Mengkotak-Kotakan

Menonton Oprah kemarin edisi tamu-tamu terbaik ada satu yang menarik. Seroang pendeta evangelis di USA yang dulu dituduh homoseksual kembali diundang Oprah untuk berbincang, kali ini lewat Skype. Ada satu yang menaik dari pernyataan pendeta itu saat menanggapi “mantan-mantan” umatnya maupun kaum homoseksual yang membencinya. Kedua kelompok tersebut menuduh sang pendeta berbohong dan menuntutnya untuk menentukan pilihan. “Saya homoseks atau tidak”, ini pilihan yang dituntut kaum homoseks dan “Saya beriman atau saya penjahat seksual” ini yang dituntut mantan umatnya. Keduanya menuntut hitam atau putih.
Jawaban sang mantan evangelis kepada Oprah menarik menurut saya. Ia mengatakan, saya lupa isinya, tetapi intinya ia mengatakan bahwa ia adalah makhluk Tuhan yang hendak mencapai kasih-Nya. Namun sebagai manusia ia tentu tidak sempurna, terdapat godaan-godaan yang terkadang tidak mampu ditanggungnya. Ia juga menyatakan bahwa ia adalah manusia heteroseksual yang mengalami sesuatu (yaitu perilaku kepada sesama jenis), tetapi itu tidak mengubah keheteroseksualannya. Ia juga menyatakan bahwa ia tidak sependapat dengan orang yang suka mengkotak-kotakkan.
Saya kira yang dimaksudkannya dengan mengkotak-kotakkan adalah dengan kelompok yang menuntut hitam putih tadi. Kelompok yang menuntut jika kamu ini maka harus begini, jika kamu itu maka harus begitu. Hitam atau putih. Jika demikian pengertian yang dikehendakinya, maka saya sepakat dengan evangelis tersebut.
Yang demikian itu, hitam putih, adalah niscaya pada tataran ideal. Tetapi jika memaksakan hitam putih pada tataran realita maka yang terjadi adalah pemaksaan kehendak. Agresi, sebut saja begitu. Jika kamu tidak hitam maka kamu putih, tidak ada yang abu-abu.
Padahal menurut sosiologi dan psikologi, setiap orang itu unik. Maka kita kenal istilah individual differences, atau istilah-istilah lainnya yang menunjuk kepada keunikan seseorang. Keunikan tiap orang yang berbeda disebabkan jalur gen dan jalan kehidupan yang dimiliki masing-masing orang sangat berbeda. Maka selalu terdapat daerah abu-abu pada kehidupan manusia. Oleh karena itu hendaklah kita tidak memaksakan konsep “prototipe orang” yang kitapunya kepada orang lain jika orang lain. Bisa jadi konsep prototipe itu memang sesuai tetapi bias jadi juga tidak, mengingat uniknya orang.

Mengkotak-Kotakan

Satu pemikiran pada “Mengkotak-Kotakan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s