Ahmed Bukhatir

Standar

Pikiran butek di hari Selasa, 20 April 2010. Setelah karokean (bernyanyi-nyanyi tidak jelas) lagu-lagu dari Ahmed Bukhatir, saya pikir tidak ada salahnya saya menulis tentang penyanyi yang satu ini. Biasanya penyanyi selalu diiringi alat musik, hanya mungkin penyanyi acapella dan beberapa jenis nyanyian tradisional (misal macapatan) yang tidak diiringi musik. Tetapi terkadang acapellapun menggunakan suara manusia untuk menirukan suara alat musiknya.
Ahmed Bukhatir berbeda dari penyanyi lainnya, karena memang latar belakangnya adalah penyanyi lagu-lagu bernafaskan Islam, atau sering disebut nasyid. Sebagian ummat Islam, pendapat mayoritas di negara asal Bukhatir, UEA, menghukumi musik-musik dengan haram (dengan beberapa perbedaan pada hukum detailnya), maka Bukhatir dalam melantunkan lagu-lagunya tidak diiringi dengan musik. Dalam melantunkan lagu-lagunya Bukhatir hanya diiringi suara manusia yang menurut saya tidak menirukan alat musik, hanya mengiringi dengan bersenandung.
Walaupun tidak diiringi alat musik, ternyata lagu-lagunya tetap bagus dan bahkan lebih menyentuh perasaan daripada lagu-lagu yang diiringi musik. Dulu, saya kira suatu lagu bisa bagus karena musiknya yang bagus, tetapi ternyata tanpa musikpun lagu-lagu Ahmed Bukhatir bisa bagus, menurut saya. Dan , seperti yang telah saya sebutkan, bisa menyentuh perasaan. Mungkin karena suara Ahmed Bukhatir yang seperti suara yang murni. Dan agaknya suara itu suara aseli tidak dirancang-rancang di studio seperti beberapa penyanyi lain. Saya pernah melihat video konser Ahmed Bukhatir, suaranya sama beningnya dengan suara di rekaman-rekamannya yang saya dengar dari file elektronik padahal bukan lipsinc, subhanalloh.
Walaupun menyanyikan banyak lagu-lagu bernafaskan Islam (nasyid), tetapi banyak juga lagu-lagunya yang bernafaskan kebaikan secara labih umum. Misal Ya Bunayya, tentang kasih seorang Ayah/Ibu kepada anaknya. Atau Zawjati, tentang kasih seorang suami kepada isterinya. Bahkan tentang Thalasemia (Lagu Thalaseemia – unduh). Tema-tema demikian menjadikan ketertarikan tersendiri dalam dari saya kepada lagu-lagu Ahmed Bukhatir ini. Karena lagu-lagu keislaman yang sering saya dengan jika tidak Salawat, Pujian kepada Alloh, juga ajaran-ajaran. Terlebih lagu-lagu dari timur tengah. Maka tema-tema Ahmed Bukhatir yang lebih umum
Beberapa lagu Ahmed Bukhatir yang paling suka, berserta link untuk mengunduhnya, adalah…
Zawjati (unduh)
Awal saya tertarik kepada lagu-lagu Ahmed Bukhatir adalah saya mendapati video lagu ini di Youtube saat saya mencari video Forgive Me dari Bukhatir juga. Saya tertarik awalnya karena ini lagu keislaman dari timur tengah pertama yang saya tahu membawa tema kasih sayang suami kepada isteri. Biasanya lagu-lagu keislaman timur tengah yang saya dengar adalah tentang salawat kepada Nabi, tentang taubat, tentang ajaran-ajaran, tentang jihad, dan Palestina. Tetapi yang dibawakan Bukhatir adalah tema yang berbeda.
Lagu ini, seperti yang saya sebutkan, bercerita tentang kasih suami kepada isterinya. Sedikit-sedikit saya coba pahami liriknya. Kalau tidak salah satu bagian lirik menceritakan bahwa siang sang suami menjadi sepi saat berpisah dari sang isteri saat ia bekerja. Dan ia menjadi gembira lagi saat pulang ke rumah menemui senyum sang isteri. Satu bagian lirik yang saya sukai dari lagu “fa ruhana qadi’talafa mitslilardhi wannabti”, ruh kita telah dijodohkan seperti tanah dan tumbuhan…
Ya Bonayya (unduh)
Seperti judulnya, Wahai Anakku, lagu ini menceritakan kasih sayang seorang orang tua, kalau dalam videoklipnya adalah ayah, kepada anaknya. Misal lirknya bercerrita bahwa sang ayah sangat menyangi anaknya yang menjadi pembahagia hatinya. Sang ayah berikrar menjaga anak tersebut dengan ruhnya, artinya dengan sepenuh hati.
Saya tidak begitu paham banyak liriknya. Tetapi satu bagian lirik yang membuat terharu adalah “Asrullayla unadi, Ya Bunayya yurja ilayya. Falta’ud liya Habibi mitsla ma kunTa naqiyya. Allani alqaKa yawman qabla an alqa Maniyya”, Sepanjang malam ayah memanggil, wahai anakku kembalilah kepadaku. Kembalilah wahai orang yang ku kasihi. Ayah berharap dapat bertemu denganmu sebelum Ayah bertemu ajal…” Melihat dari lirik terebut agaknya kisah ini mengenai kisah sedih seorang ayah mengenai anaknya.
