merenovasi Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) untuk perempuan dan anak-anak yang mengalami kekerasan di Jakarta dan membantu pusat pelayanan terpadu di Surabaya dan Makassar. IOM telah bekerja untuk meningkatkan kemampuan kapasitas pelayanan tersebut melalui peningkatan kesadaran dan keahlian operasional untuk memberikan pelayanan kepada korban yang lebih berkualitas prima. IOM juga membantu pemerintah membuat Standar Oprasional Prosedur dan Standar Prosedur Manajemen untuk pemberian bantuan kepada korban kekerasan (IOM, 2008). Program demikian tentu sangat bemanfaat dalam mencegah korban kekerasan mengalami kegalauan mental.

Selain membantu pemerintah meningkatkan pelayanan terhadap konrban kekerasan, IOM juga membantu korban kekerasan secara langsung. Misalnya IOM membantu korban secara medis dan psikososial dan membantu reintegrasi mereka ke masyarakat. Melalui jaringan kerja pemerintah, LSM, Lembaga keagamaan IOM melakukan program konseling dan kegiatan peningkatan pendapatan korban (IOM, 2008). Selain bantuan kepada korban kekerasan ini, IOM juga banyak melakukan program pemberdayaan masyarakat lainnya.

Lembaga internasional lain, Oxfam, juga telah melakukan berbagai usaha pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Misalnya di Aden, Yaman, Oxfam membantu sekolah-sekolah; Di Brazil, Oxfam membantu masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal (homeless) untuk membangun rumah-rumah mereka dan membantu mereka dalam melakukan lobi terhadap pemerintah untuk peningkatan fasilitas sosial mereka. Di Darfur yang kekurangan kebutuhan pokok semisal air, Oxfam membangun sumur umum (Oxfam, 2007).

Oxfam memang sejatinya fokus kepada kemiskinan. Dari interaksi dengan penduduk miskin di berbagai belahan dunia lahirlah beberap kegiatan yang telah disebutkan sebelumnya (Oxfam, 2007). Satu kampanye Oxfam yang menarik adalah Gerakan Keadilan Perdagangan (trade justice movement). Gerakan ini menentang pemaksaan pasar bebas oleh beberapa negara besar yang sesungguhnya hanya menguntungkan negara besar saja. Misalnya penghapusan tarif masuk bagi hasil pertanian. Penghapusan tarif ini tentu membahayakan penghidupan jutaan petani di berbagai belahan negara berkembang. Kampanye penentangan tersebut dilakukan dengan berbagai cara semisal demo, dan penayangan film dokumenter pendidikan yang menarik untuk ditonton di stasiun lokal (contoh: JogjaTV).

Islamic Relief (IR), sebagaimana organisasi nirlaba lainnya juga melakukan berbagai program psikososial, program sustainable lifelihood, juga program-program darurat untuk daerah bencana. Dalam Annual Report-nya untuk tahun 2008 dijabarkan berbagai program yang telah dilakukan IR di seluruh dunia. Di Aceh, IR telah melakukan penyediaan biaya pendidikan bagi anak-anak yatim. Selain itu di Aceh, IR juga melakukan program perbaikan akses ke sanitasi dan air yang terganggu setelah Tsunami. Usaha perbaikan akses ke sanitasi dan air ini dilakukan bersama dengan masyarakat (Islamic Relief, 2009).

Mengenai pendidikan, IR telah melakukan usaha perbaikan sekolah di Myanmar, Kashmir, dan China. Juga melakukan usaha inovasi pendidikan yang lebih memperhatikan aspek sosial psikologis anak di Bangladesh. Dalam hal bantuan penyediaan tempat tinggal, IR telah melakukan relokasi terhadap pengungsi Rohingya di Bangladesh dari shelter yang selalu kebanjiran ke tempat yang baru (Islamic Relief, 2009).

Program sustainable lifelihood IR adalah program yang bertujuan memandirikan masyarakat sehingga mereka tidak perlu tergantung kepada bantuan. Program-program IR dengan misi ini diantaranya membantu penduduk Afghanistan untuk memperbesar persediaan pangan dengan memperluas usaha agrikultur. Di Bangladesh, di mana bencana sering terjadi, IR melakukan program pemulihan dan mempersiapkan penduduk dalam menghadapi bencana. Di Bangladesh yang terkenal miskin, IR juga melakukan usaha membantu penghidupan penduduk, misal dengan sekolah vokasi dan pinjaman tanpa bunga. Di Kashmir, masih dalam rangka meningkatkan kemandirian penduduk, IR melakukan pemeberdayaan perempuan (Islamic Relief, 2009).

