Psikologi Pertumbuhan Dalam Teori Rogers

Pendahuluan
Dalam dunia psikologi sekarang, telah tumbuh pemahaman baru yang berkembang dengan pesat, yaitu psikologi pertumbuhan atau health psychology (psikologi kesehatan). Psikologi ini berfokus pada pencarian pemahaman akan kepribadian yang sehat atau psikologis manusia yang sehat, bukan seperti pendekatan psikologi tradisional yang berfokus pada kepribadian yang sakit atau kondisi piskologis yang sakit.
Dalam pengertian psikologi ini bahwa keadaan manusia yang sehat (mental) tidak hanya berarti ketiadaan sakti mental, namun juga kemampuan manusia untuk berfungsi optimal, dalam istilah Schultz adalah supernormal. Psikologi pertumbuhan memahami bahwa manusia memiliki potensi untuk bertumbuh kembang dalam arti tumbuh kembang mental. Manusia dipandang perlu berusaha untuk terus berkembang untuk mengaktualisasikan semua potensinya.
Namun, masih belum ada persesuaian mengenai definisi sehat mental secara pasti di antara para ahli dalam bidang ini. Allport, Fromm, Maslow, Rogers, dll memiliki defnisi dan penjelasannya sendir mengenai kesehatan mental. Pada tulisan ini akan diuraikan pengertian kesehatan mental atau psikologi pertumbuhan menurut Rogers.

Pendapat Rogers Tentang Kepribadian
Pengalamannya di zaman menjadi mahasiswa saat menghadiri sebuah konfrensi menjadikan Rogers menyadari bahwa ia dapat berfikir dengan pikirannya sendiri, sampai pada kesimpulan sendiri, dan menjadi saksi atas kepercayaannya sendiri. Ia sadar bahwa seseorang harus bersandar hanya pada pengalaman orang itu sendiri. “Kepercayaan dan keyakinan akan pengalaman individu itu sendiri” menjadi sendi pendekatan Rogers terhadap kepribadian, juga mengenai pribadi yang sehat/kesehatan mental.
Kepercayaan terhadap pengalaman subjektif individu ini terlihat dari metode terapi yang dikembangkan Rogers, client centered therapy. Terapi ini menempatkan tanggung jawab utama transformasi kepribadian kepada klien, bukan kepada terapis.
Tanggung jawab personal terhadap kepribadian ini menjadikan setiap individu harus rasional dan sadar. Manusia yang rasional dan sadar tidak dikontrol oleh pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lalu tersebut hanya mempengaruhi cara pandang kita di masa sekarang. Maka, Rogers tetap memperhatikan pengalaman masa lalu/kanak-kanak tetapi berfokus kepada apa yang terjadi di masa sekarang.
Kepercayaan Rogers terhadap pengalaman subjektif juga menjadikannya percaya bahwa realitas adalah tergantung pada pengalaman perceptual masing-masing individu. Sehingga kepribadian orangpun seyogyanya ditelisik dari sudut pandang klien itu sendiri, dari pengalaman-pengalaman subjektifnya. Walaupun demikian, Rogers meyakini adanya satu hal yang universal dalam tiap individu, yaitu usaha aktualisasi.

Aktualisasi Diri Sebagai Motivasi Universal
Menurut Rogers, manusia memiliki suatu kencenderungn sejak lahir, yaitu aktualisasi. Tidak ada segi pertumbuhan dan perkembangan manusia yang terlepas dari aspek ini. Dalam tingkat terendahnya, adalah mengenai kebutuhan fisiologis dasar yang kemudian membantu manusia mempertahankan kelangsugannya. Namun, kecenderungan aktualisasi ini lebih dari itu, yaitu memudahkan serta meningkatkan pematangan dan pertumbuhan manusia itu sendiri.
Menurut Rogers maturisasi/pematangan tidak terjadi dengan sendirinya berdasarkan blue-print, melainkan membutuhkan banyak usaha. Maka dibutuhkan suatu tenaga pendorong yang memungkinkan manusia melakukan usaha-usaha pematangan diri, dan aktualisasi adalah tenaga pendorng itu.
Saat seseorang lebih besar, tingkat perkembangan berubah dari fisionlogis menjadi psikologis, dimana saat tersebut orang sudah mulai membangun konsep “self”. Setelah self timbul, kecenderungan pada aktualisasi diri (self-actualizatio) terlihat.
Konsep mengenai diri (self concept) telah mulai berkembang sejak masa kanak-kanak. Perkembangan konsep diri ini sangat dipengaruhi cinta dan kasih yang diterima dalam masa perkembangan, yang disebut Rogers sebagai positive regard. Untuk mengembangkan kepribadian yang sehat, anak memerlukan positive regard.
Ibu hendaknya memberikan cinta kasihnya tanpa bersyarat. Artinya ibu tidak menuntut anak melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk mendapatkan cinta kasih. Ini akan menghindarkan anak mengembangkan conditional positive regard (cinta kasih bersyarat). Cinta kasih bersyarat akan menjadikan anak/individu mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Hal ini menjadikan anak mengorbankan aktualisasi diri demi mendapatkan positive regard.
Walaupun demikian, bukan berarti ibu harus membenarkan setiap tingkah anak. Ibu juga perlu memberikan pendidikan jika tingkah anak tersebut salah atau membahayakannya. Namun peringatan tersebut hendaknya dilakukan tanpa membuat anak merasa bahwa ia harus melakukan perbuatan-perbuatan tertentu demi mendapat kasih sayang ibu.
Jika ibu memberikan cinta kasih tanpa syarat, akan mengembangkan keadaan unconditional positive regard. Anak yang tumbuh dengan keadaan demikian akan menjadikan anak tidak mengembangkan syarat-syarat penghargaan. Ia akan melakukan aktualisasi diri untuk mengembangkan seluruh potensinya. Setelah aktualisasi diri berlangnsung, orang dapat maju ke tahap selanjutnya yaitu menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya.

