Psikologi Puasa: Puasa dan Muraqabatulloh

Puasa seringkali disebut memiliki karakter unik. Karakter unik puasa sebagai ibadah yang pribadi. Seringkali para penceramah di saat Ramadhan menyitir hadits qudsi, atau firman Alloh yang dilisankan oleh Nabi Muhammad SAW: ash-shaumu li wa Ana ajzi bihi. Artinya, puasa itu adalah milik-Ku (Alloh) dan Aku (Alloh) yang akan membalasnya.

Dalam menyitir hadits qudsi tersebut, biasanya para penceramah akan menjelaskan tentang karakteristik puasa sebagai ibadah peribadi. Shalat saat dilaksanakan bisa tertangkap indera mata. Zakat, haji, syahadat, shadaqah, jihad, membantu orang, walaupun kita sembunyikan seperti apa, tetap tertangkapu indera mata kita. Tetapi puasa berbeda. Jika kita menjalankan puasa, tidak ada indera kita bisa menangkap kegiatan puasa kita. Hanya rasa kita saja yang memahami bahwa kita sedang puasa. Saat berpuasa, kita terlihat seperti orang biasa yang beraktivitas sehari-hari. Padahal kita sedang beribadah.

Saat suatu kegiatan tidak terdeteksi indera, maka yang bisa mengetahui benar tidaknya kegiatan kita itu hanyalah diri kita sendiri. Dengan pemahaman seperti ini, kita menjadikan diri kita sebagi penentu kegiatan kita. Kita yang melaksanakan, kita yang menilai, dan kita juga yang menentukan kualitas kegiatan kita. Artinya penggerak atau motivasi kita dalam berkegiatan itu berasal dari dalam diri kita sendiri atau motivasi intenal. Kondisi ini sangat berhubungan dengan aspek kontrol diri dalam berpuasa, selain kegiatan kita yang menahan diri dari berbagai hal. Jadi, kita menahan diri dari berbagai hal dengan dorongan dari dalam diri. Dengan kata lain, puasa meningkatkan motivasi internal dalam kontrol diri. Kondisi ini hanya dapat dicapai jika kita melakukan niat  berpuasa dengan baik. Jika kita berpuasa hanya karena takut dibicarakan masyarakat atau dihukum oleh orang tua maka motivasi internal dalam berpuasa tidak akan terlatih. Puasa yang demikianlah yang disebut oleh Rasulullah sebagai puasa yang hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Tidak ada manfaatnya puasa tersebut.

Jadi, kunci mendapatkan manfaat puasa secara psikologis adalah dengan niat yang benar. Sebagai muslim, kita niat berpuasa tidak hanya untuk mendapatkan manfaat bagi diri untuk mendapatkan syurga, tetapi kita dianjurkan untuk beribadah karena Alloh. Alloh sebagai tujuan kita. Jadi, dalam berpuasa kita menyadari bahwa Alloh juga tahu kualitas puasa kita, selain diri kita sendiri. Dalam kondisi ramai ataupun sendiri, di tempat umum atau di tempat rahasia, di zahir dan di batin, kita berpuasa karena kita tahu dan sadar bahwa kita diawasi Alloh. Pengawasan Alloh atau kondisi kefahaman kita bahwa kita diawasi oleh Alloh disebut muraqabatullah.

Tanpa rasa diawasi oleh Alloh, puasa kita tidak akan sempurna dan hanya menghasilkan lapar dan haus. Tanpa rasa diawasi oleh Alloh, di saat sepi sendiri, dapat saja kita melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Atau di kala ramai, tanpa rasa diawasi Alloh, bisa saja kita melakukan hal-hal yang mengurangi nilai puasa kita misal kita mengeluarkan kata-kata hasud di dalam hati. Tetapi dengan rasa diawasi Alloh, di kala sepi ataupun ramai, kita tetap menjaga kualitas puasa kita. Jadi, kualitas puasa ditentukan oleh rasa kita diawasi oleh Alloh. Semakin baik muraqabatullah kita, semakin baik rasa kita diawasi oleh Alloh semakin baik kualitas puasa kita.

Di sisi lain, sebenarnya saat berpuasa kita sedang mempraktekkan muraqabatullah juga. Adalah fitrah manusia tidak ingin merugi. Rasulullah SAW telah mengingatkan umatnya akan adanya orang yang berpuasa tetapi merugi. Secara fitrah, manusia tidak ingin merugi dan kemudian berusaha untuk menjalankan puasa dengan baik agar tidak merugi. Ketika manusia ingin menjalankan puasa dengan baik maka, ia akan otomatis berusaha untuk tetap berpuasa di kala ramai dan sepi. Dalam kondisi ramai dan sendiri manusia itu berusaha menjaga kualitas puasanya. Ia menjaga puasa dengan harapan mendapatkan pahala dari Alloh SWT. Dengan harapan itu, manusia tersebut merasakan pengawasan Alloh dengan tingkatan apapun. Bisa jadi tingkatan rasa diawasi Alloh tersebut di tingkatan yang tinggi, tetapi bisa juga di tingkatan yang rendah.

Manusia yang berpuasa ingin mendapatkan pahala dari ibadah puasanya. Ia sadar bahwa pahala itu adalah hak Alloh untuk menganugerahkan kepada yang Alloh kehendaki. Ia sadar bahwa ia harus menjaga puasanya di hadapan Alloh agar bisa mendapatkan pahala itu. Ketika ia sadar bahwa Alloh adalah Tuhan Yang Maha Melihat maka, ia akan menjaga puasanya di kala ia merasa di awasi oleh Alloh, yaitu di setiap masa. Di kala ramai, ia sadar bahwa ia sedang menjaga puasanya, maka ia juga sadar bahwa ia sedang diawasi Alloh karena puasa tadi mengingatkannya akan pengawasan Alloh. keterhubungan rasa pengawasan Alloh dan puasa. Di saat sunyi, ia tetap menjaga puasanya. Ia sadar ada yang sedang dijaganya. Maka ia sadar pula di saat sunyi itu bahwa ia sedang diawasi oleh Alloh SWT. Itulah yang menjadikan orang yang melakukan puasa otomatis akan melatih rasa bahwa ia sedang diawasi oleh Alloh.

Latihan ini adalah proses pembiasaan. Dalam isitilah kalangan shufi, latihan disebut sebagai riyadhoh. Dalam pemahaman mengenai latihan ini, jiwa manusia dipandang memiliki kecenderungan yang jelek, yaitu inna an-nafsa la ammaratun bissu’. Nabi Yusuf AS mendakwahkan kepada Zulaikha bahwa jiwa itu sentiasa memerintahkan kepada hal yang buruk. Tetapi dia dapat dilatih untuk cenderung kepada hal-hal yang baik. Latihan jiwa yang asasi adalah zikir dengan kalimat thayyibah, la ilaha illalloh. Rasul SAW telah bersabda, jaddidu imanakum bi qauli la ilaha illalloh, perbaruilah iman kamu sekalian dengan mengatakan la ilaha illalloh. Kita diminta untuk memperokoh iman, mempertebal iman, melapisi iman hingga berlapis-lapis dengan zikir kalimat thayyibah. Ibadah sendiri adalah latihan untuk menuju Alloh. Firman Alloh, wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin, beribadahlah kamu kepada Alloh hingga kamu mendatangi (janji) Alloh (berupa kematianmu). Ibadah sebagai sarana latihan jiwa yang sedang kita bahas kali ini adalah puasa.