Kisah sedih tersebut terlihat dengan baik dalam video klip dari lagu ini yang bisa dilihat di Youtube. Videoklip lagu ini, Zawjati, Forgive Me, dan Madinati Sarjah digarap dengan sangat bagus menurut saya. Ini juga yang menjadikan saya senang dengan Bukhatir. Dalam video lagu ini diceritkan bahwa seorang anak menjadi sarjana lalu berniat kerja di tempat yang lebih berpeluang dan ia meniggalkan ayahya sendiri. Kemudian terjadi pertengkaran antara ayah dan anak karena ayahnya tidak setuju. Tapi sang anak memutuskan pergi juga. Sang ayah kemudian menjadi sangat kesepian. Namun Alhamdulillah akhirnya sang anak pulang juga.
Forgive Me (unduh)
Sebelum saya menyukai lagu Zawjati. Awal pertama sekali saya menyadari bahwa lagu-lagu Bukhatir sungguh bagus adalah lagu Forgive Me. Saya sangat suka videonya. Bukhatir berkeliling kota, bertemu dengan seorang gadis lumpuh yang tetap ceria. Kemudian ia bertemu dengan orang buta yang juga masih bersyukur dan menikmati hidup. Saat tiba waktu sholat, Bukhatirpun langsung sholat. Ini yang saya suka, mengingatkan untuk tetap menjaga ibadah walau sedang asyik tamasaya. Kemudian Bukhatir bertemu dengan seorang anak yang tuli dan bisu. Semua ini menjadikan Bukhatir kemudian lebih bersyukur.
Saya mendapati video lagu ini dari Youtube. Dan yang membuat saya suka adalah penggarapan videoklipnya yang bagus dan tidak asal-asalan.
Ummi (Unduh).
“La sawfa a’uddu ya Ummi, uqabbilu ra’sakizzaki” Aku akan pulang ibu, mencium keningmu yang suci…, subhanalloh. Lagu ini sungguh membuat saya malu dan menangis karena banyak tersindi…. Teman saya pernah bercerita bahwa seorang ustadz juga pernah menangis mendengar lagu ini. Liriknya begitu sendu… Seperti “Aku akan pulang ibu, untuk mencium keningmu yang suci…”, atau “Aku tidak lupa saat aku sakit air matamu mengalir bagai hujan…”, atau “Tuhan semesta alam telah mewasiat kepadaku, ridhamu adalah taufiq yang tersirat bagiku, cintamu akan memenuhi imanku…”. Memang mungkin jika dibaca datar-datar saja ya biasa (kan bukan al-Quran). Tetapi jika dibawakan Bukhatir, subhanalloh.
Menonton videonya di youtube juga menjadikan terharu, sayangnya saya belum menemukan videonya yang berkualitas baik.
Madinati Sarjah (unduh)
Lagu ini agaknya single terbaru dari Bukhatir yang bercerita tentang kotanya Sarqah/Sarjah, yaitu salah satu emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab. Lagu mengisahkan kegembiraan warga Sarjah karena emirat yang dulunya tidak ada apa-apanya, sekarang seperti emirat-emirat di UEA lainnya telah menjelma menjadi negeri dengan cahaya-cahaya lampu yang indah (musrikatun bidh-dhiya’). Menjadi negeri yang makmur dan rakyatnya menikmati nikmat Alloh.
Bagian lirik yang saya suka adalah “Sultanun ya Fakhral Umam, Syukran ‘ala dzil qiyam”. Wahai Sultan Yang kami hormati, terima kasih kepada dia yang memerintah. Saya suka bagian lirik ini karena saya begitu mendambakan negeri di mana rakyat betul-betul berterimakasih kepada pemimpinnya karena mereka hidup senang dan makmur di bawah kepemimpinan Sang Pemimpin. Sang Pemimpin betul-betul berwibawa dan dipercaya rakyatnya. Rakyat Bersatu di bawah pimpinannya. Rakyat betul-betul bergembira dengan kepemimpinannya. Seperti Nabi Muhammad yang ditangisi kepergiannya, atau Umar Bin Abdul Aziz yang diangkat secara aklamasi oleh umat menjadi khalifah, atau mungkin tokoh legenda Raja Arthur yang dicintai rakyatnya.
Sayangnya di Indonesia ini saya belum mendapatkan tokoh yang seperti itu. Tapi bisa saja kita tidak memiliki pemimpin yang kita cintai karena antara rakyat dan pemimpinnya telah terbentuk rasa saling tidak percaya. Seperti dilagukan dalam lagu ini, “liannana amanatun fi yadi man qad hakam,” Karena kita percaya kepada orang yang memerintah…. Mungkin antara rakyat dan pempimin perlu dibangun kepercayaan sehingga rakyat percaya pemimpinnya bekerja dengan amanah dan pemimpin juga percaya bahwa dia tidak perlu mengemis-ngemis kebahagiaan kepada harta (korupsi, kolusi, memeras uang rakyat, dll), tetapi cukup dengan rakyatnya (setelah bergantung kepada Alloh) ia akan hidup tenang hingga kematiannya.
Mungkin orang yang pada dasarnya curigaan dengan orang lain akan mengatakan bahwa lagu ini pesanan pemerintah, dibayar pemerintah, jadi menjilat-jilat pada pemerintah. Yah silahkanlah, toh human judgement always relative (Laming). Yang jelas saya suka lagu ini dan berharap suatu saat rakyat Indonesia dapat dengan terharu menyanyikan lagu “minal ‘aidin wal faizin, maafkan lahir dan batin, selamat pada pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”, saat Indonesia mencapai kesejahteraan psikologis dan sosial yang lebih dari yang dicapai Sarjah sekarang.

