You are My Destiny

Saya mendengarkan lagu Jai Ho, Soundtrack Slumdog Millionaire, versi English-nya oleh Pussycat Dolls feat. A.R.Rachman. Satu baris syair lagu itu menarik bagi saya, you are the reason I breath, you are the reason I still believe, you are my destiny. Inilah cinta kata saya dalam hati.

Jika kita mencermati kisah film Slumdog Millionaire, tokoh utama bertahan hidup karena ia memiliki sesuatu yang ia cintai. Itu menjadi alasannya untuk hidup karena ia percaya suatu hari nanti ia bisa bertemu dengan cintanya. Cintanya telah menjadi tujuan hidupnya, takdirnya (Masih ingat akan makna takdir?).

Begitulah hukum Alloh mengatur hati, apa yang kita cintai akan menjadi kekuatan bagi kita yang membuat kita bertahan hidup di tengah badai, membuat kita percaya kita masih memiliki harapan di tengah gulita, dan menjadikan kita memiliki tujuan hidup yang jelas—membahagiakan cinta kita. Inilah hukum cinta dalam konteks ruang dan waktu, yang dicintai menjadi takdir yang mencintai, terserah siapa yang mencinta siapa yang dicinta. Cinta menjadi energi kehidupan.

Seorang ibu yang mencintai anaknya akan berkorban bagi anaknya, seorang bapak yang menderita kanker stadium parah tetapi masih mencintai keluarganya akan memiliki kekuatan bertahan hidup yang bersumber dari cintanya. Demikian juga seorang kekasih yang mencitai kekasihnya akan memiliki kekuatan untuk bertahan hidup di tengah keadaan yang sulit karena ia memiliki kekuatan dari cintanya, ini yang digambarkan dalam film Slumdog tersebut.

Tapi terkadang kita merasa cinta namun cinta itu tidak memberikan kekuatan apa-apa. Mungkin kita perlu bertanya, kita cinta atau ”cinta”?Untuk membedakan keduanya, mungkin kita bisa mengutip petuah murid seorang tetua Islam, ”Hati itu ibarat bejana. Jika suatu cinta mengisinya maka tidak ada cinta lain yang bisa mengisinya lagi.”. Dari petuah ini saya coba simpulkan bahwa dikatakan cinta adalah saat hati murni untuk yang dicintai. Nah, saat ini terjadi maka cinta bisa menjadi kekuatan kehidupan.

Seperti yang dikatakan, khasiat cinta itu bisa terjadi siapapun yang mencintai dan dicintai. Kekasih itu bisa anak, isteri, calon isteri, hewan, dll. Dalam konsep orang percaya atau mukmin atau believers, kekasih adalah Alloh. Alloh menjadi alasan hidup, Alloh menjadi alasan untuk memiliki pengharapan, Alloh menjadi tujuan hidup. Maka kepada Alloh disenandungkan “You are The Reason I breath, you are The Reason I still believe, You are my Destiny.”.

Ini tidak mudah. Memiliki alasan Sesuatu yang tidak pernah disentuh, dilihat, diindera adalah hal yang sulit. Rasul menjanjikan kedudukan 50 kali di atas para Sahabat (kecuali sahabat utama) bagi orang yang beriman kepada beliau di masa jauh setelah kewafatan beliau karena menjalin emosi dengan yang tidak terindera itu sulit, apalagi mencintai. Maka banyak individu yang mencintai ciptaan, bukan Pencipta itu sendiri.

Apakah mencintai ciptaan yang lebih jelas, lebih nyata, dan bisa diindera adalah salah? Entahlah, tapi saya kira itu lebih baik daripada tidak punya sesuatu yang dicintai.Hanyasaja saya masih mengharap…. Wallohua’lam.

You are My Destiny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s