Mungkin di awal, karena harapan akan pahala tadi, rasa sedang diawasi oleh Alloh itu hanya berlandaskan orientasi untung rugi. Karena takut rugi, ia melakukan perintah Alloh dengan keyakinan ia sedang diawasi oleh Alloh. Kondisi profit oriented ini biasanya memunculkan kondisi rasa diawasi oleh Alloh yang bersumber dari rasa takut atau khasyatulloh. Takut jika salah maka puasanya tidak mendapatkan ganjaran dari Alloh. Takut jika puasanya batal, ia akan mendapakan azab dari Alloh.

Kondisi takut yang mendasari ibadah ini boleh-boleh saja. Tetapi, kondisi ibadah yang bersumber dari rasa takut semata ini beresiko memunculkan kondisi Religious Trauma Syndrome atau kondisi trauma psikologis yang bersumber dari praktek keagamaan tidak benar dengan melandaskan semua praktek agama pada ketakutan akan hukuman setelah mati sehingga berusaha untuk mengumpulkan pahala agar selamat. Setelah mengalami RTS ini orang akan mengalami kondisi psikologis seperti orang trauma. Ketakutan, cemas, pikiran buruk, pikiran curiga, dll. yang tidak beralasan.

Sampai di sini, kita akan bertanya “Bukankah takut akan neraka ini benar secara syariat Islam? Tapi kok malah menimbulkan kondisi gangguan jiwa atau kondisi yang tidak tenang?” Takut akan neraka ini adalah benar sesuai syariat, tetapi kita juga perlu ingat bahwa Alloh telah memberikan anjuran untuk berharap akan rahmat Alloh, wa ma yaiasu min rawhillahi illal kafirin. Wasiat Nabi Nuh adalah yang berputus asa dari rahmat Alloh adalah orang-orang yang mengingkari Allloh. Artinya berharap kepada Alloh itu adalah bagian dari keimanan kepada Alloh. Selain itu, Alloh juga telah menetapkan cinta kepada-Nya sebagai bagian dari cinta kepada Alloh. Walladzina amanu asyaddu hubban lillah, orang-orang yang beriman kepada Alloh itu adalah yang kuat berlipat cintanya kepada Alloh. Lagi-lagi, cinta menjadi bagian dari keimanan kepada Alloh.

Jadi, bukan hanya takut kepada Alloh yang diharapkan dari kita saat “memandang” Alloh. Kita diharapkan juga “memandang” Alloh dengan rasa berharap dan rasa cinta. Memang Alloh adalah al-Malik Yang Maha Kuasa dan al-Jabbar Yang Maha Memaksa, tetapi di atas semua nama itu, Alloh menguatamakan bahwa Ia adalah ar-Rahman Yang Maha Pengasih. Alloh telah menetapkan bahwa inna rahmati taghlibu ghadhbi, rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku. Maka justru kita harus memandang Alloh dengan rasa cinta dan harap juga, tidak hanya rasa takut semata.

Ketiga rasa ini, disebutkan oleh para ustadz, menjadi fondasi bagi pengabdian kita kepada Alloh. Diharapkan motivasi kita itu tidak hanya semata karena takut, tetapi juga ada harap akan pahala dan syurga Alloh. Dan mungkin lebih melengkapi lagi akan kedua rasa itu adalah rasa cinta kepada Alloh. Cinta yang melahirkan rindu untuk menatap Alloh di hari kiamat.

Fondasi ibadah ini juga termasuk fondasi bagi ibadah puasa kita. Kita hendaknya berpuasa tidak hanya karena takut akan azab Alloh, untuk menghindari azab Alloh, tetapi juga ada rasa pengharapan dalam puasa itu akan rahmat Alloh. Dan yang lebih baik lagi, kita berpuasa juga karena kita cinta kepada Alloh Ta’ala. Dengan niat demikian, barulah puasa kita akan dapat menghantarkan kita kepada kondisi rasa diawasi oleh Alloh yang pas. Muraqabatulloh yang pas itu adalah rasa diawasi oleh Alloh yang bersendi pada rasa harap, rasa takut, dan rasa cinta kepada-Nya.

Adanya muraqabatulloh yang pas dan yang tidak pas seperti yang telah kita bahas, menjadikan adanya kebutuhan akan dua hal untuk memaknai puasa kita sebagai latihan atau riyadhah muraqabatulloh. Pertama adalah niat, kembali lagi ke niat. Sedangkan yang kedua adalah ilmu. Dengan niat kita memfokuskan hati dan perilaku kita untuk menjalani puasa dalam rangka takut, berharap, dan cinta kepada Alloh. Memfokuskan hati dan perilaku penting bagi tercapainya kondisi jiwa yang tercerahkan dalam berpuasa. Jika hanya fisik yang berpuasa tetapi hati kita tidak fokus kepada puasa justru berkhayal macam-macam, kita hanya akan mendapatkan lapar dan haus.

Tanpa niat yang memfokuskan hati dan pikiran, akan ada bahaya puasa yang mengancam yang bersumber dari keadaan kurang nutrisi atau deprivasi yang dialami tubuh. Tubuh yang mengalami kurang asupan selama puasa, tanpa ada fokus pikiran untuk puasa, akan menjadi tubuh yang nagih setelah ada kesempatan untuk melampiaskan keinginan. Dalam kasus puasa, kesempatan itu adalah buka puasa. Saat itu, tubuh akan memenuhi kondisi yang kurang dari fisik plus kebutuhan normalnya saat itu. Misal dalam kondisi biasa, kebutuhannya 1 ml gula. Saat berpuasa yang tanpa niat benar, tubuh saat berbuka akan meminta untutuk diberi asupan gula 1 ml plus kebutuhan gula saat makan sore yang biasanya didapatkan. Saat malam, metabolisme pembakaran di tubuh akan kurang dibandingkan siang. Asupan meningkat dan pembakaran berkurang, muncul timbunan sampah di dalam diri kita yang menjadi lemak.

Selain itu, jika tidak berniat, memfokuskan hati dan perilaku, kita juga akan mendapatkan dampak buruk dari kelaparan saat kita berpuasa. Saat lapar orang menjadi lebih mudah marah. Selain itu, saat lapar ada kondisi perubahan metabolisme dalam tubuh, yaitu berkurangnya gula darah secara drastis yang memunculkan kondisi mood atau hawa perasaan yang negatif. Kondisi ini akan menjadikan perasaan kita tidak nyaman atau memiliki hasrat untuk meluapkan emosi marah yang besar.

Niat yang memfokuskan hati dan jiwa kepada tujuan kita yaitu rasa harap, cinta, dan takut kepada Alloh, akan membantu menyelaraskan hati dan pikiran kita. Kita melakukan puasa secara sadar dengan harap, cinta, dan takut kepada Alloh. Dengan puasa yang demikian, baru kita bisa mengarah kepada latihan muraqabatulloh. Wallohu A’lam.

