Menggerakkan Dengan Menyebar Ketakutan

Pernah mendengar kisah pembantaian para penyihir di Kota Salem? Beberapa pekan yang lalu saya melihat filmnya di sebuah stasiun TV swasta. Dalam film tersebut digambarkan betapa menggelikan (namun tragis)nya pengadilan para penyihir tersebut. Sama sekali tidak ada bukti bahwa para tertuduh adalah penyihir, namun pengadilan dengan dukungan penduduk kota menjatuhkan hukuman mati pada para tertuduh. Bukti yang ada hanyalah pengakuan para anak-anak dan itupun sama sekali tidak bisa dibuktkan kebenarannya.

Saya tidak menonton dari awal filmnya sehingga tidak tahu dari apakah bermulanya tragedi tersebut. Tetapi, dari jalan cerita saya mencoba menyimpulkan bahwa tuduhan tersebut kebanyakan dilakukan kepada musuh-musuh dari keluarga yang menuduh. Artinya para penuduh mencoba menghancurkan musuh-musuh mereka dengan menuduh mereka sebagai penyihir. Masyarakat yang ketakutan dengan guna-guna penyihir kemudian menyetujui hukuman mati bagi para tertuduh penyihir tanpada ada bukti. Ketakutan telah menutup rasionalitas mereka.

Melihat film drama tersebut saya jadi teringat dengan sebuah film lain yang berupa film dokumenter mengenai Tragedi 9/11. Dalam film tersebut dikatakan, beberapa fihak telah menggunakan tragedi tersebut untuk menyebarkan ketakutan di masyarakat agar kebijakan-kebijakannya mendapat dukungan penuh rakyat. Saya sungguh mengutuk peristiwa 9/11, dan penggunaannya untuk tujuan pragmatis segelintir orang sungguhlah bejat.

Dalam Kasus Salem dan Tragedi 9/11 memang ada kesamaan. Seseorang ambisus menggunakan ketakutan masyarakat untuk menggerakkan mereka mencapai tujun ambisisunya. Jika dalam tragedi Salem si penuduh berhasil melenyapkan musuh-musuhnya dengan menyebarkan ketakutan akan kekutan sihir dan melakukan tuduhan bahwa musuh-musuh keluarganya adalah penyihir. Sedangkan Tragedi 9/11 dimanfaatkan orang tidak berhati untuk memperoleh dukungan rakyatnya agar ia bisa mendapatkan minyak dan tanah jajahan baru.

Dan sejauh ini, keduanya berhasil. Di Kasus Salem, musuh-musuh Si Penuduh berhasil dihukum mati, dan  di Kasus 9/11, Si Politikus Busuk berhasil mendapatkan satu ladang minyak dan satu jalan pipa minyak sekaligus mendapatkan dua jajahan. Dengan kata lain, penyebaran ketakutan di masyarakat terbukti sukses menggerakkan masyarakat untuk mencapai tujuan si penyebar ketakutan. Jika di Kasus Salem menggerakkan masyarakat untuk mendukung hukuman mati, kalau di Tragedi 9/11 menggerakkan rakyat untuk mendukung kebijkakan agresif pada negara lain.

Mengapa demikian? Agaknya rasa takut adalah suatu yang bisa menggerakkan manusia, bisa memotivasi manusia. Seingat saya dalam Teori Motivasi Maslow, Herzberg, XY, dan lain2, tidak ada rasa takut yang bisa menjadi motivator, hmm, coba saya tanya dosen saya dulu ya. Bagaimana Bu/Pak Dosen?

Menggerakkan Dengan Menyebar Ketakutan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s