Semakin Tidak Simpati

Semoga tulisan ini tidak menghujat pemimpin (hal itu terlarang), saya hanya ingin mengungkapkan uneg-uneg saja.

Beberapa saat yang lalu, sebut saja B (50an tahun) mengeluh karena dalam pemilihan kali ini ia merasa dikeroyok. Dalam kampanye terbuka pertamanya, ia berpidato mengeluhkan hal itu di hadapan pendukung. Dalam pidato yang sama ia mengeluhkan ”penyerangan” dirinya oleh salah satu kandidat dalam deklarasi kampanye damai. Ia lalu menghimbau ”tidak pantas kita dalam kampanye damai untuk saling hujat menghujat dan serang menyerang”. Saya pikir ini himbauan yang baik. Namun kemudian B melanjutkan pidatonya dengan”Tidak usah memberi janji-janji yang sebenarnya bisa diwujudkan dulu saat sejarah mengizinkannya untuk melaksanakan. Jangan juga menjelek-jelekkan pemerintah yang ia masih berada di dalamnya…”. Jreng-jreng! Saya pikir lha, ini kok malah menyerang.

Ya, kejadian ini menjadi kejengelan saya terhadap B. Ia menyeru untuk jangan saling serang dalam kampanye damai tapi kok persis setelah itu ia langsung menyerang kandidat lain? Saya kira sikap demikian ini tidaklah etis untuk ditampilkan. Bagaimana mungkin pemimpin mengajak orang lain beretika sementara sesaat setelah melontarkan ajakan tersebut ia langsung menampilkan perilaku yang dicelanya sendiri? Ini sama saja dengan mbingungi. Pemimpin kok mbingungi? Saya semakin tidak berkehendak untuk memilih lagi Pak B, semakin tidak simpati.

Tapi kemudian saya mencoba memberi alasan untuk perbuatan Pak B itu, mengajak tapi mencontohkan sebaliknya. Sisi lain saya beralasan ”Mungkin yang dimaksud B adalah jangan saling menyerang dalam deklarasi kampanye damai, tapi kalau di luar deklarasi kampanye damai, silahkanlah saling serang.”. Kalau memang demikian kejadiannya perilaku B menyerang setelah menghimbau tidak bisa disalahkan. Tapi ini justru lebih berbahaya dari yang pertama tadi. Jika memang demikian yang dimaksud B maka B hanyalah seorang yang menjual simbol-simbol dan bukan esensi.

Jika kita tidak boleh menyerang dalam deklarasi kampanye damai dan boleh menyerang dalam kampanye yang sebenarnya maka deklarasi kampanye damai hanya menjadi simbol semata. Kita damai saat deklarasi saja, tetapi dalam prakteknya kita boleh saling serang. Artinya yang dipentingkan adalah simbolnya dan bukan esensi. Esensi dari deklarasi kampanye damai kan adalah agar kampanye seluruhnya damai. Lha, jika hanya saat deklarasi saja yang damai untuk apa? Kesimpulannya, sama saja, saya semakin tidak simpati saya….

Belum hilang jengkel saya terhadap pernyataan ”jangan menyerang” yang dilanjutkan penyerangan tersebut, tambah lagi pernyataan kontroversial di pidato yang sama. ”I’m  a knight!” begitu katanya. Bagaimana mungkin setelah menunjukkan sikap kurang bijaksana dengan melanggar seruan sendiri ia kemudian mengaku terhormat? Bagaimana mungkin perbuatan menujah dalam lipatan kata bisa disebut knightly? Selain itu, pengakuan bahwa saya adalah seorang yang mulia adalah tidak bisa diterima di budaya ketimuran dan budaya keagamaan. Bertambahlah rasa tidak simpati.

Tambah lagi hal yang menjengkelkan. Pagi ini saya dengar bisik-bisik tetangga kalo ada Badan Usaha Milik Rakyat yang ditodong untuk menyediakan dana kampanye. La hawla wa la quwwata illa billah, semakin saya tidak simpati…. Saya jadi berfikir, jangan-jangan kalo silat lidah dan penodongan ini berketrusan, bisa jadi seperti rezim sebelumnya, senyum-senyum, silat lidah, tetapi menodong. Na’udzubillahi min dzalik. Tapi bisa jadi, jika profile B mirip rezim sebelumnya, simbah-simbah malahan senang. Wallhohu a’lam.

Semakin Tidak Simpati

2 pemikiran pada “Semakin Tidak Simpati

    1. cahyosetiadi berkata:

      wah tenang aja Bang, ga usah setres, saya kasih rumusnya. Rumus milih presiden adalah umur anda dikali 2 tambah 15 kurang 9 dibagi 2 dikurangi umur anda.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s