Psikologi Puasa: Puasa dan Muraqabatulloh

Aku Terharu (Curcol)

Yang tidak senang membaca curhatan, tidak usah dibaca……

Iseng mencari curriculum vitae untuk melamar pekerjaan, kutemukan sebuah email lama. Dariku kepada seorang teman tentang usulan nama putrinya yang baru dilahirkan. Sejujurnya dahulu saat mengetahui nama yang dianugerahkan kepada putrinya, ada sebuah rasa jengkel kepada temanku. Aku, saat itu, yang telah melakukan riset kecil untuk mencarikan nama terindah bagi putrinya merasa tidak dihargai. Memang was-was syaithan menguasaiku saat itu. Aku tidak ingin menjelajah lebih jauh tentang nama putri temanku dan mencari berita yang lain, sebuah represi kecemasan atas rasa tidak berhargaku.

Hari ini, entah mengapa Alloh mengizinkanku tahu bahwa usulanku telah digunakannya. Ada rasa bangga, ada berharga, dan ada rasa haru. Seperti aku hendak menangis, haru. Menangisi dzanku kepada teman dahulu. Rasa bahagia karena dihargai dan mungkin rasa bahagia karena aku masih punya teman. Ya Alloh, ampunkanlah dzanku dulu.

Anyway, aku terharu karena usulku diterima dua orang untuk disematkan pada putra dan putri mereka. Aku menjalin nama sebagai doa bagi anak-anak tersebut. Terkadang aku ingin menjadi seperti dewa-dewa di film-film India, mengangkat tangan dan  memberi berkat-berkat indah kepada anak-anak yang kukasihi, berharap masa depan mereka cerah dan mereka termuliakan seperti layaknya Bani Adam. Baru-baru ini temanku melahirkan dan lagi-lagi khayal tentang memberi berkat kepada anak bayi itu muncul. Ckckck, kompleks ketuhanan ini ….

Tapi aku bukan dewa, aku hanyalah manusia biasa. Aku hanya bisa mendoakan agar keselamatan dan kesejahteraan selalu dicurahkan Alloh kepada bayi-bayi mungil yang lahir ke alam donya ini. Dan ketika sesorang meminta usulan nama, aku akan merenungkannya dengan sangat, karena kuyakin nama adalah doa. Dan semoga doaku kepada anak-anak itu diijabah Alloh walaupun aku adalah orang yang hina dina.

Kepada temanku, aku memohon maaf karena dahulu telah berburuk sangka. Kepada dua orang yang menerima usulku, aku berterimakasih. Penerimaan kalian menunjukkan kepercayaan, penerimaan, dan penghargaan. Aku memang butuh itu. Terimakasih karena memenuhi kebutuhanku akan itu. Jazakumullohu….

Aku Terharu (Curcol)

“Saya Tidak Dapat Memahaminya”

Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Alan Turing, dalam film Imitation Game, saat menerima kabar kematian orang yang sangat dicintainya, Christopher. Alan mengulangi kalimatnya tersebut 2 kali kalau tidak salah. Dia tidak menangis dan kemudian mengakhiri perbincangan dengan kepala sekolanya tentang kematian Christopher dengan mengatakan bahwa ia tidak begitu mengenal Christopher. Kepala sekolanya, entah tahu atau tidak kebenaran pernyataan Alan, merespon dengan “Baguslah…dst.”

Scene film ini sungguh membuat bulu kuduk saya merinding. Membayangkan seorang anak dalam masa pertumbuhannya mengalami penyiksaan oleh teman-temannya. Ia merasa teman-temannya seluruhnya membencinya. Ia merasa sulit berkomunikasi dengan teman-temannya, mungkin dia ingin, tetapi akhirnya keinginan itu padam karena kesulitannya dan permusuhan teman-temannya. Alan merasa kesepian. Dalam kesepiannya, muncul Christopher muncul dan menolongnya. Tidak hanya dari penyiksaan teman-teman tetapi dari rasa kesendiriannya.

Alan dan Christopher menjalin hubungan bersama. Mereka menghabiskan waktu bersama dan bercakap dalam bahasa yang hanya mereka berdua yang tahu (kode). Perasaan kesendirian Alan menjadi terisi dengan perasaan penuh suka cita saat bersama Christopher. Kehidupan hubungan antar manusia dalam diri Alan hanya dipenuhi dengan Christopher. Saat dalam diri hanya ada gambaran seseorang, itu menjadi cinta. Alan merasa mencintai Christopher.

Kadang, saya merasa bahwa bisa jadi Alan salah mengartikan perasaan dirinya terhadap Christopher. Christopher adalah objek cinta kasih Alan pertama yang penuh di luar ibunya. Alan belum pernah terlihat berhubungan sosial dengan perempuan. Rasa kasih antar sahabat yang sangat dalam diterjemahkannya menjadi rasa cinta. Alan sendiri mengatakan bahwa sulit sekali baginya memahami pesan-pesan dalam bentuk kalimat yang diucapkan lawannya berkomunikasi. Pesan kata-kata saja dirasakan sulit oleh Alan, apalagi pesan berupa perasaan yang tidak berwujud nyata? Mungkin saja, Alan salah mendecripsi pesan perasaannya.

Anyway, Alan merasakan dirinya mencintai Christopher. Saat perasaan itu telah memuncak, Alan merasa sudah saatnya ia mengungkapkan perasaannya kepada Christopher, namun sayang yang ditunggu tidak muncul lagi setelah liburan musim panas.

Dan scene yang saya ceritakan di awal tulisan muncul. Dimulai dari pertanyaan Kepala sekolah tentang kedekatan Alan dengan Christopher. “Dia bukan teman dekat saya” kata Alan. Waktu itu sebenarnya tidak ada alasan Alan untuk menolak Christopher sebagai teman dekatnya, ia belum menerima kabar kematian Christopher, ia tidak diacam apapun oleh Kepala sekolahnya. Lalu mengapa Alan berbohong?

Menzies mengatakan bahwa Alan memiliki rahasia yang lebih dalam dariapada mata-mata terlihai sekalipun. “Kamu dipenuhi rahasia Alan” katanya. Itulah yang menjadikan Alan tidak jujur kepada Kepala sekolah saat ditanya tentang kedekatan hubungannya dengan Christopher. Alan merahasiakan hal tersebut, karena hanya ia dan Christopher yang tahu akan hubungan mereka. Bahkan mereka berkomunikasi secara rahasia.

Kondisi di mana seseorang menyimpan begitu banyak rahasia, bahkan untuk hal yang mungkin dipikirkan orang banyak tidak perlu disimpan, dalam pengalaman saya dibentuk dari kondisi jiwa yang merasa tidak aman terhadap lingkungan. Entah karena trauma, atau pengabaian di masa bayi, menjadikan seseorang menumbuhkan rasa tidak percaya yang mendasar terhadap lingkungan. Lingkungan sekitar dipandang jahat, dipandang tidak aman, dipandang tidak menyenangkan.

Entah bagaimana dengan masa kecil Alan, tetapi jelas digambarkan kekejaman yang dialami Alan yang dilakukan oleh teman-temannya. Kekejaman (baca: bully) yang terus menerus dialami oleh seorang remaja, bagaimanapun juga akan menimbulkan luka dalam jiwanya. Terlebih saat remaja ini tidak mampu melawan. Lama-kelamaan, remaja ini memunculkan perasaan bahwa lingkungan semuanya adalah berbahaya. Ini mungkin saja terjadi pada Alan.

