Pemikiran Isteri Korban KDRT

Tahukah kamu jika perempuan dikasari berkali-kali kognisi(pemikiran)nya akan ”kacau”. Jika kita melihat kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, kita akan menemukan banyak hal yang mungkin bagi kita tidak masuk akal. Misalnya, mengapa sang isteri tidak pindah? Mengapa sang isteri tidak melawan? Mengapa sang isteri tidak melapor?
Mungkin kita mengira ini terjadi pada kasus-kasus KDRT di dunia timur saja, terutama Indonesia, karena pengaruh budaya. Tapi ternyata tidak. Di beberapa buku mengenai kekerasan terhadap isteri saya membaca bahwa di kasus-kasus KDRT di Amerika pun ditemukan pebuatan-perbuatan isteri (korban kekerasan) yang tidak masuk akal.
Ketika menyelidiki korban KDRT yang membunuh suaminya, para penyidik pun sering menemukan pernyataan yang irasional. Karena dianggap irasional terkadang dikira sang tersangka berbohong lalu terjadi tekanan agar berbicara benar. Saya pikir sungguh kasihan sekali, sudah dianiaya tidak dapat perlindungan pula!
Mengapa bisa perbuatan-perbuatan yang dilakukan korban KDRT bisa tidak masuk akal? Ya itu tadi, terjadi kekacauan pemikiran. Bagaimana prosesnya memang diterangkan dalam buku yang saya baca itu, tapi sayangnya saya lupa. Kekacauan kognisi ini menyebabkan isteri-isteri yang menjadi korban KDRT melakukan hal-hal yang menurut kita irasional. Bukan berarti sang korban menjadi gila, dan ini juga bukan kesalahan. Adalah hal yang wajar saat orang mengalami pristiwa traumatis dalam hidupnya kognisinya menjadi kacau. Misal orang yang menjadi korban Tsunami menjadi ketakutan saat mendengar suara gemuruh padahal kita yang tidak menjadi korban biasa saja. Jadi, itu wajar saja, sesuai sunnatulloh atas jiwa-jiwa manusia.
Nah, maka dari itu, bagi orang-orang yang berurusan atau mengurus permasalahan isteri-isteri korban KDRT hendaknya hati-hati. Jangan buru-buru menetapkan pernyataan mereka irasional lalu kemudian mencecar mereka dengan pertanyaan-pertanyaan. Hendaknya lebih berempati.
Ada satu kisah mengenai kognisi isteri korban KDRT yang saya baca di buku. Kasusnya tejadi di Amerika. Seorang isteri telah lama diperlakukan dengan kasar oleh suaminya. Ia tetap bertahan dan tidak bercerai hingga mereka mempunyai anak. Suatu hari, sang suami lagi-lagi marah tidak jelas, ia tidak puas atas sesuatu yang dilakukan sang isteri. Kemudian sang suami mengancam ”Jika kamu melawan, aku akan bunuh anakmu!”. Tiba-tiba saja sang isteri segera mengambil senapan suami di tempat penyimpanannya, segera ia menembak sang suami hingga sang suami tidak bergerak lagi.
Kejadian tersebut di pagi hari, lalu sang isteri membereskan rumah dan pergi berbelanja ke supermarket. Saat pulang dari belanja, ia terkejut dan berteriak-teriak bahwa suaminya telah dibunuh. Saat kasus diselediki polisi, ketahuan bahwa sang pembunuh adalah sang isteri.
Mungkin kita berfikir, ”Mengapa isteri tidak membunuh suaminya sejak dulu? Ia kan tahu tempat penyimpanan senapan sang suami?”, atau pertanyaan lain ”Bagaimana bisa ia tidak sadar jika ia membunuh suaminya sendiri?”.
Dari beberapa penelitian, ternyata perempuan yang mengalami KDRT tidak berani bertindak terhadap yang mengasarinya. Mereka merasa pelaku kekerasan yang juga suaminya tersebut memiliki kekuatan luar biasa, mereka selalu merasa diawasi. Bahkan saat sang pelaku tidurpun mereka tidak berani bertindak karena merasa si pelaku selalu tahu. Jika tidak ada alasan yang sangat penting baginya, ia tidak akan bertindak. Inilah kenapa sang isteri dalam kasus di atas baru bertindak saat sang suami mengancam akan membunuh anaknya.
Ia juga meyakini bahwa menembak itu tidak membunuh sang suami, tetapi hanya membuatnya berhenti dari melakukan kegiatan ancaman terhadap anak mereka. Oleh karena itu saat pulang belanja sang isteri menemukan suaminya tergeletak tak bernyawa ia menjadi kaget dan mengira sudah ada pembunuhan.
Mungkin bagi kita tidak masuk akal, tapi itulah kenyataan. Jika kita mengalami (na’udzubillah min dzalik) mungkin kita baru mengerti. Maka bagi mereka yang menangani kasus KDRT, misal aktivis LSM, penegak hukum, pengadilan, tolong hati-hati. Kalo menemukan kasus parah mungkin hendaknya didampingi psikolog profesional. Atau setidaknya selalu empati saat menangani kasus. Semoga para suami yang kasar bisa tumbuh kembali rasa cinta di hatinya. Semoga saya tidak menjadi suami yang kasar. Amin. Wallohu a’lam

Pemikiran Isteri Korban KDRT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s