Kamu Salah dan Sayalah Kebenaran

Kamu Salah dan Sayalah Kebenaran, kesan itu saya dapatkan saat membaca buku yang kontroversial tetapi kelihatannya tidak meledak di pasaran, Ilusi Negara Islam. Buku ini dari awal sudah memancing kontroversi karena nama-nama yang disebutkan di dalamnya ikut berpartisipasi dalam buku ini menolak klaim tersebut, bahkan satu surat pernyataan sikap dari orang-raong yang merasa “dicatut namanya” meminta agar buku ini ditarik dari peredaran.

Membaca buku ini versi gratisan, mendownload dari situs Bhineka Tunggal Ika, saya menangkap kesan buku ini justru hendak menyatakan klaim “Islam sayalah yang benar, Islam kamu itu salah!”. Entahlah, tetapi berkali-kali saya menemukan klaim bahwa Islam yang difamahi penulis adalah Islam “yang dalam” sedangkan yang difahami tiga kelompok transnasional yang dalam buku itu dihujat habis-habisan adalah Islam yang “dangkal” bahkan salah, bahkan ketiga faham itu diindikasikan bukan berasal dari tradisi Islam, melainkan dari racun pemikiran.

Saya berfikir, lha, kalo begitu sama saja. Awalnya saya pikir pembentuk buku Ilusi Negara Islam adalah orang yang bisa menerima perbedaan dan tidak merasa benar sendiri. Tapi melihat pernyataan-pernyataan “Islam yang dangkal”, “berbeda dengan Kanjeng Nabi”, ”pemahaman yang dangkal”, seolah-olah buku ini membalik pandangan saya itu. Ternyata para penulis buku ini adalah orang yang tidak bisa menerima perbedaan pemahaman keagamaan dan mereka juga merasa benar sendiri, atau setidaknya merasa pemahaman Islamnya lebih dalam tinimbang yang lain.

Saya jadi teringat wawancara seorang tokoh yang suka mengkampanyekan Islam yang tidak merasa benar sendiri dengan sebuah majalah terkemuka di Indonesia. Saat itu, wawancara berlangsung seputar masalah penetapan Hari Raya Aidil Fitri. Saya masih ingat pernyataan sang tokoh demikian, “Yang sebenarnya itu kan mengikuti pemerintah…”. Artinya, yang tidak mengikuti pemerintah dalam penetapan hari raya, misal yang menggunakan hisab dan hari rayanya berbeda dengan pemerintah, itu bukan yang sebenarnya. Pernyataan itu sama saja hendak mengatakan bahwa Islam sayalah yang sebenarnya, paling benar, yang lain itu mungkin pemahamannya dangkal.

Sang tokoh mungkin saja dalam pengakuannya hendak mengatakan bahwa dia adalah tokoh yang tidak merasa paling benar. Tetapi alam bawah sadarnya tidak bisa menafikan keyakinan dasarnya, ”Kamu dangkal, aku dalam. Kamu benar, tetapi aku lebih benar. Kamu salah, dan akulah kebenaran”. Ego dan superegonya mungkin saja bisa menutupi keyakinan dasarnya itu. Tetapi perkataannya yang tidak begitu disadarinya justru menunjukkan apa yang menjadi keyakinan terdalam dari sang tokoh.

Saya kira, semua orang yang berkeyakinan akan melakukan demikian, menunjuk keyakinannya sebagai benar dan keyakinan yang lain sebagai salah. Seringkali untuk memperlihatkan diri sopan, kata ”salah” itu diganti dengan ”pemahaman dangkal”, ”kurang tepat”, ”benar, tetapi yang saya lebih benar”, ”sama-sama baik, tetapi saya lebih baik”, atau ”sama-sama benar tetapi saya lebih baik”, dan ungkapan-ungkapan pemanis lain. Saya pikir intinya sama, kamu salah saya benar.

Karena pemikiran kamu salah dan saya benar adalah pemikiran dasar dari seseorang yang mempunyai suatu keyakinan dan mempraktekkan keyakinannya, tidak mungkin untuk menghilangkannya. Mungkin kita baru bisa benar-benar menjadi orang yang tidak merasa benar sendiri ketika kita melepaskan keyakinan kita dan meyakini semua yang ada sebagai benar. Kemudian kita terapkan dengan sungguh-sungguh semua yang kita yakini itu.

Misal seorang teman dari teman saya memiliki keyakinan bahwa penetapan hari raya dengan hisab adalah benar, dengan ru’yah juga benar, oleh pemerintah juga benar, maka suatu kali ia akan berhari raya dengan ru’yah ’alam Islamy, yaitu berhari raya saat satu wilayah dunia Islam telah melihat hilal, pernah juga ia berhari raya bersama penguasa, pernah juga ia berhari raya dengan berdasar hisab (sesuai instruksi persyarikatannya).

Menurutnya dengan cara seperti itu ia memang cenderung bingung menetapkan, pada kesempatan apa ia akan menggunakan tata cara apa. Ia menyatakan tidak bisa mengerjakan satu saja tata cara penetapan dan meninggalkan yang lain, karena itu menjadi petunjuk bahwa ia menganggap satu tata cara lebih baik dari tata cara yang lain. Selain bingung, kesulitan yang lain adalah dianggap bunglon, mengambil cara yang enak saja. Tapi ia pikir inilah caranya untuk menegaskan bahwa ketiga cara penetapan hari raya itu adalah benar, tidak ada yang sebenarnya.