Jauh sebelum penggambaran kekejaman teman-temannya, Alan digambarkan memisahkan kacang-kacangan berwarna hijau dan wortel yang berwarna oranye. Alan mengatakan bahwa keduanya, kacang dan wortel, HARUS dipisah karena warnanya yang berbeda. Saya sendiri, yang tidak begitu normal, menganggap hal ini adalah hal aneh. Saya merasa orang normal tidak akan melakukan itu. Ada sesuatu pada diri Alan yang memunculkan kebiasaan aneh tersebut.

Saya sendiri menerjemahkan itu adalah tanda bahwa sebelum alan dikejami oleh teman-temannya ia sendiri sudah mengalami rasa tidak aman yang mendasar terhadap lingkungan. Kekejaman teman-temannya hanya menambah besar rasa tidak aman tersebut. Alan menjadi mengembangkan benteng terhadap lingkungan. Tidak boleh unsur lingkungan masuk ke dalam bentengnya. Itulah yang memunculkan benteng informasi pada diri Alan. Pertukaran informasi dengan lingkungan memunculkan blend atau masuknya lingkungan dalam benteng Alan dan hal itu ia anggap akan membahayakannya. Alan merahasiakan dirinya dari lingkungan.

Saat menerima berita kematian Christopher, Alan mengatakan “Saya tidak dapat memahaminya”. Apa yang tidak dapat dipahami Alan? Kejadiannya, apa itu kematian? Takdirnya, mengapa Christopher harus mati di saat ia mencintainya? Apa maksud perkataan Kepala sekolah? Saya merasa pertanyaan-pertanyaan ini berkemelut di dalam diri Alan.

Yang paling utama dalam pemikiran saya, saat Alan mengatakan “Saya tidak dapat memahaminya” adalah seperti saat mesin mengucapkan itu. Artinya mesin itu tidak dapat memproses berita itu, berita itu tidak masuk ke dalam mesin, tidak menjadi bagian dari data dalam mesin. Begitu juga dengan Alan. Ia tidak memahami berita kematian Christopher, ia tidak dapat menerima berita kematian Christopher, ia menolak berita itu, berita itu tidak diprosesnya dan tidak akan menjadi bagian dari dirinya. Ia menganggap Christopher masih hidup.

Penolakan Alan terhadap berita itu tergambarkan dengan sangat apik dalam scene peemberitahuan berita kematian Christopher oleh Kepala sekolah. Alan tidak menangis walaupun tergambar di wajahnya kesedihan, kemarahan, ketidakmengertian yang dalam. Tetapi itu ditekannya dan ia menolak semua fakta yang menghubungkan perasaan dalam dirinya dengan Christopher, ia bukan teman, ia tidak bertukar pesan.

Semua informasi itu ditolak oleh Alan karena ia tu hanya akan menghasilkan rasa sakit yang saat itu ia rasa tidak dapat ditanggungnya. Ia menjadi sendiri lagi saat sebelumnya impiannya telah membuncah. Itu seperti kita diangkat ke langit melihat keindahan lalu dihempaskan ke tanah. Jika kita tidak bertahan, kita akan hancur. Dan bertahanlah yang dilakukan Alan, ia bertahan dengan menolak semua fakta yang menghubungnkannya dengan kasihnya akan Christopher. Jika ia tidak mengasihi Christopher tentu ia tidak terbang tinggi, dan jika Christopher tidak mati tentu ia tidak jatuh. Ia hanya berjalan di jalan biasa.

Walau rasa cinta yang berkait dengan ketidakterimaan akan kematian Christopher sudah dikubur dalam-dalam oleh Alan, tetapi tetap saja, itu ada dalam dirinya. Perasaan itu menjadi seperti hantu. Ia ada tetapi diabaikan oleh Alan dan tidak dilihatnya. Ia tidak melihat tetapi perasaan itu ada dalam dirinya, seperti hantu bukan? Alan dihantui oleh perasaan itu. Karena ia tidak melihat perasaan itu di dalam dirinya, hanya dihantui maka ia tidak sadar, banyak kehidupannya yang dipengaruhi perasaan itu.

Perasaan itu, cinta dan ketidakterimaan, sangat besar. Rasa cinta itulah yang memenuhi setiap relung hati Alan di masa remajanya. Rasa yang besar itu memunculkan kekuatan yang besar. Pengaruhnya terhadap kehidupan Alan besar walaupun tidak dilihat Alan. Ini yang disebut Freud kekuatan bahwa sadar yang mengendalikan manusia. Saya rasa, karena rasa cinta itu memenuhi relung hati Alan, maka arahan bawah sadar oleh rasa cinta itu meliputi segenap kehidupan Alan, termasuk passionnya untuk membangun sebuah mesin yang bisa meniru manusia.

Ini adalah manifestasi hasrat Alan untuk menghidupkan kembali Christopher yang bergabung dengan gairah Alan atas ilmu pengetahuan. Ini juga yang menjadi akar keyakinan Alan bahwa manusia dan mesin itu apa bedanya? Itu yang saya pikir. Imitation game bukanlah permainan untuk meniru enigma tetapi permainan Alan untuk membuat imitasi Chirstopher. Wallohu A’lam.

“Saya Tidak Dapat Memahaminya”

Catatan Ringkas Riwayat Sultan Suleyman I Han

Kontroversi kecil beredar di dunia maya tentang penayangan serial King Suleiman yang sekarang berubah judulnya menjadi Abad Kejayaan (Muhtesem Yuzyil). Kontroversi berkembang karena serial tersebut walaupun fiksi mengangkat latar kisah kehidupan Sultan Suleyman. Catatan tentang kontroversi ada di sini.

Sebenarnya tentang Suleyman ini telah saya tulis di sini sebagai bagian dari beberapa tulisan tentang sejarah Ottoman. Tetapi seperti saat saya menelurkan tulisan tentang Queen Seon Deok dan Yu Shin karena menggemari serialnya, maka saya kembali menulis riwayat Sultan Suleyman di tulisan ini. Saya bukan sejarahwan, maka anggap saja ini orang menceritakan pengetahuannya.

Ada yang mengeja namanya dengan “Soliman” atau “Suleyman” atau “Suleiman”. Dalam tulisan ini akan digunakan “Suleyman” karena saya suka tulisan itu. Silsilahnya adalah Suleyman bin Selim bin Beyazid bin Mehmed bin Murad bin Mehmed bin Bayazid bin Murad bin Orhan bin Osman. Ibunya adalah Ayse Hafsa, anak Khan Crimea. Sedangkan ayahnya adalah Yavuz Sultan Selim (Sultan Selim Yang Sangar atau Selim I) dari Daulah Utsmaniyah (Ottoman Empire). Dilahirkan di Trabzon saat ayahnya masih menjadi sehzade/pangeran dan diberi wewenang mengatur wilayah Manisa. Beliau kemudian diberi wewenang mengatur wilayah Manisa saat telah cukup usia oleh ayahnya yang telah menjadi Sultan.

Saat masih berada di Manisa, Suleyman mendapatkan anak dari Mahidevran yaitu Mustafa. Saya mengatakan mendapatkan anak karena suatu riwayat mengatakan bahwa tidak ada perempuan Sultan Suleyman yang dinikahi resmi kecuali Hurrem Sultan.

