Profil Khaled Meshaal

Sejak Hamas memenangkan pemilu pada Januari 2006. Meshaal ditugasi untuk menjadi perwakilan Hamas dalam pembicaraan dengan Mesir dan Rusia, juga kepada Liga Arab (EPA). Khaled Meshaal adalah seorang pimpinan politik senior di Hamas, sebuah gerakan peralwanan palestina, sejak 1995.

Sekarang Meshaal hidup dalam pengasingan di Damaskus, ibu kota Syiria. Ia adalah seorang tokoh kunci dalam merumuskan kebijakan politik Hamas terhadap Israel. Bagi banyak orang Palestina, Mehsaal dianggap sebagai pahlawan. Tetapi bagi Israel, Amerika, dan negera barat lainnya, ia adalah pimpipinan organisasi yang mencoba menghancurkan Negara Yahudi, Israel.

“Adalah benar bahwa dalam realitasnya terdapat sebuah entitas negara yang disebut Israel di atas tanah Palestina,” kata Meshaal. “Tetapi saya tidak akan melakukan deal untuk mengakui negara tersebut.”

Meshaal dilahirkan pada 1956 dari sebuah keluarga Palestina di Tepi Barat. Ia telah kenyang dipaksa hidup di luar tanah kelahirannya sepanjang hidupnya. Setelah invasi Israel terhadap Tepi Barat pada 1967, Meshaal dan keluarganya meninggalkan desa mereka di dekat Ramallah seperti jutaan orang Palestina lainnya yang meninggalkan tanah air mereka karena takut kepada siksaan Zionis Israel yang mereka perkirakan akan mereka alami. (Tambahan: Kenapa perkirakannya akan kejam? Baca Nakba).

Ayah Meshaal mendapatkan kereja di negara Kuwait, saat itu negera Kuwait terkenal sebagai tempat semai yang subur bagi nasionalisme Arab dan sentimen pro-Palestina. Segera setelah itu, Khaled Meshaal bergabung dengan Ikhwan al-Muslimin, sebuah gerakan keislaman yang berpengaruh. Meshal mendaftar sebagai mahasiswa di Kuwait University, mepelajari fisika. Di sana ia mendirikan sebuah kelompok mahasiswa dengan nama “List of the Islamic Right.”

Saat Hamas didirikan pada 1987, setelah Intifada Pertama berkobar, Meshaal memimpin Hamas cabang Kuwait. Namun saat Irak menginvasi Kuwait pada 1990, Meshal pindah dari negeri tersebut ke ibu kota Jordanian, Amman. Di sana ia menjadi Pimpinan Cabang Hamas.

Pada 1997, Benjamin Netanyahu, yang saat itu menjabat PM Israel mengirimkan dua pembunuh professional untuk menghabisi Meshaal. Pembunuh tersebut mencoba menyuntikan senjata kimia bereaksi slow ke telinga Meshaal di sebuah jalanan umum. Namun,operasi pembunuhan ini gagal dan pembunuh tersebut ditahan.

Raja Jordania, Raja Hussein, marah dengan penyerangan tersebut. Ia mendesak untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan dimana Netanyahu harus mengirimkan penangkal racun tersebut. Netayahu juga harus melepaskan lebih dari 40 orang Palestina dari penjara Israel agar kedua agen Israel tersebut bisa dibebaskan. Sheikh Ahmed Yassin, Pendiri Hamas yang telah dipenjara selama 9 tahun termasuk tahanan yang dibebaskan.

Syaikh Yassin dibunuh Israel pada 2004 di Gaza dengan serangan udara. Abdel Aziz Rantissi yang mendirikan Hamas bersama Syaikh Yassin juga dibunuh Israel pada tahun yang sama. Reputasi Meshaal sebagai figur di Hamas menguat setelah kedua pimpinan Hamas tersebut syahid. Tetapi ia tidak dapat kembali ke Palestina karena ditakutkan ia akan dipenjara dan dibunuh Otoritas Israel. Maka ia hidup dalam pengasingan sejak 2001.

Meshaal menyatakan bahwa kebijakan Hamas adalah rekasi langsung atas invasi yang dilanjutkan dengan penjajahan oleh Zionis Yahudi atas tanah Palestina. Dalam sebuah wawancara dengan jurnalis Al Jazeera, Hashem Ahelbarra, Meshaal bertanya “Mana yang muncul duluah, penjajahan atau perlawanan?” Meshaal menyatakan ”Israel memulai dahulu dengan menjajah dan sebagai reaksi atas itu, muncullah perlawanan”

Meshaal menyatakan bahwa pimpinan politik dan militer Israel telah melakukan Holohcaust yang nyata terhadap orang Palestina di Gaza dan Tepi Barat. Ia menyatakan “Hamas tidak bisa disalahkan, juga tidak tindakan perlawanan rakyat Palestina, karan mereka hendak mempertahankan diri mereka dalam perang karena terpaksa, bukan karena ras.”

Tapi Israel tetap saja melihat Meshaal sebagai pimpinan dari sebuah kelompok teroris. Shimon Peres menyatakan “Komunitas internasional harus mengadili Khaled Meshaal atas kesertaannya dalam pembunuhan dan terror.”

Setelah Hamas menang mutlak dalam pemilu Palestina, Israel dan Pemerintahan Barat langsung menolak untuk menjalin kesepakatan dengan pemerintahan yang dipimpin Hamas. Kemengan Hamas juga membangkitkan pertarungan kekuasaan melawan Fatah yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas, Presiden Otoritas Palestina (PA).Meshaal menolak Abbas, yang mana organisasinya yaitu Fatah telah menjalin kerjasama dengan Amerika, sekutu Israel, memainkan peran sebagai perwakilan seluruh Palestina.

“Mahmoud Abbas bukanlah seorang mediator. Ia adalah seorang warga Palestina yang juga Presiden Palestina. Ia tidak bisa berperan sebagai mediator antara kami dengan Israel. Kami tidak menghendaki mediasi,” demikian pernyataan Meshaal. ”Mahmoud Abbas, Fatah, Hamas, bersama dengan semua faksi lainnya harusnya di satu sisi yang sama dan Israel di sisi lainnya.”

Abbas kemudian membentuk sebuah pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin oleh Ismail Haniya, seorang pimpinan Hamas yang terkemuka, tetapi tetap saja Barat menolak mengakui anggota kabinet dari Hamas. (sumber: Aljazeera)

Profil Khaled Meshaal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s