Kim Yusin

Standar

Kim Yushin adalah anak dari Jenderal Kim Seohyeon dan Lady Manmyeong yang merupakan puteri dari Raja Jinheung . Disebutkan pula kakeknya adalah Perdana Menteri Muruok. Juga dikatakan bahwa ia adalah keturunan dari Raja Guhae, Pempimpin terakhir Geumgwan Gaya. Hal ini menunjukkan darah bangsawan yang kuat dalam diri Yusin. Ia dilahirkan di Gyeyang, Propinsi Jincheon pada tahun 595.
Kim Yusin berusia 15 tahun saat menjadi Hwarang, saat berusia 18 tahun ia menjadi ahli pedang dan menjadi seorang komandan (gukseon). Pada usia 34 tahun ia mendapat kepercayaan untuk menjadi pemimpin pasukan Silla.
Yusin dikenal sebagai jenderal yang memimpin penyatuan semenanjung Korea. Walaupun sebenarnya Silla memiliki banyak jenderal, tetapi Yusin adalah yang paling terkenal dalam perang itu. Ia adalah orang yang paling berpengaruh di Semenanjung Korea dan pemakamannyapun layaknya seorang raja. Samguk Sagi menceritakan riwayat Kim Yusin ini dalam tiga volume, lebih panjang dari cerita tentang persona-persona lainnya. Ini menunjukkan kebesaran namanya dalam sejarah Korea.
Ia awalnya menjadi pimpinan pasukan Yonghwa-Hyangdo “Band of the Dragon Flower Tree” (= the Nagavrksa tree). Tekadnya untuk mempersatukan semenanjung Korea telah terlihat sejak usia muda. Pada tahun 611 M, saat ia berusia 17, ia tahun melihat pasukan Mongol, Goeryo, dan Baekje yang hendak menguasai Silla. Ini membuatnya marah dan terguncang. Kemudian ia menyepi di sebuah gua di Gunung Chung’ak (Pu’ak). Gua tersebut diperkirakan adalah Kuil Gua Sinsón yang berada di Gunung Tansók di Sómyón, Propinsi Wólsóng
Setelah melakukan puasa, ia kemudian bersumpah kepada surga/langit untuk mensejahterakan negerinya. Yusin berdiam di gua itu selama empat hari. Kemudian ia bertemu seorang tua yang bernama Nansung. Konon Nansung adalah seorang yang waskita. Nansung kemudian memberikan petunjuknya kepada Yusin bagaimana cara untuk mewujudkan sumpahnya. Setelah memberikan pentunjuknya, Nansung mewanti-wanti Yusin untuk tidak menyalahgunakan petunjuknya. Nansung kemudian menghilang.
Pada tahun 612, Yusin kembali menyendiri di sebuah gua di Gunung Inbak. Ia membawa pedangnya dan memohon pedangnya agar Surga memberkati pedang tersebut. Pada malam hari ketiga, sinar dari bintang di langit menyinari pedangnya hingga pedang tersebut bergetar hebat.
Dalam Samguk Yusa diceritakan bahwa Yusin sangat fokus dalam usahanya untuk menyatukan Tiga Kerajaan. Mata-mata Goeryo yang menyusup di Silla mengetahui potensi bahaya Yusin ini bagi negeranya. Mata-mata tersebut memutuskan untuk menghabisinya. Yusin hampir terjebak namun kemudian ia diselamatkan oleh tiga orang gadis yang ternyata adalah tiga orang dewi.
Pada tahun 629 M terjadi pertempuran Silla melawan Kogoeryo. Yusin saat itu bertempur di bawah pimpinan ayahnya Kim Sóhyún. Silla melakukan pertempuran untuk menaklukkan Benteng Nangbi. Namun banyaknya korban membuat lunturnya semangat juang para pasukan. Yusin yang saat itu telah menjadi komandan pasukan kecil segera bergegas mengenakan baju zirahnya dan memacu kudanya menuju musuh. Ia kemudian berhasil membunuh jenderal musuh. Pasukan Silla yang melihat ini kemudian memanfaatkan keadaan ini dan melakukan serangan habis-habisan. Musuh akhirnya menyerah.
Pada tahun 645 M, Yusin menjadi pimpinan pasukan Silla dan memperoleh kemenangan besar dalam pertempuran melawan Baekje. Dalam perjalanan pulangnya ia mendengar bahwa pasukan Baekje lainnya tengah dalam perjalanan menyerang. Yusin segera memacu kudanya menghadapi musuh tanpa sempat kembali ke rumah. Setelah berhasil mengalahkan pasukan Baekje tersebut ia menuju istana untuk melaporkan keadaan pertempuran. Namun lagi-lagi ia mendapat kabar bahwa pasukan Baekje yang lainnya siap menyerang. Tanpa pulang ke rumah dahulu ia segera memacu kudanya lagi untuk mempersiapkan pasukan menghadapi musuh.
Saat pasukan Yusin menuju medan pertempuran, mereka melewati rumah Yusin. Anak, siteri, dan pelayannya menungguinya di depan rumah. Yusin berlalu tanpa menoleh. Setelah 50 langkah ia berhenti dan memerintahkan seorang tentaranya untuk mengambil air dari sumur rumahnya. Saat meminum air sumur tersebut, Yusin berkata, “Rasa air rumahku masih seperti yang dulu.”. Melihat jenderalnya yang demikian, pasukan Yusin menjadi bersemangat dan tidak kecewa karena harus berpisah dengan kesenangan dalam rangka mempertahankan negara.
Saat mereka berhadapan dengan pasukan Baekje, pasukan Baekje tidak yakin dapat memenangkan pertempuran dan mereka memutuskan mundur. Ratu yang mendengar hal ini menjadi gembira dan memberikan penghargaan kepada Yusin.