Pada 1502 Sultan Selim I wafat dan sadrazamnya (wazirnya) saat itu yaitu Piri Pasha mengirimkan surat kepada Suleyman untuk kembali ke Istanbul dan menerima penobatan sebagai Sultan. Pada masa itu, sistem pewarisan tahta di Ottoman Empire adalah para pangeran diberi wilayah kekuasaan dan saat sultan meninggal maka mereka segera berangkat ke Istanbul. Di waktu-waktu ini sering terjadi intrik dan perpecahan, bahkan bisa terjadi perang antar pangeran. Pangeran yang terlihai dan terkuatlah yang menjadi sultan.

Suleyman memiliki seorang teman bernama Ibrahim, biasa dipanggil Pargali Ibrahim (Ibrahim The Frankish). Kenapa The Frankish? Ibrahim sebenarnya adalah budak yang diambil dari keluarga Kristen Eropa, agaknya Balkan. Saat itu di dunia Islam, umat Kristen Eropa sering dipanggil kaum Frank, warizan dari zaman Perang Salib II. Ibrahim kemudian menjadi muslim dan mengabdi kepada Suleyman. Ibrahim menjadi pelayan pribadi Suleyman dan menjadi teman dekatnya hingga Suleyman menjadi pangeran lalu menjadi sultan.

Saat menjadi sultan, Suleyman pindah ke Istana Topkapi. Ia memboyong juga Mahidevran, Mustafa, dan Ibrahim budaknya. Ibrahim mulai dimasukkan Suleyman dalam urusan pemerintahan. Saat itu, Suleyman dikenal sebagai Padishah I Suleyman Han, demikian oranag-orang Turki biasa menyebut sultan-sultan Ottoman Empire, yaitu Padishah Bla bla bla (Nama) Han. Ada juga yang menulis beliau sebagai Sultan Suleyman Han.

Di istana, Suleyman jatuh cinta kepada seorang budak perempuan yang kemudian menjadi isteri kesayangan Suleyman, Hurrem Sultan. Nama dan asal Hurrem masih diperdebatkan, ada yang mengatakan nama aslinya Alexandra, ada pula yang mengatakan Roxelana. Ada yang mengatakan Hurrem berasal dari Rohatyn, kalau tidak salah sekarang masuk menjadi wilayah Hungaria (di sana ada patungnya🙂 ).Hurrem diculik dari ayahnya oleh orang-orang Tartar lalu dijual sebagai budak dan akhirnya sampai ke Istana Topkapi sebagai perempuan/budak Sultan.

Sebagai Sultan, Suleyman mulai melakukan peperangan dengan negara tetangga. Suleyman mengarahkan pedangnya ke Pulau Rhodes. Ini untuk menguasai perdagangan laut tengah/Mediterania dan mengentaskan ancaman Kesatria Rhodes (ordo kesatria Katolik Seperti Knight of Templar) yang memegang pewaris (pretender of throne) Ottoman yang saya lupa namanya. Rhodes ditaklukkan setelah melalui pengepungan yang panjang dengan korban yang banyak karena bentengnya sangat kokoh.

Suleyman juga mengarahkan pedangnya ke Hungaria dan akhirnya menguasai penuh Kerajaan Hungaria setelah mengalahkan Raja Louis II Dari Hungaria di Pertempuran Mohács. Suleyman dikenal di barat sebagai The Magnificent (dalam bahasa Turki: Muhtesem atau Muhtesem Sultan). Disebut demikian karena dalam penilaian sejarahwan barat, Suleyman adalah Sultan Terbesar Ottoman Empire. Ia adalah sultan yang berkuasa penuh/absolute dengan masa berkuasa yang terlama di antara semua Sultan Ottoman. Wilayah kekuasaannya meliputi Afrika Barat, Timur Tengah, Anatolia, Balkan, dan Hungaria. Walaupun demikian, saya tidak sepakat, saya lebih sepakat Selim I, ayah Suleymanlah yang merupakan Sultan terhebat.

Pemerintahan di masa Suleyman dapat berjalan secara teratur dan administrasi tertib. Keteraturan ini terjadi karena Suleyman melakukan kodifikasi hukum (Qanun) yang berlaku di Ottoman sehingga beliau dikenal sebagai Qanuni Sultan Suleyman (Suleyman Sang Sultan Pembuat Qanun). Tidak hanya keteraturan dan keluasan wilayah di darat. Suleyman menguasai kota-kota besar berikut jalur dagang dari Kairo, Baghdad, Basra, Damaskus, Bursa, Istanbul, dll. Beliau juga menguasai perekonomian dengan menguasai jalur dagang di Laut Tengah Mediterania dan Laut Hitam. Kekuasaan di laut ini tidak bisa menjadi kuat jika tidak didukung dengan angkatan laut yang kuat. Panglima Laut Suleyman yang paling terkenal adalah Hayrettin Barbarossa lalu Hizir Reis.

Saat itu, Ottoman memiliki pangkalan laut selain di daerah dekat Istanbul juga di Kairo untuk mengontrol Laut Tengah. Di Yaman terdapat juga pangkalan laut dengan kapal-kapal yang telah mencapai tanah India bahkan telah mencapai Aceh. Sultan Aceh pernah berkirim surat di akhir masa hidup Suleyman dan baru terbalas oleh sultan kemudian, Selim II. Kekuatan Ottoman di masa Suleyman ini terlihat dari surat permohonan tolong ibunda Francis I dari Perancis. Perancis juga merasa perlu berkoalisi dengan Ottoman.

Kebesaran Suleyman karena ia ditopang oleh Ibrahim yang memiliki kemampuan yang baik. Dengan berbagai intrik politik, Ibrahim berhasil menduduki kursi Sadrazam (Perdana Menteri) Ottoman. Ibrahim menduduki posisi tersebut dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Suleyman kehilangan kepercayaan terhadap Ibrahim. Suleyman yang saat itu telah mengeluarkan fatwa bahwa dirinya tidak akan membunuh Ibrahim menarik fatwa tersebut atas persetujuan Syaikhul Islam Ottoman, Ebu Suud. Setelah pencabutan fatwa, Ibrahim diundang Suleyman makan malam dan esoknya ia ditemukan tak bernyawa. Tidak adanya orang yang dihukum dan peristiwa yang terjadi setelah pencabutan fatwa membuat orang menuding Suleymanlah yang memerintahkan pembunuhan terhadap Ibrahim. Peristiwa pembunuhan Ibrahim digambarkan secara apik di serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan).

Rumah Ibrahim yang sangat mewah yang dulu sering dikunjungi Sultan Suleyman dan Sultan sering melihat pawai dari rumah tersebut bersama Ibrahim kemudian disita. Turbesi/kuburan Pargali Ibrahim juga tidak mewah. Semua itu semakin memperkuat teori bahwa Suleymanlah yang memerintahkan pembunuhan Ibrahim. Setelah Ibrahim meninggal, Suleyman menjadi kehilangan kepercayaan terhadap orang yang terlihat dari seringnya ia mengganti Perdana Menteri. Suleyman juga menjadi menyesal di kemudian hari yang terlihat dari puisi-puisinya.

Intermezzo. Suleyman memang dikenal sebagai penyair dengan nama pena Muhibbi. Dari puisinya dapat diketahui kecintaannya terhadap Hurrem. Pusi Suleyman banyak bertebaran di Serial Abad Kejayaan. Rumor yang beredar, Suleyman membunuh Ibrahim karena termakan hasutan Hurrem. Hurrem memerlukan kekuatan untuk menyokong anak laki-lakinya naik ke tahta. Bersama Suleyman, Hurrem memiliki 4 anak laki-laki yang bertahan hidup, yaitu Mehmed, Selim, Beyazid, dan Cihangir. Namun semua anaknya kalah kemampuan dari kakak mereka, Mustafa anak Mahidevran.