Aktualisasi Diri Dalam Pengertian Kepribadian Yang Sehat
Terdapat tiga gambaran umum dan lima ciri orang yang mengaktualisasikan diri dan berproses menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Pertama, menurut Rogers aktualisasi diri bukanlah merupakan keadaan yang menetap, melainkan suatu proses yang kontinu. Kedua, aktualisasi diri merupakan proses yang sukar bahkan terkadang menyakitkan sehingga diperlukan keberanian untuk menjalaninya. Hal ini juga menunjukkan bahwa orang yang mengaktualisasikan diri tidaklah berbahagia di setiap masanya. Kebahagiaan itu akan timbul sebagai efek dari aktualisasi diri ini. Ketiga, orang yang mengaktualisasikan diri adalah benar-benar diri mereka sendiri dan tidak bersembunyi di balik topeng ataupun menyembunyikan sebagian dari dirinya.
Di samping ketiga hal umum tersebut, lima tanda-tanda orang yang melakukan aktualisasi diri adalah sebagai berikut:
1.Terbuka pada pengalaman
Orang yang tidak mengembangkan penghargaan positif bersyarat akan mengembangkan sikap yang terbuka pada pengalaman. Pengalaman tidak hanya diterima namun juga dimanfaatkan untuk mengembangkan persepsi dan ungkapan baru. Saat mengalami pengalaman, orang yang demikian lebih mengalami emosi yang lebih kuat, baik emosi positif maupun negatif, dibanding orang yang defensif.
2.Kehidupan eksistensial
Orang yang berfungsi sepenuhnya, aktualisasi diri, akan hidup sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan karena ia terbuka pada setiap pengalaman. Ia tidak akan beperasangka dan mudah menyesuaikan diri terhadap pengalaman sehingga tidak harus memanipulasi apa yang dialaminya. Menurut Rogers, kehidupan eksistensial ini merupakan ciri terpenting kepribadian yang melakukan aktualisasi diri/keperibadian yang sehat.
3.Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri
Orang yang mengaktualisasikan diri akan terbuka pada pengalaman sehingga ia menerima semua informasi yang ada, bahkan dari segi selain pikirannya. Organismenya secara keseluruhan, baik sadar dan tak sadar, faktor emosional maupun intelektual, akan menyerap semua informasi yang diterima. Hal ini menjadikannya dalam membuat keputusan dapat mempercayai organismenya sendiri, intuisinya, impuls-impuls yang timbul seketika. Ia menjadi spontan namun tidak terburu-buru (tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakan). Ia percaya dirinya sendiri.
4.Persaaan bebas
Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas dapat memilih dengan bebas tanpa rintangan atau paksaan antara alternatif pikiran dan tindakan. Ia memiliki perasaan berkuasa secara peribadi mengenai kehidupan. Karena merasa bebas dan berkuasa, ia menjadi mampu melihat banyaknya pilihan dalam kehidupan dan mampu melakukan pilihan-pilihan tersebut sesuai kehendaknya.
5.Kreativitas
Dengan ciri-ciri di atas membawa akibat yaitu orang yang sehat adalah orang yang kreatif. Kreativitas dan spontanitas orang yang mengaktualisasikan diri menjadikannya pantas untuk menjadi barisan depan dalam proses evolusi manusia.

Sumber
Schultz, Duane (2006). Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Terjemahan oleh Yustinus. Yogyakarta: Kanisius.

Psikologi Pertumbuhan Dalam Teori Rogers

Satu pemikiran pada “Psikologi Pertumbuhan Dalam Teori Rogers

  1. SUKROHARYANTO berkata:

    SANGAT SETUJU KATA NENEK MOYANG DURIAN TIDAK JATUH JAUH DARI POHONYA, KENAKALAN SUATU PROSES DI MANA ANAK SEDANG MEMINTA PERHATIAN ORANG TUA DAN KATA NAKAL YAITU SUATU NALURI ……AKAL , ARTINYA KREAKTIFITAS ANAK YANG BUTUH PENDAMPINGAN ORTUNYA

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s