Kalau Bukan Karena Rahmat-Mu, Tuhan

Tiba-tiba tertarik untuk mendengarkan kembali lagu rohani Islam, atau biasa disebut nasyid, yang kukenal waktu MTs dulu. Nasyid yang sangat bagus, liriknya bagus musiknya juga bagus. Hingga sampai sekarangpun saya tetap menyukainya. Dinyanyikan oleh Diwani, judulnya sama dengan judul tulisan ini “Kalau Bukan Karena Rahmatmu Tuhan”. Lagu ini terdapat dalam album “Satu Peringatan” yang dikeluarkan oleh Rufaqa. Liriknya kurang lebih begini:

Kalau bukan karena rahmat-Mu Tuhan
Aku telah kecewa bahkan putus asa

Siapalah yang dapat bersihkan daripada dosa
Siapalah yang mampu meninggalkan kesalahan dan kesilapan
Siapalah di kalangan hamba-hamba-Mu
Yang boleh sempurna ibadahnya

Tiada siapa yang boleh
Tiada siapa yang mampu
Tapi dengan rahmat-Mu
Legalah hatiku dan setiap hamba-hamba-Mu

Pabila terbuat dosa, hamba-Mu mohon ampun
Engkau ampunkan, walau sebesar manapun kesalahan
Hamba-Mu mohon maaf, Engkau maafkan mereka
Begitulah segala ibadah

Setelah setiap hamba bermujahadah
Tapi masih juga tidak sempurna
Dengan rahmat-Mu Engkau terima
Bahkan ada jalan lain lagi untuk hamba-hamba-Mu selamat

Engkau arahkan semua hamba-hamba-Mu
Mencari berkat dan syafaat yang mulia
Berkat dan syafaat Nabi, sahabat boleh selamat
Juga berkat ibu bapak dan orang soleh

Bahkan dengan takut sangat dengan taranya
Sifat takut juga boleh memberi syafaat
Oleh karena jalan-jalan rahmat-Mu amat banyak
Hatiku dan hamba-hamba-Mu rasa lega semula

Begitulah kasih sayang-Mu Tuhan
Demi untuk keselamatan hamba-Mu di akhirat.

Apa yang disampaikan Diwani dalam nasyid atau syair tersebut mengingatkan saya pada sebuah hadits Nabi yang insyAlllo berbunyi begini “Kita tidak akan masuk syurga kecuali dengan rahmat Alloh” Para sahabat RA saat itu bertanya “Tidak juga Engkau wahai Rasulallah?”. “Ya,” jawab Rasulullah.
Ya, sesungguhnya sebaik apapun amalan kita tidak akan cukup untuk menjadi biaya hantaran kita menuju syurga. Amalan kita tidak akan cukup jika akan ditukar dengan syurga. Melainkan karena rahmat dan kasih sayang Alloh-lah kita bisa memasuki gerbang syruga. Bahkan Rasulullah yang menjadi muslim paling terbaik di hadapan Alloh tidak bisa masuk syurga dengan amalan beliau SAAW sendiri. Melainkan karena kasih sayang Alloh.
Nasyid tersebut dan terutama hadits Rasulullah seharunya menjadi renungan bagi diri kita. Bahwa setelah melakukan beberapa amalan kebaikan kita (pengalaman peribadi) merasa menjadi orang paling mulia, orang yang paling dekat dengan-Nya, padahal amalan kita tersebut masih jauh dari sempurna, jauh dari layak untuk menjadi kecintaan-Nya.
Memang syaithan sering menyesatkan orang yang memiliki keinginan beramal dengan godaan ini, bahwa amalannya sangat baik, bahwa ia adalah calon ahli syurga, sehingga timbul di dalam hati orang yang beramal tersebut sifat sombong. Dirinya tertipu oleh syaithan dengan “kesalihannya”. Ini yang disebut Freud, id-nya telah mengecoh super ego untuk terwujud dalam alam nyata. Sehingga orang beramal yang kena godaan menjadi merasa ibadahnya paling sempurna, yang lain itu masih kurang darinya. Nau’dzubillah, kita berlindung kepada Alloh.
Maka, seyogyanya bagi kita (baca: saya) untuk mengingat hadits Rasul tersebut agar dalam beramal menjadi tidak tinggi hati. Jangan sampai kita tertipu dalam beramal, mengira kira telah beramal baik ternyata hati diliputi kesombongan.
Ada suatu kisah menarik tentang orang yang tertipu dalam beramal. Kisah ini saya tidak tahu asal usulnya, sehingga kesahihannya tidak bisa saya pastikan. Diceritakan dalam sebuah buku kumpulan kisah yang kalau tidak salah berjudul “Kumpulan Kisah Teladan”. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa ada seorang hamba yang diwafatkan Alloh. Ia adalah seorang hamba yang selalu beribadah kepada Alloh siang dan malam. Sang hamba ini hidup di sebuah pulau yang berkecukupan. Diceritakan, di pulau tersebut terdapat berbagai buahan yang langsung dapat diamakan dan terdapat sungai yang menyediakan minuman bagi sang ahli ibadah.
Saat sang ahli ibadah dihisab dihadapan Alloh, diputuskan “Engkau masuk syurga karena rahmat-Ku”. Namun sang ahli ibadah menyatakan “Tidak, tetapi masukkanlah, hamba ke syruga karena ibadah hamba.” Dinyatakan sekali lagi “Engkau masuk syurga karena rahmat-Ku”. Sang ahli ibdaha tetap menjawab “Tidak, tetapi masukkanlah, hamba ke syruga karena ibadah hamba.” Untuk yang ketiga kalinya dinyatakan, “Engkau masuk syurga karena rahmat-Ku”.. Namun sang ahli ibadah tetap menolak, “Tidak, tetapi masukkanlah, hamba ke syruga karena ibadah hamba.”
Kemudian diputuskan “Baiklah, engkau dibalas berdasarkan amalanmu tanpa berdasarkan rahmat-Ku.” Namun kemudian sang ahli ibadah ternyata digiring ke neraka. Saat sang ahli ibadah kebingungan, Alloh memberitahunya bahwa Alloh telah memberinya kemudahan dalam beribadah, segala kebutuhannya tidak Ia berikan, sehingga terwujudnya ibadah sang ahli ibadah juga karena kasih sayang Alloh.
Saya tidak begitu jelas akhir cerita ini. Tetapi cerita ini sekali lagi mengingatkan kita (baca: saya) untuk tidak menjadi sombong dalam beribadah. Kisah ini juga menjadi pengingat mengenai kasih sayang Alloh yang tak terkira luasnya bagi manusia. Bahkan Ia menetapkan sifat rahmat-Nya ini menjadi nama-Nya yang paling utama di atara nama-nama lainnya.

Kalau Bukan Karena Rahmat-Mu, Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s