Intrik istana menjadikan keluarga Suleyman salin berperang secara politik. Ibrahim dikatakan lebih mendukung Mustafa sehingga Hurrem kemudian menyingkirkannya dengan tangan Suleyman. Rumor ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Ibrahim digantikan Rustem Pasha suami Mihrimah putri Hurrem. Mustafa, anak lelaki tertua Suleyman yang bertahan yang juga merupakan calon sultan masa datang terbaik, kemudian juga meninggal dibunuh. Penggambaran pembunuhan Mustafa disajikan secara apik di Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) session 3. Saya sampai merinding dibuatnya.

Mustafa saat itu diminta menemui Suleyman di tendanya, saat itu Suleyman sedang memimpin pasukan. Saat keluar dari tenda, Mustafa sudah berupa jenazah. Cerita yang diterima umum, Suleymanlah yang memerintahkan pembunuhan Mustafa karena termakan fitnah bahwa Mustafa akan memberontak. Suleyman berada di balik tabir di dalam tendanya saat Mustafa dibunuh di dalam tenda yang sama. Hurrem dan menantunya menjadi tersangka atas pencitraan fitnah atas Mustafa.

Kematian Mustafa membawa duka yang mendalam bagi Mahidevran. Dikisahkan Mahidevran tidak beranjak dari makam Mustafa hingga wafatnya. Hurrem memang akhirnya menguasai penuh istana, tetapi bukan berarti hidupnya lepas dari kepedihan. Dari semua anak lelakinya yang bertahan hidup selepas Mustafa wafat, seorang anaknya yaitu Cihangir segera mati karena sangat sedih dengan wafatnya Mustafa. Sementara dua yang lain yang tersisa yaitu Beyezid dan Selim akhirnya saling bertempur dan akhirnya Selim yang menang menjadi Sultan. Itu berkat bantuan Mihrimah.

Terlihat keluarga Suleyman cukup kacau tetapi bukan berarti sangat hancur. Selim II meneruskan perbuatan ayahnya dengan tetap menggaji Mahidevran dengan uang yang sangat cukup. Biasanya para perempuan Sultan terdahulu akan meninggalkan istana dan tidak diurus lagi. Hubungan Cihangir anak Hurrem akrab dengan Mustafa anak Mahidevran. Memanglah, tahta berat untuk diduduki. Selain beban rakyat, juga beban perasaan. Kalau tidak salah, Suleyman wafat saat sedang memimpin pasukan dalam perang melawan Austria dalam Pertempuran Sigetzvar. Wafatnya Suleyman dirahasiakan dari pasukan hingga.

Wafatnya Suleyman digambarkan secara apik dalam serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) di episode akhir. Di episode itu digambarkan saat sakaratul maut, dibacakan surah Yasin atas Suleyman, seperti di Indonesia yah? Bisa lihat di sini.

Catatan Ringkas Riwayat Sultan Suleyman I Han

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) III

Citra dan akurasi adalah alasan yang dikemukakan dalam menuntut penghentian penayangan serial Abad Kejayaan di ANTV. Di sini dijelaskan secara singkat mengapa dua alasan tersebut tidak adekuat untuk menuntut penghentian penayangan Abad Kejayaan di ANTV. Tapi, jika kita bersu’udzon, ada maksud-maksud terselubung di balik permintaan penghentian penayangan serial Abad Kejayaan. Dua yang dapat dikhayalkan dari alasan terselubung itu.

Pertama, ketakutan akan menguatnya posisi kelompok tradisionalis dalam masyarakat Muslim Indonesia. Dalam serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan), terdapat banyak praktek-praktek keagamaan yang sewarna dengan kelompok tradisionalis Islam Indonesia yang dipratekkan dalam lingkungan Istanbul saat itu bahkan Istana Topkapi. Jika praktek ini terpapar pada masyarakat, sekelompok muslim takut, pemahaman mereka akan Islam akan tergerus dan masyarakat akan menganggap praktek keagamaan kelompok tradisionalis lebih sesuai dengan cara Ottoman. Setidaknya, masyarakat akan tahu bahwa praktek keagamaan tradisionalis Islam Indonesia itu tidak hanya di wilayah Indonesia, bahkan sampai ke Turki.

Ini akan menggoyahkan citra bahwa praktek keagamaan tradisionalis itu terbatas di Indonesia. Muncul kesan praktek yang cukup mendunia dalam dunia Islam itu tentunya merupakan jalan yang lebih pas dalam menjalankan ritual keagamaan Islam. Contoh adegan berdzikir berjama’ah, berdzikir dengan senandung, Sultan dan seluruh muslimin dalam serial tersebut mengusapkan tangan ke muka saat berdoa, do’a berjama’ah dengan ucapan amin yang kencang dipraktekkan keluarga Sultan, sungkeman keluarga Sultan di hari Idul Fitri, saat sakaratul maut Sultan dibacakan Yasin, dll. Sekelompok muslim tidak suka jika praktek ini terpapar ke masyarakat. Mereka menggunakan alasan yang tidak adekuat dan menuntut penghentian siaran Abad Kejayaan. Kenapa tidak adekuat? Di sini. Mau lihat Sultan Suleyman diyasinkan saat menjelang ajal? Di sini.

Kedua, ketakutan akan terpaparnya masyarakat dengan fakta ajaib bahwa Khilafah Utsmaniyah atau Ottoman Empire yang mengaku sebagai Khilafah Sunni disokong oleh Yeniceri atau Jenissary yang Avlevi. Jenissary menganut Avlevi sudah dikenal di masyarakat Turki. Para ahli berbeda pendapat, apakah sejak awal sudah Avlevi atau baru beberapa puluh tahun setelah dibentuk awal mereka mulai identik dengan Avlevi. Jenissary yang Avlevi ini sangat terlihat di Muhtesem Yuzyil. Maka kelompok yang takut dengan munculnya fakta ini ke permukaan mengemukakan berbagai alasan untuk membuat muslim yang tidak tahu akan hal ini tidak bisa menonton serial Abad Kejayaan. Dengan tidak menonton mereka tidak akan punya bayangan bagaimana Khilafah Sunni ditopang oleh Avlevis.

Tapi yah, dua alasan konspiratif di balik desakan penghentian penayangan serial Abad Kejayaan tersebut di atas hanya rekaan dan fiksi. Dilakukan karena merasa kesal, orang melarang fiksi dengan alasan yang fiktif dan merasa paling factual🙂 MLZBGTZ.

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) III

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) II

Berbagai alasan dikemukakan oleh berbagai orang untuk meminta serial Abad Kejayaan dihentikan penayangannya. Saya merasa kesal karena selain saya menggemari serial ini juga alasan penuntutan penghentian penayangannya tidak adekuat. Tidak adekuatnya alasan bisa dilihat di sini.

Ada beberapa alasan saya menggemari serial Abad kejayaan ini, yaitu karena serial tersebut menampilkan visualisasi masa khilafah, unsur informasi sejarahnya, dan artistiknya. Dua hal pertama harus dilihat dari pandangan bahwa serial tersebut bukan merupkan serial documenter. Ketiga hal tersebut dilihat dari pandangan bahwa serial tersebut, sebagaimana tayangan televisi pada umumnya dimaksudkan untuk mencari untung dari produsernya. Setahu saya, produsernya, Taylan bersaudara, tidak pernah menyatakan memaksudkan serial Muhtsem Yuzyil (Abad Kejayaan) sebagai serial dakwah.