Satu lagi yang saya suka dari Bukhatir adalah kita bisa mendownload lagu-lagunya secara halal (bukan bajakan) dari websitenya. Jadi, jika ingin lebih mengetahui tentang Bukhatir atau ingin mengunduh lagu-lagunya dan bahkan video-videonya bisa melalui websitenya di sini.

8 thoughts on “Ahmed Bukhatir

  1. ikhwan muslim

    kalau ane baru2 ini mengenal ahmed bukhatir dari sobat facebook, dia seorang mualaf dan sering berbagi you tube video2’y ahmed bukhatir, saya penasaran dengan penyanyi tersebut lalu saya buka situs yang menyediakan mp3nya.
    Awalnya saya merasa sedikit kurang nyaman dengan nyanyian tanpa music lama2 setelah saya sering mendengarkan ternyata bagus juga lagunya dan menyentuh hati. Oia sobat2 bisa mendapatkan video/mp3’nya di http://tubidy.mobi walaupun tdk ada semua tapi lumayan.

    Suka

    • cahyosetiadi

      memang awal terkadang agak aneh karena kita lebih sering mendengar lagu dengan musik. Oia, kalau untuk mengunduh lagu atau video Ahmed Bukhatir, bisa langsung di situs officialnya, karena setahu saya kita bisa mendonlot gratis di sana…, di http://www.bukhatir.org/

      Suka

  2. obie

    kebetulan saya lagi suka dengerin lagu2 ahmed bukhatir skrang.
    kaget juga pas liat picnya di atas, baru tau ternyata masih muda. selama ini sy kira sosok beliau seperti yusuf islam…>.<

    Suka

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s