Selain legenda-legenda tersebut, juga terdapat legenda lain dari Tokoh Yusin ini. Ssatu cerita menyebutkan bahwa dalam suatu peperangan melawan pemberontak, mental pasukannya pernah jatuh akibat terjadinya peristiwa bintang jatuh. Dengan cerdiknya, Yusin mengangkat kembali bintang itu ke langit dengan tipuan laying-layang.
Kisah lain menyebutkan bahwa dalam suatu perjalanan pasukan Yusin menghadapi udara yang sangat dingin. Para tentara merasa sangat kedinginan. Yusin justru melepaskan baju zirahnya dan membiarkan tubuhnya tidak memakai baju. Melihat hal ini, tentaranya menjadi segan untuk mengeluhkan udara dingin tersebut.
Terdapat juga beberapa kisah antara Yusin dan Su Ting-fang, Jenderal Tang. Diceritakan suatu saat persiapan pertempuran aliansi Tang dan Silla sudah akan selesai. Tiba-tiba terdapat burung yang terbang di atas kepala Su Ting-fang. Peramal menterjemahkan hal tersebut sebagai pertanda buruk. Namun Yusin tidak percaya akan itu. Katanya, “burung kecil tidak akan mengacaukan rencana kita yang sempurna ini”, kemudian pasukan tetap diterjunkan.
Yusin memiliki kaitan yang kuat dengan keluarga kerajaan. Adiknya menjadi isteri sahabatnya yang nantinya juga akan menjadi raja, Kim Chuncu. Kim Chuncu nantinya akan menjadi raja dengan gelar Raja Muryol/Munyol pada tahun 654 M. Pada masanyalah usaha penyatuan semenanjung Korea mulai terwujud. Ia dan Kim Yusin merupakan tokoh utama penyatuan tersebut.
Pada tahun 642 Baekje menduduki beberapa wilayah Silla. Chuncu sangat marah dan berencana meminta bantuan pasukan ke Kogoeryo. Chuncu ternyata ditahan di Kogoeryo. Yusin yang mendengar hal ini segera mengumpulkan 3000 orang yang siap berjuag mati-matian bersamanya walaupun mereka dikirim ke medan pertempuran yang mereka sama sekali tidak berpeluang menang. Raja Kogoeryo yang mengetahui ini melalui mata-matanya segera membebaskan Chuncu sebelum Ratu Silla memberikan perintah pengiriman pasukan.
Mengenai Chuncu ini manuskrip sejarah Jepang Nihongi mendeskripsikannya sebagai orang yang tampan, yang berbicara dan tersenyum dengan sopan (talked and smiled agreeably). Pada tahun 647, disebutkan Chuncu telah menjadi Menteri Utama (Superior Minster, Perdana Menteri).
Pada musim panas bulan keenam di tahun 660 M, dimulai serangan besar-besaran terhadap Baekje. Dalam pasukan ini terdapat juga Raja Munyol dan Pangeran Pommin. Dalam peperangan ini Silla dibantu pasukan Tang yang dipimpin oleh Jenderal Su Ting-fang. Tentara Silla dan tentara Tang menyerang Ibukota Baekje, Sabi, dari arah yang berlawanan. Kemudian terjadilah pertempuran yang sangat terkenal dalam sejarah Korea, Hwangsanbeol. Dan dalam pertempuran ini Silla dengan sekutunya berhasil menang.
Pada tahun 668 M, Kaisar Tang menugaskan Ying Li untuk memimpin serangan terhadap Kogoeryo. Tang meminta bantuan sekutunya Silla. Untuk membantu Tang, Raja mengutus Humsun dan Inmun yang masih bertalian darah dengan Yusin untuk memimpin pasukan. Dalam Samguk Yusa disebutkan bahwa pada tahun 668 tersebutlah Kogoeryo jatuh, namun Tang berusaha untuk menempatkan pengaruhnya di tanah Korea bekas kerajaan Kogoeryo. Akhirnya pada tahun 676, di masa Raja Munmu, Silla berhasil mengusir pasukan Tang dan menyatukan semenanjung.
Kemudian Raja Munmu memberi Yusin gelar Sink’ul-ibulch’ihan atau Perdana Menteri Yang Agung. Gelar tertinggi yang ada di Silla pada saat itu sebenarnya adalah Ibulch’ihan atau Perdana Menteri yang sebelumnya juga telah diperoleh Yusin dari Raja Munyol. Raja Munmu juga memberinya hak masuk dan keluar istana secara bebas, juga memberikan hadiah harta yang sangat berlimpah. Selain dua gelar tersebut, pada tahun Setelah kematiannyapun ia masih menerima gelar dari Raja Hungdok, yaitu Hungmu Taewang, atau “Raja Agung di Perperangan.”
Pada tahun 673, tahun ke 13 dari masa Raja Munmu, di musim panas di bulan ke-enam, banyak orang melihat orang-orang berpakaian zirah lengkap dengan senjata yang keluar dari rumah Yusin sambil menangis. Namun, tiba-tiba saja orang-orang tersebut raib entah ke mana. Yusin mengatakan bahwa mereka adalah penjaga rahasianya yang merasa bahwa ia akan mati sehingga mereka meninggalkannya. 10 hari kemudian ia sakit. Di hari pertama bulan ketujuh, Yusin menghembuskan nafas terakhirnya di usia 79 atau 78 tahun. Ia kemudian dimakamkan dengan upacara besar di Kúmsanwon, kaki Gunung Sohwa, dekat Gyongju.

(Tulisan ini merupakan rangkuman dari tulisan tentang Kim Yusin di Hwarangdo.com dan di Wikipedia. Gambar bersumber dari KCAF.or.kr)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s