Haiti, Id, Superego, dan Ego

Di Twitter saya lihat topik popular pada hari ini adalah Haiti. Salah satu komentar yang dituliskan seorang warga AMerika tentang Haiti adalah, kurang lebih, begini “kenapa artis-artis itu cepat tanggap saat harus menyediakan rumah bagi orang haiti namun tidak berusaha membantu orang Amerika sendiri yang tidak punya rumah. Mungkin dengan membantu Haiti mereka lebih mendapatkan praise/prestise..” Hal ini mungkin memang betul terjadi, orang membantu orang lain hanya untuk praise/prstise. Inilah yang dikatakan Freud tentang superego yang ditipu oleh id. Superego yang harusnya tidak menerima kesombongan dikecoh dengan menggunakan manifestasi perbuatan amal.
Ya, terkadang kita memang melakukan amal sesungguhnya hanya untuk memuaskan id kita saja, hawa nafsu kita saja. Karena kita tidak ingin didera rasa bersalah. Karena kita ingin tenar. Atau karena kita ingin kepuasan saat melihat orang tertawa. Ini semua pada intinya adalah id yang sedang mengecoh super ego. Id mencari jalan keluar dengan mengecoh superego bahwa perbuatan itu adalah perbuatan amal bail, budi mulia, padahal hakikatnya kita sedang melakukan pemuasan id/nafsu kita sendiri.
Bentuk lain dari orang yang superegonya ditipu oleh id adalah orang-orang yang melakukan kekerasan karena alasan agama/perintah Tuhan. Apa yang dilakukan bisa saja hanya merupakan pelampiasan dari tanatos atau agresi manusia. Namun karena agresi itu tidak sopan diubah bahasanya menjadi perang suci (holy war). Kegiatan yang dikonotasikan dengan suci ini lebih bisa diteria superego untuk manifes dalam kehidupan nyata.
Maka dalam Islam dijaga betul adab dalam berperang (agresi). Karena amalan ini rentan sekali dikecoh oleh nafsu/id.
Saya jadi bertanya-tanya apakah rasa amarah saya atas penjajahan Israel atas Pelstina adalah karena memang hati saya sedih melihat nasib saudara-saudara sesama muslim dan sesama umat manusia di sana yang dianiaya atauakah karena saya merasa malu dan inferior sebagai muslim karena tidak mamapu mengatasi penjajahan tersebut? Semoga kesedihan itu memang karena hati nurani. Wallohu a’lam

Haiti, Id, Superego, dan Ego

2 pemikiran pada “Haiti, Id, Superego, dan Ego

  1. Wah bagus nih… tapi bagaimana kalau memang ada orang yang benar2 senang membantu! Kita gak lihat selebriti dulu, bercermin ke diri atau pengalaman orang yang memang memiliki passion untuk menolong orang! Sebagai contoh saya senang membantu orang dengan apa yang saya punya (money is exclude), saya senang membuatkan poster untuk kegiatan-kegiatan masjid tanpa dibayar! Apakah itu bagian dari id! Saya kira tidak!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s