Semakin Banyak Pilihannya Semakin Bingung?

Saya kira jawaban dari judul di atas adalah tidak. Justru kita harusnya bersyukur dalam alam demokrasi ini kita mempunyai banyak pilihan untuk dipilih sebagai wakil kita di legislatif maupun yang akan memimpin kita sebagai eksekutif. Memang kebingungan ini terjadi, menurut saya, lebih karena kampanye yang tidak mengena. Yaitu calon legislatif atau pemimpin lebih cenderung memilih cara ringkas untuk kampanye, yaitu memasang baliho, membagi-bagi kartu nama, membagi-bagi stiker, dll.

Hal ini bisa dimengerti karena memang cara berkampanye seperti ini lebih mudah dan lebih hemat tenaga. Akhirnya dengan cara kampanye seperti ini, rakyat menjadi bingung, karena para calon tidak menunjukkan ia itu siapa, apa yang mau dilakukannya di legislatif atau eksekutif, dan apa bedanya dia dengan calon lain (kenapa harus memilih dia dan tidak calon lain). Jarang sekali kemudian, para calon yang meilih kampanye secara dialogis kepada para calon pemilih untuk menjelaskan visi, misi, dan langkah kerjanya. (Langkah kerja harus dijelaskan, karena biasanya ini yang terlihat membedakan calon yang “jelas” dan “yang tidak jelas”).

Lagi-lagi, hal ini bisa difahami karena memang mungkin para pemilih kita masih disibukkan dengan kebutuhan primer atau disebut juga kebutuhan fisiologis dalam Teori Maslow, sehingga kurang tertarik dengan yang agak-agak “ngintelek” seperti debat, pengenalan visi-misi-langkah kerja, dll. Jika di USA, kampanye demikian mungkin dilakukan. Yang saya senang, di sana, para kandidat, atau para relawannya, mendatangi rumah para calon pemilih dan berdiskusi satu persatu dengan mereka. Dengan kampanye seperti itu, para pemilih bisa lebih jelas mengenai konsekuensinya memilih para calon tersebut, apa yang akan dilakukan calon tersebut jika terpilih.

Sayangnya di Indonesia, sistem kampanye seperti ini belum marak, mungkin suatu hari nanti. Tapi bagi orang-orang yang tinggal di perkotaan, para orang terpelajar, yang memiliki akses lebih ke informasi, jika memang mereka ingin serius merubah nasib Bangsa Indonesia ini, mereka bisa lebih aktif mencari informasi mengenai para calon. Mereka bisa mencari di internet, melihat berita di koran/tv mengenai track record calon, tanya sana-tanya sini, melihat debat para calon, atau bertanya kepada calon ataupun relawannya.

Itu kalau memang ingin melakukan perubahan lewat pemilu. Kita cari informasi mengenai calon-calon dan mempertimbangkan mana calon yang mendukung aspirasi saya dan kira-kira akan baik sebagai legislatif maupun sebagai pemimpin. Tapi kalau kita hanya pasif, kemudian memutuskan golput karena alasan bingung atau alasan semua politikus itu busuk, ya…, gimana mau berubah. Kalau hal tersebut terjadi di daerah slum atau pedesaan, okelah. Tapi kalau terjadi pada kelas menengah dan terpelajar yang mempunyai akses dan waktu ke informasi, kok rasanya memprihatikankan sekali.

Semakin Banyak Pilihannya Semakin Bingung?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s