Slumdog, Laskar, dan Cinderella

Suatu magrib tepat sedang takbiratulikram terbetik pertanyataan dan pertanyaan di hati saya. Pernyataannya ”Wah, Slumdog Millionaire dan Laskar Pelangi sama-sama sukses, laris dan dapat penghargaan.” lalu pertanyaannya timbul ”kayaknya keduanya sama deh, apa ya persamaannya?”. Maka sepanjang sholat saya mulai bercakap-cakap, sholatnya ga khusyu berarti. Tapi ga papa, kan berjama’ah, yang tidak khusyu’ dinaikkan derajatnya dan dianggap khusyu’.

Dalam pemikiran saya, Laskar Pelangi dan Slumdog Millionaire sama dalam satu hal penting, yaitu menggambarkan perjuangan seorang anak yang tulus dalam bertahan hidup dan mencapai impiannya. Keduanya tidak putus asa dalam usaha mencapi tujuan hidup padahal keadaan begitu menghimpit. Keduanya juga menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam usaha pencapaian impian. Ical mengimpikan sebuah desa di Eropa (dan pendidikan tinggi tentunya), sedangkan tokoh di dalam Slumdog mengimpikan sang cinta.

Perjuangan, keyakinan, dan kebaikan menjadi nilai utama yang muncul di dalam kedua film tersebut. Saya pikir ini tidak jauh beda, bahkan mungkin persis dengan Cinderella. Dongeng laris ini juga menceritakan tentang kesabaran, keyakinan, dan kebaikan. Dan tidak diragukan lagi, Cinderella adalah dogeng laris yang tidak mati di makan zaman. Padahal Cinderella dicipta di awal abad ke-19.

Melihat ini saya bersyukur, ternyata walaupun kita lihat kejahatan dan kekacauan di dunia terus bertambah tetapi ternyata nilai dasar yang diyakini dan disukai oleh manusia masih sama dan tidak jauh beda dengan tahun 1800-an. Alam bawah sadar manusia masih sangat menghargai nilai-nilai kebaikan, perjuangan, dan cinta. Dunia berarti masih bisa berharap kepada humanbeing. Mungkin saja kekacauan yang banyak terjadi sekarang disebabkan karena nilai-nilai kebaikan tersebut terpendam di bawah alam sadar yang sudah dipenuhi ketamakan dan kesombongan. Mudah-mudahan nilai-nilai kebaikan bisa diperkuat dan kemanusiaan masih dipercaya mengurus bumi. Nah, sekaran pertanyaannya adakah yang mau menyepuh jiwa hingga karat ketamakan dan kesombongan hilang dan terpancar nilai-nilai kebaikan? Wallohua’lam  (Toleh kanan, toleh kiri…, dan sholatpun usai).

Slumdog, Laskar, dan Cinderella

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s