Intermezzo sedikit. Dalam buku seorang perempuan keturunan Tionghoa tentang Tionghoa keturunan di Nusantara dan Indocina adalah adanya suatu dunia hilang yang dirindukan. Dunia hilang ini adalah gambaran kehidupan tradisional tionghoa di tanah leluhur yang hanya mereka dengar dari cerita orang tua. Mereka ingin melihat dunia tersebut karena mereka tidak menemukan atau tidak merasakan di kampung yang mereka tinggali sekarang. Orang-orang keturunan Tionghoa tersebut memenuhi gambaran dunia yang hilang tersebut dengan menonton film-film laga mandarin.

Demikian juga dengan saya. Saya mendengar tentang kisah kebesaran sultan-sultan dan khalifah-khalifah Islam. Masa lalu yang tidak bisa kembali tersebut hanya saya tangkap dari kisah-kisah romantik di buku Sejarah Islam. Saya mengalami adanya rasa kebutuhan akan suatu dunia yang hilang, yaitu alam dunia khilafah tersebut. Sayangnya entah kenapa di seni pertunjukan di Indonesia, sangat jarang sekali ditampilkan tentang romantisme zaman sultan-sultan Islam. Yang banyak bertebaran adalah gambaran raja-raja Majapahit, Sriwijaya, atau India, atau Tiongkok, atau Eropa. Kondisi ini menimbulkan kerinduan tersendiri untuk akan visualisasi romantisme sejarah Sultan-Sultan Islam. Perhatikan, romantisme sejarah, bukan aktualisasi konsep ya🙂 . Abad Kejayaan menjadi sedikit pertunjukan yang menyediakan visualisasi romantisme khilafah yang dapat mengobati kerinduan saya tersebut.

Saya pikir, visualisasi kondisi khilafah ini perlu juga bagi orang-orang yang mengelu-elukan khilafah. Visualisasi dapat memperkokoh pemahaman saya tentang khilafah. Selama ini saya hanya mendapat cerita khilafah dan membayangkan kondisinya. Bayangan semata bisa melepaskan gambaran dari realita atau bisa menghilangkan gairah atas tema karena tidak merasakan kehadirannya. Dengan adanya visualisasi kita bisa menyambungkan dunia dalam bayangan kita dengan dunia nyata. Selain itu, gairah dengan tema yang dibayangkan akan semakin kuat karena seeing is believing.

Muhtesem Yuzyil atau Abad Kejayaan menyediakan gambaran atau visualisasi khayalan romantisme sejarah saya tentang sultan atau khalifah. Gambaran tersebut terpampang di hadapan saya sehingga saya semakin percaya tentang eksistensinya. Bayangan saya mewujud ke dunia nyata. Bayangan saya terhubung dengan dunia nyata, menghapuskan jarak antara saya dengan bayangan tersebut sehingga saya dapat lebih menikmati lagi tema yang disajikan. Saya lebih merasakan kenyataannya. Ditambah lagi pemanusiaan gambaran tokoh-tokoh dalam Abad Kejayaan menjadikan gambaran tentang khilafah tidak mengawang-awang lagi dan menjadi membumi.
Kondisi membuminya gambaran khilafah atau sultan Islam menjadikan beberapa orang menjadi tidak senang karena merasa penggambaran yang membumi tersebut tidak sesuai angan-angan mereka yang tinggi tentang khalifah. Muncul gugatan akan akurasi sejarah dalam Abad Kejayaan.

Mengenai informasi sejarah dalam Abad Kejayaan, sebagai penggemar sejarah khususnya Abad Pertengahan dan Sejarah Islam saya merasa informasi sejarah yang disajikan Abad Kejayaan cukup menambah pengetahuan saya tentang sejarah Ottoman di masa Sultan Suleyman Han. Contoh kecil adalah bahwa Valide Sultan atau ibu Sultan Suleyman bernama Ayse Hafsa dan dia berasal dari Crimean Khanate. Itu sesuai sejarah, maka saya bingung kenapa Abad Kejayaan dikatakan mempromosikan distorsi sejarah😦

Selain menambah informasi, penggambaran yang dihadirkan juga menambah penghayatan akan informasi yang diterima dan memberikan gairah untuk lebih mengetahui sejarah Ottoman di masa Sultan Suleyman, termasuk riwayat tokoh-tokohnya. Setelah menonton serial Abad Kejayaan, saya justru terangsang untuk lebih mencari tahu lagi tentang sejarah Ottoman, khususnya di masa Sultan Suleyman. Jadi, saya merasa aneh dengan anggapan bahwa serial Abad Kejayaan ini malah akan membuat orang takut pada Daulah Islam. Pikiran tersebut agak merendahkan kualitas pengambilan keputusan manusia.

Penggambaran yang memuaskan kebutuhan imajenasi, menguatkan pengetahuan, dan merangsang keingintahuan tentulah penggambaran yang bagus dan menarik. Penggambaran dalam Abad Kejayaan memenuhi itu, menarik dan enak dilihat. Kita berterimakasih kepada kreator artistiknya yang telah memberikan tampilan Ottoman masa lalu secara apik dan elegan. Baju dan dandannya elegan, tidak norak. Para penghuni istana terlihat anggun, perhiasannya indah dan mewah. Bangunannya terlihat nyata, bukan stereoform atau kayu yang dicat asal-asalan. Melihat bangunan pernak-perniknya kita cukup yakin bahwa itu adalah Ottoman masa lampau.

Keunggulan artistik Muhtesem Yuzyil tidak hanya pada pada pernak-pernik kehidupannya tetapi juga penggambaran Sultan itu sendiri yang merupakan pencinta seni. Diperlihatkan kemampuanya Sultan untuk merangkai perhiasan indah dan juga kemampuannya berpuisi. Beberapa puisi Sultan Suleyman dengan nama pena Muhibbi. Beberapa puisi Suleyman juga dibaca oleh pemeran Sultan Suleyman dengan penghayatan yang baik.

Musik latar tiap adegan juga indah dan berkualitas. Beberapa di antaranya selalu enak didengar, beberapa di antaranya menusuk di perasaan, beberapa di antaranya membangkitkan perasaan intrik. Tema-tema adegan disajikan secara apik oleh music latarnya.
Seni tampilan adegan dalam Muhtesem Yuzyil juga sangat baik. Kreator seni dapat mengkombinasikan semua unsur dalam serial ini sehingga adegan yang ditampilkan menjadi sangat berkesan. Saya tidak bosan menonton beberapa potongan adegan dari Muhtesem Yuzyil. Yaitu penobatan Suleyman sebagai Sultan, serangan ke Rhodes dan Hungaria/Bodin, pembagian gaji Jenissary, pidato pemberontakan Jenissari, penobatan Mustafa sebagai pangeran, Hayreddin Barbarossa pertama tampil, Hayreddin menghadap Sultan, kematian Ibrahim, pembunuhan Mustafa, Jenissari menandu jenazah Mustafa, kewafatan Sultan, dll (cari di Youtube). Saya harap, serial-serial produksi anak bangsa dapat menampilkan scene-scene yang juga dapat menimbulkan kesan mendalam, tidak melulu close up dan melongo lama-lama.