Nah, mampukah orang-orang yang mengklaim sebagai orang yang tidak menganggap dirinya sebagai paling benar mengerjakan cara ini? Mengerjakan semua keyakinan yang ada karena keyakinan yang ada itu baik dan benar. Kalau tidak maka berhentilah dari menggunakan kata-kata ”Adalah kebaikan saat orang yang tidak menganggap dirinya sebagai paling benar”. Perkataan tersebut hanya akan menjadi khayal al-aqidiyyah, khayalan yang dianggap sebagai kebenaran, jika ’pengalaman semua keyakinan’ tidak bisa dijalankan.

Jika kita tidak mampu mengamalkan semua keyakinan lebih baik kita menyatakan ”Adalah kebaikan saat orang bertolenransi”. Ini lebih realistis. Orang bertoleransi boleh saja menyatakan orang lain sebagai salah, tetapi ia akan tetap berlaku adil kepada orang yang salah itu. Ia akan tetap menyelenggarakan hak-hak orang yang salah itu dan tidak mencederai hak-hak orang yang salah itu. Dan, berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan segolongan kecil kaum salafi dan orang tarbiyah saya menemukan hal ini, toleransi.

Hal kedua yang menjadi perhatian saya dari buku ini adalah mengenai sangkaan pemfitnahan terhadap kaum salafi. Di buku ini dikatakan kaum salafi adalah yang suka mengkafirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan mereka. Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan sebagian kecil kaum salafi, mereka tidak pernah secara serampangan menyatakan seseorang itu kafir, musyrik, ahlulbid’ah, dll.

Mereka hanya berani menyatakan ’amalan demikian ini termasuk amalan kemusyrikan, perbuatan ini bisa menjerumuskan kepada kekafiran, perbuatan demikian adalah kekufuran. Tetapi untuk langsung menjatuh vonis kepada oknum, misal A kafir, B musyrik, atau C ahli bid’ah, mereka sangat hati-hati sekali karena mereka ingat akan hadits yang telah disebutkan di buku, yang menuduh saudaranya kafir tanpa bukti yang jelas, tuduhan itu akan kembali kepadanya. Bahkan untuk seorang tokoh yang sudah dicaci sebagai kafir oleh orang awam di luar golongan mereka (salafi), mereka sangat hati-hati sekali untuk menjatuhkan vonis kafir.

Jika mau jujur, penjatuhan vonis kafir kepada personal justru sering terjadi dan lebih parah terjadinya di negeri ini. Saya pernah membaca kisah mengenai KH. A. Dahlan rahimahullah. Beliau divonis kafir oleh beberapa tokoh agama semasa beliau karena beliau menggunakan kreta Belanda, menggunakan bangku dan meja dalam kelas, dan menggunakan sistem pendidikan Belanda. Justru ini lebih konyol kan? Seseorang divonis kafir secara individual karena menggunakan kereta? Kenapa bisa terjadi demikian, yah, mungkin karena kurang ilmu saja, kurang memahami hadits.

Selain kedua hal di atas, ada satu hal lain yang menarik perhatian saya. Seseorang teman saya yang berasal dari komunitas salafi pernah menyatakan kepada saya, bahwa sumber tulisan yang menyerang Syaikh Ibnu Abdil Wahhab tidak jauh-jauh dari Kitab Karangan Sayyid Ibnu Zaini Dahlan. Ternyata pada buku ini demikian adanya. Sumber sejarahnya cenderung berasal dari tulisan Sayyid Ibnu Zaini Dahlan. Dan sayapun tertawa, bukan untuk mencemooh tetapi hanya merasa lucu saja, pernyataan teman saya terbukti.

Kalau menurut saya, ancaman di pelupuk mata bukanlah faham-faham yang masuk dan tumbuh di Indonesia. Tetapi adalah sikap kita sebagai orang yang berkeyakinan untuk lebih jujur dan lebih ilmiah dalam mengenal keyakinan kita. Entahlah, tetapi saya rasa, banyak sekali di Indonesia ini, termasuk saya ^_^, orang berkeyakinan yang lebih mengandalkan imajenasi atau khayalannya dalam berkeyakinan.

Ada orang yang memaksakan konsep Tuhan yang dikhayalkannya ke dalam keyakinannya. Padahal sistem yang telah terbangun dalam keyakinannya sesungguhnya tidak bisa menerima konsep Tuhan yang demikian. Karena tidak mau jujur, tetap dipaksakan juga konsep Tuhan yang dikhayalkannya, akhirnya keyakinannya hanya berkisar pada khayal al-aqadiyyah.

Jika memang faham-faham yang tumbuh itu suram bagi kemanusiaan dan Pancasila lebih baik, maka ketika kita jujur dan ilmiah, hal itu pasti akan terbuka. Tidak perlu melakukan kekerasan doktrinal dengan mengkhotbahkan mengenai kesalahan-kesalahan keyakinan atau faham lain. Tetapi didiklah setiap generasi orang berkeyakinan di Indonesia untuk menjadi orang yang jujur dan ilmiah dalam berkeyakinan. Saya kira ini akan lebih baik bagi masa depan bangsa ini. Wallahu’alam.

(Mudah-mudahan setelah menerbitkan ini saya tidak ditangkap seperti Bu Prita….)

Kamu Salah dan Sayalah Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s