Sama dengan berbagai organisasi nirlaba sebelumnya, Qatar Charity juga melakukan berbagai program yang meningkatkan faktor protektif pada orang-orang yang beresiko mengalami kegalauan mental. Misal dalam bencana Tsunami Aceh, selain memberikan bantuan kebutuhan dasar seperti air dan makanan, Qatar Charity juga melakukan program pendidikan dan bantuan usaha. Program pendidikan berupa penyediaan beasiswa bagi anak-anak survivor Tsunami yang membutuhkan. Program bantuan usaha misalnya membantu pembangunan kembali tempat usaha korban Tsunami yang hancur akibat bencana tersebut (Qatar Charity, 2007).

Penyediaan pendidikan bagi korban, terlebih anak-anak yang telah kehilangan tulang punggung keluarga memberikan rasa aman dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Sedangkan bantuan pembangunan kembali tempat usaha mencegah terjadinya kemiskinan yang mempertinggi resiko kekalutan mental.

Selain organisasi yang disebutkan di atas, masih banyak organisasi lain di seluruh dunia, yang melakukan usaha-usaha pengentasan masalah sosial dan ekonomi masyarakat. Misalnya, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Yayasan Obor Berkat Indonesia, dll. Program-program pertolongan pada masyarakat dan pemberdayaan masyarakat yang mereka semua lakukan pada hakikatnya merupakan usaha promotif dan preventif kesehatan mental.

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, intervensi kesehatan mental tidak melulu secara individual. Intervensi (promosi dan prevensi) bisa dilakukan dalam tingkat yang lebih besar. Misal melakukan usaha-usaha pengentasan masalah ekonomi dan sosial yang menjadi faktor resiko kesehatan mental bagi sebagian besar orang (Patel, dkk., 2005).

Di atas itu semua, penulis melihat ada hal baik yang tercermin dari aktifitas-aktifitas bantuan darurat maupun program jangka panjang lembaga-lembaga tersebut. Hal itu adalah bersatunya manusia-manusia untuk saling membantu, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan golongan. CBM atau Catholic Agency for Overseas Development (CAFOD) yang berbasis Kristiani membantu muslim di Aceh, Islamic Relief yang berbasis muslim membantu umat Mahayana di China dan Myanmar, Oxfam yang berasal dari UK membantu orang-orang Brazil, Qatar Charity yang berasal dari Jazirah Arab membantu orang-orang Kosova di Eropa. Persatuan dan saling membantu ini merupakan fakta baik di tengah dunia yang penuh peperangan dan konflik. Persatuan dan perdamian manusia itu sendiri akan menjadi tempat yang baik untuk menyuburkan kesejahteraan mental.

Sumber

Anthony, J. C. (2005). Chapter 10: Social Determinants of Mental Health and Mental Disorders. Dalam H. Herrman, S. Saxena, & R. Moodie. Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice. Geneva: World Health Organization & Victorian Health Promotion Foundation.

IOM (International Organization for Migration) (2008). Factsheet: Memerangi Perdagangan Orang di Indonesia. Dapat diunduh di: http://www.iom.or.id

Islamic Relief (2009). Islamic Relief Worldwide and Subsidiary Undertakings: Annual Report and Financial Statements 2008. Bisa diunduh dari: http://www.islamic-relief.com

Oxfam (2007). Acountability Report 06/07. Dapat diunduh di http://www.oxfam.co.uk

Patel, V., Swartz, L., & Cohen, A. (2005). Chapter 14: The Evidence for Mental Health Promotion in Developing Countries. Dalam H. Herrman, S. Saxena, & R. Moodie. Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice. Geneva: World Health Organization & Victorian Health Promotion Foundation.

UNRWA Field Office Gaza (tanpa tahun). Community Mental Health Programme. Bisa diakses melalui: http://www.unrwa.org

WHO (2001). Chapter 1: A public health approach to mental health. Diunduh pada 21 April 2010 dari http://www.who.int/whr/2001/chapter1/en/index.html

Program-Program Pembangunan Psikososial

2 pemikiran pada “Program-Program Pembangunan Psikososial

  1. Cahyosendiri berkata:

    wah, kamu kkn di mana je? GK? sebenarnya mayorku bukan klinis (kesmen) tapi ini tugas matkul kesmen. ayo para calon perawat perhatikanlah kesehatan mental pasiennya…hehe

    Suka

  2. wah baca postinganmu aku jadi ingat puskesmas t4ku kkn, kasus sakait mentalnya naik signifikan dari tahun ke tahun-yg tak lepas dari pekerjaan utama mayoritas penduduk setempat sebagai pengemis.
    Btw,, kog concern banget sama kesehtan mental, terkait skripsinya ya?šŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s