Semua faktor-faktor tersebut di atas, menjadikan saya berharap sejak mulai mengetahui serial ini beberapa tahun lalu agar serial ini dapat ditonton di Indonesia. Saya sudah bosan dengan sinteron kejar tayang juga acara haha-hihi yang penggarapannya tidak maksimal. Semoga ke depan serial-serial produksi anak negeri dapat menjadi lebih baik, tidak hanya menjadi sekedar tontonan tetapi juga menjadi karya seni yang berkesan. Semoga.

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan) II

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan)

Serial Abad Kejayaan yang dahulu judulnya adalah King Suleiman ditentang oleh sebagian orang. Hingga tulisan ini mulai dibuat (28/12/2014) serial tersebut masih di tayangkan di ANTV setiap hari Senin-Jum’at jam 22.00 WIB. Entah kontroversinya masih berlanjut hingga sekarang atau tidak, saya tidak online selama beberapa hari ini. Terakhir online, terdapat dua tulisan yang saya temukan yang menghujat serial Abad Kejayaan. Dua tulisan tersebut dari laman Bersama Dakwah.

Tulisan pertama inti poinnya adalah serial Abad Kejayaan merusak citra daulah Islam: Sultan Suleyman adalah orang soleh (suci?) sementara di serial Sultan Suleyman digambarkan tidak bermoral. Penulis menyimpulkan pembuat serial ada intensi, karena bahasa yang digunakan adalah “propaganda”, untuk merusak citra Islam. Tulisan kedua tentang 10 dosa serial Abad Kejayaan. Untuk tulisan kedua tersebut saya tidak begitu menangkap karena saya sudah emosi memandang judul penghakiman yang dipasang penulisnya. Seolah dia Alloh yang bisa menentukan dosa pahala seseorang. Yang saya tangkap dari bacaan sekilas saya atas tulisan tersebut, hampir sama dengan tulisan pertama. Bahwa dalam Istana Topkapi itu syariah Islam dijalankan secara sempurna sehingga Sultan tidak tidur dengan selain isterinya. Semua perempuan di istana mengenakan hijab.

Terus terang saya adalah orang yang senang menonton serial Abad Kejayaan yang aslinya bernama Muhtesem Yuzyil. Kenapa? Karena ini. Saya juga menyerukan kepada orang-orang yang senang nonton karya pertunjukan peran untuk menontontnya. Maka saya jadi emosional saat ada orang yang menggiatkan pelarangan pemutaran serial tersebut. Saya emosi selain karena penolakannya juga karena alasan penolakannya.

Sulit mendiskusikan penolakan tersebut karena standar yang digunakan tidak jelas. Misal, soal alasan bahwa serial Abad Kejayaan telah merusak citra Daulah Islam. Kita perlu mempertanyakan citra baik itu atas standar apa? Kebiasaan manusia, syariat Islam, atau humanisme, atau budaya Turki, atau yang lain? Memilih standar yang berbeda akan menghasilkan penilaian yang berbeda atas suatu tampilan. Dandanan perempuan Istana Topkapi bisa jadi mendapat citra positif dalam pandangan budaya Turki, atau humanism, tetapi bisa juga mendapat pandangan negatif dari sisi syariat Islam.

Menggunakan standar syariat Islam untuk menilai tampilan citra akan memunculkan berbagai tema diskusi lain. Dandanan dan sikap yang tidak sesuai syariat (yang dikatakan dimaksudkan untuk merusak citra daulah Islam dalam serial Abad Kejayaan) sering juga terlihat di acara televisi lainnya yang katanya Islami. Menjadi pertanyaan, kenapa muncul orang-orang yang atas nama Islam menentang habis-habisan serial Abad Kejayaan yang tidak pernah menyematkan label Islami pada dirinya dan membiarkan pertunjukan yang katanya Islami menampilkan perilaku dan hal-hal yang tidak sesuai syariat? Ini menurut saya sama saja dengan memaksa seorang non-muslim untuk shalat sementara seorang da’I yang tidak shalat dibiarkan.

Jika menggunakan standar barat, justru serial Abad Kejayaan ini cukup member kesan positif terhadap daulah Islam. Perempuan Sultan yang digambarkan cantik dan terawat, diajarkan tata krama istana, dan diperlakukan dengan baik oleh Sultan. Demikian juga jika standar yang digunakan adalah humanism. Bahkan dalam dua standar tersebut, termasuk standar syariat Islam, ISIS dan Taliban Pakistan justru lebih merusak citra Islam. Membunuh orang tak bersenjata, bahkan muslim dan anak-anak. Tetapi mengapa tidak terlihat halauan terhadap orang-orang itu?😦

Setelah memilih standar citra, muncul tema lain yaitu akurasi sejarah. Ada tulisan sedikit tentang sejarah Sultan Suleyman di sini. Sangat mungkin versi sejarah di link tersebut sangat berbeda dengan tulisan lain tentang Sultan Suleyman karena memang sejarah selalu banyak versi. Mustahil bagi suatu film documenter sekalipun untuk menyajikan fakta akurat tentang suatu peristiwa sejarah. Apalagi bagi serial Abad Kejayaan yang tidak bermaksud menjadi serial documenter. Sejak awal, telah dituliskan bahwa serial ini ingin menceritakan fiksi tentang kehidupan Istana Topkapi di masa Sultan Suleyman I Han dari Dinasti Ottoman. Jadi, jangan harap mendapatkan gambaran nyata. Walaupun tidak bermaksud menjadi serial documenter tetapi Taylan bersaudara telah menyewa ahli seorang Doktor untuk menjadi penasehat bidang sejarah dalam serial ini. Artinya, bisa dilihat ada itikad baik untuk menghindari distorsi sejarah yang keterlaluan.

Menjadi keprihatinan saat ada yang mengatakan bahwa “serial Abad Kejayaan ini penuh dengan distorsi sejarah karena perilaku yang tidak sesuai syariat yang ditunjukkan oleh Sultan dan para penghuni Istana Topkapi”. Bagi yang mengatakan demikian saya ingin menasehati agar membaca ulang sejarah (kalau malas search di Wikipedia) tentang Sultan Suleyman apakah beliau selalu bertindak-tanduk sesuai syariat Islam. Jangan sampai kita menuduh orang mendistorsi sejarah hanya karena ilusi kita tentang sosok khalifah dan rumahnya. FYI: Saya pernah membaca di terjemahan Tarikhul Khulafa’, seorang khalifah Bani Abbasiyah pernah lebih asyik dengan budak laki-lakinya daripada mengurus kegentingan situasi akibat serangan Bangsa Mongol. Jadi seorang khalifah belum tentu khalifah rasyid (selalu mendapat petunjuk).

Saya rasa, jabaran di atas sangat cukup untuk membantah alasan permintaan penghentian penayanganan Abad Kejayaan di ANTV. Citra dan akurasi, alasan yang dikemukakan telah terjawab. Kesimpulannya tidak ada alasan kuat untuk menghentikan penayangan serial Abad Kejayaan di ANTV. Mungkin saja ada alasan terselubung di balik permintaan penghentian penyanganan Abad Kejayaan. Alasan rahasia itu mungkin seperti di sini.

Catatan Kontroversi Serial Muhtesem Yuzyil (Abad Kejayaan)