La Salam Wa La Kalam

Beberapa saat yang lalu, saya menerima kabar bahwa seorang teman yang dulu pernah satu komunitas dengan saya sedang terbaring di rumah sakit. Ia kecelakaan, patah tulang. Syafahalloh, La ba’sa thaharaha InsyAlloh. Semoga ia cepat sembuh dan sakit itu menjadi peringan dosanya, amin. Tapi saya tidak akan membicarakan itu, cerita itu hanya menjadi latar belakang.
Kabar sakitnya teman saya tersebut saya terima dari seorang teman kos. Sayangnya tidak ada teman yang dulu satu komunitas dengan saya yang memberitakan kabar itu kepada saya. Padahal, teladan utama (uswatun hasanah) komunitas saya itu telah mencontohkan untuk berbagi berita hatta berita yang sedih sekalipun (berita kematian). Tapi kenapa saya tidak diberi tahu? Saya merasa telah ditinggalkan oleh komunitas saya itu.
Tiba-tiba saya teringat sebuah email yang saya baca di sebuah milist. Email tersebut menceritakan curhat seorang yang juga merasa ditinggalkan komunitasnya, hanya karena mereka berbeda pendapat. “Kemudian,” katanya, “setelah kita berbeda pendapat, semua menjadi menjauhiku. La salam wa la kalam (Bahasa Arab: Tidak memberi salam dan tidak mengajak berbicara)”. Email balasan atas email tersebut datang dari teman satu komunitas orang yang merasa diacuhkan itu. Menurut email balasan tersebut, justru orang yang merasa diacuhkan itulah yang menjauhi komunitasnya.
Saat membaca balas-membalas email tentang La Kalam wa La Salam tersebut, waktu itu saya berkesimpulan bahwa sesungguhnya kedua belah pihak, baik orang yang merasa diacuhkan maupun komunitasnya yang berseberangan pendapat dengannya telah melakukan aperspesi, atau proses persepsi yang terganggu dengan judgment-judgment pikiran. Artinya dalam mengambil sikap, kedua pihak termakan oleh perasaan-perasaannya.
Bisa jadi orang yang merasa diacuhkan tersebut merasa menjadi orang yang aneh karena ia berbeda sendiri pendapatnya dibandingkan teman-temannya yang lainnya. Maka kemudian orang tersebut merasa sungkan untuk sekedar menyapa teman-temannya. Teman-temannya pun salah kira kesungkanan orang tersebut adalah keengganan bergaul dengan mereka. Maka merekapun menjadi sungkan untuk menyapa atau berbincang. Masing masing kemudian melakukan aksi, la kalam wa la salam-tidak berbincang dan tidak memberi salam. Karena hal ini didiamkan, keadaan semakin bertambah buruk dan semakin lebarlah jurang antara orang tersebut dengan komunitasnya.
Apa yang saya alami sekarang, rasa ditinggalkan ini bisa jadi mirip dengan kasus tersebut. Bisa jadi, secara tidak sengaja saya menarik diri dari komunitas tersebut dan itu membuat komunitas tersebut menganggap saya tidak hendak berkumpul dengan mereka lagi. Berarti yang harus dilakukan adalah silaturrahmi dan inilah kelemahan saya, susah dalam menjalin silaturrahmi.
Maka benar apa yang difirmankan Alloh, jauhilah banyak berprasangka…. Prasangka memang bisa memecah belah. Menjadikan orang La kalam wa la salam. Wallohu A’lam.

La Salam Wa La Kalam

2 pemikiran pada “La Salam Wa La Kalam

  1. jika kita suah mulai menjauh sikap silaurrahim, berarti kita sudah mulai meruntuhkan tembok ukhuwa di antara sesama, bukan saja seiman dan seakidah, antar komunitas bahkan agama pun harus tetap dijaga semaksimal mungkin….bukan saja silaturrahim yg bersifat internal tapi juga antar sesama….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s