Okelah Kalo Begitu

Belakangan ini dunia musik Indonesia dibanjiri lagu-lagu yang berlirik sederhana, musik enak didegar, dan bernuansa lucu. Salah satunya adalah lagu “Okelah Kalo Begitu” dari Warteg Boys yang cukup di gemari masyarakat, termasuk saya.

Mendengar lagu ini saya membayangkan dua tipe manusia yang tergambar dari lagu, manusia tipe tanpa motivasi atau bias jadi manusia yang tenang. Jika kita perhatikan lagu “Okelah Kalo Begitu” menggambarkan kehidupan seorang yang sedang ditimpa masalah dalam satu hari. Pertama, saat ia bangun pagi dan mendapati lauk yang ada hanya teri. Ia tidak menggrutu, tidak marah, hanya mengatakan “Okelah kalo begitu”

Kedua, saat ia dijauhi perempuan karena BB, ia tidak malu, tidak jatuh harga diri, tidak berusaha jaim. Lagi-lagi ia hanya mengatakan “okelah kalo begitu…” dengan santainya.

Ketiga, motornya mogok di tengah jalan dan ia terpaksa jalan menuju ke tujuannya. Ia tidak memaki keadaan, tidak menyesali keadaan, hanya berkata “okelah kalau begitu”.

Keempat, ia ditagih tukang kredit dengan kasar. Ia tidak membalas mengasari, tidak menghindar, tidak marah-marah. Hanya mengatakan “okelah gua lunasin”, tidak menyesali uangnya yang “hilang” diambil tukang kredit tiba-tiba. Jika saya menjadi ia, saya akan sangat menyesali bahwa uang yang harusnya bisa digunakan untuk berbagai rencana hari itu, harus lenyap. Tapi si orang ini tidak, ia hanya menyatakan “yawdahlah kalo begitu”

Terakhir, saat hendak membayar makanan di warugn makan, ternyata dompetnya hilang dicopet orang.. Si orang ini tidak panik, tidak mengumpat keadaan, tidak mengumpat. Ia hanya mengatakan “gimana kalo bigitu”. Ia tidak berteriak-teriak ataupun menagis minta tolong, hanya berkata dengan santai “Pak, tolong dong pak”.

Jika saya peribadi menghadapi keadaan-keadaan di atas, tentu saya akan merasa sangat kecewa, marah dengan keadaan, bisa saja saya memaki keadaan. Terlebih saat dompet saya dicopet orang, saya akan sangat bertanya-tanya “kenapa harus saya?” dan ditambah dengan “kesialan” yang dialami sebelumnya dalam satu hari, saya tentu sudah meledak.

Tapi tidak dengan karakter di lagu “Okelah Kalo Begitu” ini. Ia begitu santai. Bisa jadi ini karea ia memang manusia yang tidak mempunyai motivasi hidup, erosnya sudah layu.

Tapi bisa jadi juga, sikapnya muncul dari ketenangan jiwa. Ia sudah tidak memperhatikan kehidupan duniawi lagi. “Kehidupan duniawi hanya ilusi”, mungkin ini yang si karakter yakini. Sehingga saat menghadapi kemalangan dunia, ia hanya santai saja. Tidak terlalu gundah, resah, ataupun marah. Mudah-mudahan ini yang dimaksudkan Warteg Boys. Wallohu ‘alam.

Okelah Kalo Begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s