Jauh-Jauh Ke Negeri Orang

Malam tadi saya menonton Jam Malam di Trans 7. Bercerita tentang Gili Trawangan. Salah satu tokoh yang ditampilkan adalah seorang pecinta alam dari Perancis. Ia sudah 6 tahun tinggal di Gili Trawangan dan bersama rekan-rekannya yang kebanyakan bule ia berusaha menyelamatkan terumbu karang di laut sekitar Gili Trawangan. Saya pikir mengapa Mbak Bule ini jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menyelamatkan lingkungan? Padahal setahu saya dari Dokumenter Vuduciel: Wold From Above yang dulu ditayangkan Metro TV di Perancis-pun masih banyak kerusakan alam. Mengapa dia tidak menyelamatkan alam di negaranya sendiri? Kenapa harus jauh-jauh ke negeri orang, Indonesia ini?
Tapi kemudian pertanyaan saya tidak berlanjut ke “Apakah Mbak Bule ini tidak nasionalis?”. Pertanyaan tentang kenasionlismean orang bule yang datang jauh-jauh ke Indonesia untuk menyelamatkan alam Indonesia yang sudah rusak ini memang jarang saya dengar. Bahkan saya kira, tidak ada yang akan mempertanyakan hal itu pada mereka. Tetapi yang saya agak aneh, bahwa pertanyaan mengenai rasa nasionalisme ini sering kali muncul saat orang Indonesia melakukan aksi pembelaan terhadap Palestina. Katanya, “di negeri sendiri masih banyak orang susah, ngapain kamu bela-bela Palestina? Kamu tidak nasionalis ya?”
Kenapa perbedaan ini bisa terjadi? Padahal, kasus keduanya sama. Yang satu jauh-jauh ke negeri orang untuk menyelamatkan alamnya, yang satu lagi membela orang-orang yang berada jauh dari negerinya sendiri? Sama kan? Jauh-jauh ke/di negeri orang. Tapi kenapa, yang satu tidak dipertanyakan rasa nasionalismenya dan yang satu lagi dipertanyakan?
Mungkin saja ini bersumber dari pengalaman sejarah bahwa ada segolongan muslim yang dulu pernah mencoba melakukan pemberontakan. Munculnya dikotomi Islam dan Nasionalis dan keduanya ditentangkan. Kemudian juga hembusan propaganda Orde Baru bahwa banyak kelompok Islam yang mencoba makar. Menjadikan dalam otak orang-orang muncul prototipe muslim itu tidak nasionalis. Maka saat memandang orang yang membela Palestina yang kebanyakan adalah muslim atau pembelaan terhadap Palestina identik dengan muslim, yang muncul di otak-otak tersebut adalah protipe orang yang tidak nasionalis. Dari prototipe itulah mudah muncul tuduhan ketidaknasionalisan orang-orang yang membeli Palestina.
Yang jelas, nasionalisme orang yang bekerja untuk hal-hal yang jauh di negeri orang, misal orang Perancis yang menyelamatkan karang di Indonesia atau orang Indonesia yang membeli hak-hak rakyat Palestina, tidak perlu diragukan jika belum ada bukti yang jelas yang menunjukkan keragu-raguan itu. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah panggilan hati nurani. Jadi, tidak sebaiknya panggilan hati nurani tersebut diberi label dengan label negatif. Saya kira begitu, tapi Wallohu a’lam.

Jauh-Jauh Ke Negeri Orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s